Aṅguttara Nikāya

Buku Kelompok Satu

v. Tangkai

1.41

“Para bhikkhu, misalkan sebatang tangkai padi atau gandum yang arahnya terbalik ditekankan pada tangan atau kaki. Adalah tidak mungkin bahwa tangkai itu dapat menembus tangan atau kaki dan mengeluarkan darah. Karena alasan apakah? Karena tangkai itu terbalik. Demikian pula, adalah tidak mungkin bahwa seorang bhikkhu dengan pikiran yang salah arah dapat menembus ketidak-tahuan, membangkitkan pengetahuan sejati, dan merealisasi nibbāna. Karena alasan apakah? Karena pikiran itu salah arah.”

1.42

“Para bhikkhu, misalkan sebatang tangkai padi atau gandum yang diarahkan dengan benar ditekankan pada tangan atau kaki. Adalah mungkin bahwa tangkai itu dapat menembus tangan atau kaki dan mengeluarkan darah. Karena alasan apakah? Karena tangkai itu diarahkan dengan benar. Demikian pula, adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu dengan pikiran yang diarahkan dengan benar dapat menembus ketidak-tahuan, membangkitkan pengetahuan sejati, dan merealisasi nibbāna. Karena alasan apakah? Karena pikiran itu diarahkan dengan benar.”

1.43

“Di sini, para bhikkhu, setelah dengan pikiranKu melingkupi pikiran seseorang yang berpikiran rusak, Aku memahami bahwa jika orang ini mati pada saat ini, maka ia akan masuk ke neraka seolah-olah dibawa ke sana. Karena alasan apakah? Karena pikirannya rusak. Adalah karena kerusakan pikiran maka dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, beberapa makhluk di sini terlahir kembali di alam sengsara, di alam tujuan kelahiran yang buruk, di alam rendah, di neraka.”

1.44

“Di sini, para bhikkhu, setelah dengan pikiranKu melingkupi pikiran seseorang yang berpikiran tenang, Aku memahami bahwa jika orang ini mati pada saat ini, maka ia akan masuk ke surga seolah-olah dibawa ke sana. Karena alasan apakah? Karena pikirannya tenang. Adalah karena ketenangan pikiran maka dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, beberapa makhluk di sini terlahir kembali di alam tujuan kelahiran yang baik, di alam surga.”

1.45

“Para bhikkhu, misalkan terdapat sebuah kolam dengan air yang kotor, keruh, dan berlumpur. Kemudian seseorang yang berpenglihatan baik berdiri di tepinya tidak dapat melihat kerang-kerang, kerikil dan koral, dan kawanan ikan yang berenang kesana-kemari dan beristirahat. Karena alasan apakah? Karena air itu kotor. Demikian pula, adalah tidak mungkin bagi seorang bhikkhu dengan pikiran yang kotor dapat mengetahui kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, atau kebaikan keduanya, atau merealisasi keluhuran melampaui manusia dalam hal pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia. Karena alasan apakah? Karena pikirannya kotor.”

1.46

“Para bhikkhu, misalkan terdapat sebuah kolam dengan air yang bersih, tenang, dan jernih. Kemudian seseorang yang berpenglihatan baik berdiri di tepinya dapat melihat kerang-kerang, kerikil dan koral, dan kawanan ikan yang berenang kesana-kemari dan beristirahat. Karena alasan apakah? Karena air itu jernih. Demikian pula, adalah mungkin bagi seorang bhikkhu dengan pikiran yang jernih dapat mengetahui kebaikannya sendiri, kebaikan orang lain, dan kebaikan keduanya, dan merealisasi keluhuran melampaui manusia dalam hal pengetahuan dan penglihatan selayaknya para mulia. Karena alasan apakah? Karena pikirannya jernih.”

1.47

“Para bhikkhu, seperti halnya kayu cendana dinyatakan sebagai yang terbaik di antara pepohonan sehubungan dengan kelunakan dan kelenturannya, demikian pula Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang, ketika dikembangkan dan dilatih, dapat menjadi begitu lunak dan lentur selain daripada pikiran. Pikiran yang terkembang dan terlatih adalah lunak dan lentur.”

1.48

“Para bhikkhu, Aku tidak melihat bahkan satu hal pun yang begitu cepat berubah selain daripada pikiran. Tidaklah mudah memberikan perumpamaan untuk menggambarkan betapa cepatnya pikiran berubah.”

1.49

“Bercahaya, para bhikkhu, pikiran ini, tetapi dikotori oleh kekotoran dari luar.”

1.50

“Bercahaya, para bhikkhu, pikiran ini, dan terbebaskan dari kekotoran dari luar.”