Aṅguttara Nikāya

4.28. Silsilah Mulia

“Para bhikkhu, ada empat silsilah mulia ini, yang primitif, telah ada sejak lama, tradisional, kuno, tidak palsu dan belum pernah dipalsukan, yang tidak sedang dipalsukan dan tidak akan dipalsukan, yang tidak disangkal oleh para petapa dan brahmana bijaksana. Apakah empat ini?

(1) “Di sini, seorang bhikkhu puas dengan jenis jubah apa pun, dan memuji kepuasan atas jenis jubah apa pun, dan ia tidak terlibat dalam pencarian salah, dalam apa yang tidak selayaknya, demi mendapatkan jubah. Jika ia tidak mendapatkan jubah, ia tidak bergejolak, dan jika ia mendapatkan jubah, ia menggunakannya tanpa terikat pada jubah itu, tanpa tergila-gila pada jubah itu, dan tidak secara membuta terserap di dalam jubah itu, melihat bahaya di dalam jubah itu dan memahami jalan membebaskan diri dari jubah itu. Namun ia tidak memuji dirinya sendiri atau merendahkan orang lain karena hal ini. Bhikkhu mana pun yang terampil dalam hal ini, rajin, memahami dengan jernih dan senantiasa penuh perhatian, dikatakan berdiri dalam silsilah mulia yang kuno dan primitif.

(2) “Kemudian, seorang bhikkhu puas dengan jenis makanan apa pun, dan memuji kepuasan atas jenis makanan apa pun, dan ia tidak terlibat dalam pencarian salah, dalam apa yang tidak selayaknya, demi mendapatkan makanan. Jika ia tidak mendapatkan makanan, ia tidak bergejolak, dan jika ia mendapatkan makanan, ia menggunakannya tanpa terikat pada makanan itu, tanpa tergila-gila pada makanan itu, dan tidak secara membuta terserap di dalam makanan itu, melihat bahaya di dalam makanan itu dan memahami jalan membebaskan diri dari makanan itu. Namun ia tidak memuji dirinya sendiri atau merendahkan orang lain karena hal ini. Bhikkhu mana pun yang terampil dalam hal ini, rajin, memahami dengan jernih dan senantiasa penuh perhatian, dikatakan berdiri dalam silsilah mulia yang kuno dan primitif.

(3) “Kemudian, seorang bhikkhu puas dengan jenis tempat tinggal apa pun, dan memuji kepuasan atas jenis tempat tinggal apa pun, dan ia tidak terlibat dalam pencarian salah, dalam apa yang tidak selayaknya, demi mendapatkan tempat tinggal. Jika ia tidak mendapatkan tempat tinggal, ia tidak bergejolak, dan jika ia mendapatkan tempat tinggal, ia menggunakannya tanpa terikat pada tempat tinggal itu, tanpa tergila-gila pada tempat tinggal itu, dan tidak secara membuta terserap di dalam tempat tinggal itu, melihat bahaya di dalam tempat tinggal itu dan memahami jalan membebaskan diri dari tempat tinggal itu. Namun ia tidak memuji dirinya sendiri atau merendahkan orang lain karena hal ini. Bhikkhu mana pun yang terampil dalam hal ini, rajin, memahami dengan jernih dan senantiasa penuh perhatian, dikatakan berdiri dalam silsilah mulia yang kuno dan primitif.

(4) “Kemudian, seorang bhikkhu menemukan kesenangan dalam pengembangan, gembira dalam pengembangan, menemukan kesenangan dalam meninggalkan, gembira dalam meninggalkan. Namun ia tidak memuji dirinya sendiri atau merendahkan orang lain karena hal ini. Bhikkhu mana pun yang terampil dalam hal ini, rajin, memahami dengan jernih dan senantiasa penuh perhatian, dikatakan berdiri dalam silsilah mulia yang kuno dan primitif.

“Ini, para bhikkhu, adalah keempat silsilah mulia itu, yang primitif, telah ada sejak lama, tradisional, kuno, tidak palsu dan belum pernah dipalsukan, yang tidak sedang dipalsukan dan tidak akan dipalsukan, yang tidak disangkal oleh para petapa dan brahmana bijaksana.

“Para bhikkhu, ketika seorang bhikkhu memiliki empat silsilah mulia ini, jika ia berdiam di timur maka ia menaklukkan ketidakpuasan, ketidakpuasan tidak menaklukkannya; jika ia berdiam di barat maka ia menaklukkan ketidakpuasan, ketidakpuasan tidak menaklukkannya; jika ia berdiam di utara maka ia menaklukkan ketidakpuasan, ketidakpuasan tidak menaklukkannya; jika ia berdiam di selatan maka ia menaklukkan ketidakpuasan, ketidakpuasan tidak menaklukkannya. Karena alasan apakah? Karena ia adalah seorang yang teguh yang menaklukkan ketidakpuasan dan kesenangan.”

Ketidak-puasan tidak menaklukkan seorang yang teguh,
[karena] seorang yang teguh tidak ditaklukkan oleh ketidak-puasan.
Seorang yang teguh menaklukkan ketidak-puasan,
karena seorang yang teguh adalah penakluk ketidak-puasan.

Siapakah yang dapat menghalangi sang penghalau
yang telah membuang segala kamma?
Siapakah yang sepantasnya mencela seseorang yang seperti
keping uang dari emas murni?
Bahkan para deva memuji orang demikian;
Brahmā juga memujinya.