Aṅguttara Nikāya

Buku Kelompok Satu

ii. Meninggalkan Rintangan-Rintangan

1.11

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya keinginan indria yang belum muncul menjadi muncul dan keinginan indria yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat selain daripada gambaran dari apa yang menarik. Bagi seorang yang mengamati secara tidak seksama pada gambaran dari apa yang menarik, maka keinginan indria yang belum muncul menjadi muncul dan keinginan indria yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat.”

1.12

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya niat buruk yang belum muncul menjadi muncul dan niat buruk yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat selain daripada gambaran dari apa yang menjijikkan. Bagi seorang yang mengamati secara tidak seksama pada gambaran dari apa yang menjijikkan, maka niat buruk yang belum muncul menjadi muncul dan niat buruk yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat.”

1.13

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya ketumpulan dan kantuk yang belum muncul menjadi muncul dan ketumpulan dan kantuk yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat selain daripada ketidak-puasan, kelesuan, kemalasan, kantuk setelah makan, dan kelambanan pikiran. Bagi seorang dengan pikiran yang lamban, maka ketumpulan dan kantuk yang belum muncul menjadi muncul dan ketumpulan dan kantuk yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat.”

1.14

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya kegelisahan dan penyesalan yang belum muncul menjadi muncul dan kegelisahan dan penyesalan yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat selain daripada pikiran yang kacau. Bagi seorang dengan pikiran yang kacau, maka kegelisahan dan penyesalan yang belum muncul menjadi muncul dan kegelisahan dan penyesalan yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat.”

1.15

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya keragu-raguan yang belum muncul menjadi muncul dan keragu-raguan yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat selain daripada pengamatan tidak seksama. Bagi seorang yang mengamati secara tidak seksama, maka keragu-raguan yang belum muncul menjadi muncul dan keragu-raguan yang telah muncul menjadi bertambah dan meningkat.”

1.16

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya keinginan indria yang belum muncul menjadi tidak muncul dan keinginan indria yang telah muncul menjadi ditinggalkan selain daripada gambaran dari apa yang tidak menarik. Bagi seorang yang mengamati secara seksama pada gambaran dari apa yang tidak menarik, maka keinginan indria yang belum muncul menjadi tidak muncul dan keinginan indria yang telah muncul menjadi ditinggalkan.”

1.17

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya niat buruk yang belum muncul menjadi tidak muncul dan niat buruk yang telah muncul menjadi ditinggalkan selain daripada kebebasan pikiran melalui cinta-kasih. Bagi seorang yang mengamati secara seksama pada kebebasan pikiran melalui cinta-kasih, maka niat buruk yang belum muncul menjadi tidak muncul dan niat buruk yang telah muncul menjadi ditinggalkan.”

1.18

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya ketumpulan dan kantuk yang belum muncul menjadi tidak muncul dan ketumpulan dan kantuk yang telah muncul menjadi ditinggalkan selain daripada elemen dorongan, elemen keuletan, elemen pengerahan. Bagi seorang yang telah membangkitkan kegigihan, maka ketumpulan dan kantuk yang belum muncul menjadi tidak muncul dan ketumpulan dan kantuk yang telah muncul menjadi ditinggalkan.”

1.19

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya kegelisahan dan penyesalan yang belum muncul menjadi tidak muncul dan kegelisahan dan penyesalan yang telah muncul menjadi ditinggalkan selain daripada penenteraman pikiran. Bagi seorang dengan pikiran yang tenteram, maka kegelisahan dan penyesalan yang belum muncul menjadi tidak muncul dan kegelisahan dan penyesalan yang telah muncul menjadi ditinggalkan.”

1.20

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang karenanya keragu-raguan yang belum muncul menjadi tidak muncul dan keragu-raguan yang telah muncul menjadi ditinggalkan selain daripada pengamatan seksama. Bagi seorang yang mengamati dengan seksama, maka keragu-raguan yang belum muncul menjadi tidak muncul dan keragu-raguan yang telah muncul menjadi ditinggalkan.”