Aṅguttara Nikāya

4.164. Sabar (1)

“Para bhikkhu, ada empat cara praktik ini. Apakah empat ini? Praktik yang tidak sabar, praktik yang sabar, praktik menjinakkan, dan praktik menenangkan.

(1) “Dan apakah, para bhikkhu, praktik yang tidak sabar? Di sini, seseorang menghina orang yang menghinanya, memarahi orang yang marah padanya, dan berdebat dengan orang yang mendebatnya. Ini disebut praktik yang tidak sabar.

(2) “Dan apakah praktik yang sabar? Di sini, seseorang tidak menghina orang yang menghinanya, tidak memarahi orang yang marah padanya, dan tidak berdebat dengan orang yang mendebatnya. Ini disebut praktik yang sabar.

(3) “Dan apakah praktik menjinakkan? Di sini, setelah melihat bentuk dengan mata, seorang bhikkhu tidak menggenggam tanda-tanda dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria mata tidak terkendali, maka kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat berupa kerinduan dan kesedihan dapat menyerangnya, ia berlatih mengendalikannya; ia menjaga indria mata, ia menjalankan pengendalian indria mata. Setelah mendengar suara dengan telinga … Setelah mencium bau-bauan dengan hidung … Setelah mengecap rasa kecapan dengan lidah … Setelah merasakan objek sentuhan dengan badan … Setelah mengenali fenomena pikiran dengan pikiran, seorang bhikkhu tidak menggenggam tanda-tanda dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria pikiran tidak terkendali, maka kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat berupa kerinduan dan kesedihan dapat menyerangnya, ia berlatih mengendalikannya; ia menjaga indria pikiran, ia menjalankan pengendalian indria pikiran. Ini disebut praktik menjinakkan.

(4) “Dan apakah praktik menenangkan? Di sini, seorang bhikkhu tidak membiarkan suatu pikiran indriawi yang muncul; ia meninggalkannya, menghalaunya, menenangkannya, menghentikannya, dan melenyapkannya. Ia tidak membiarkan suatu pikiran berniat buruk yang muncul … suatu pikiran mencelakai yang muncul … kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat kapan pun munculnya; ia meninggalkannya, menghalaunya, menenangkannya, menghentikannya, dan melenyapkannya. Ini disebut praktik menenangkan.

“Ini, para bhikkhu, adalah keempat cara praktik itu.”