Aṅguttara Nikāya

4.37. Ketidak-munduran

“Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang memiliki empat kualitas tidak dapat mengalami kemunduran melainkan berada di dekat nibbāna. Apakah empat ini? Di sini, seorang bhikkhu sempurna dalam perilaku bermoral, menjaga pintu-pintu indria, makan secukupnya, dan menekuni keawasan.

(1) “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu sempurna dalam perilaku bermoral? Di sini, seorang bhikkhu bermoral; ia berdiam dengan terkendali oleh Pātimokkha, memiliki perilaku dan tempat kunjungan yang baik, melihat bahaya dalam pelanggaran-pelanggaran kecil. Setelah menerima aturan-aturan latihan, ia berlatih di dalamnya. Dengan cara inilah seorang bhikkhu sempurna dalam perilaku bermoral.

(2) “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu menjaga pintu-pintu indria? Di sini, setelah melihat bentuk dengan mata, seorang bhikkhu tidak menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria mata tidak terkendali, maka kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat berupa kerinduan dan kesedihan dapat menyerangnya, ia melatih pengendaliannya; ia menjaga indria mata, ia menjalankan pengendalian indria mata. Setelah mendengar suara dengan telinga … Setelah mencium bau-bauan dengan hidung … Setelah mengecap rasa kecapan dengan lidah … Setelah merasakan objek sentuhan dengan tubuh … Setelah mengenali fenomena pikiran dengan pikiran, seorang bhikkhu tidak menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria pikiran tidak terkendali, maka kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat berupa kerinduan dan kesedihan dapat menyerangnya, ia melatih pengendaliannya; ia menjaga indria pikiran, ia menjalankan pengendalian indria pikiran. Dengan cara inilah seorang bhikkhu menjaga pintu-pintu indria.

(3) “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu makan secukupnya? Di sini, dengan merefleksikan secara seksama, seorang bhikkhu memakan makanan bukan untuk kesenangan juga bukan untuk kemabukan juga bukan demi keindahan fisik dan kemenarikan, melainkan hanya untuk mendukung dan memelihara tubuh ini, untuk menghindari bahaya, dan untuk membantu kehidupan spiritual, dengan mempertimbangkan: ‘Dengan demikian aku akan mengakhiri perasaan lama dan tidak memunculkan perasaan baru, dan aku akan menjadi sehat dan tanpa cela dan berdiam dengan nyaman.’ Dengan cara inilah seorang bhikkhu makan secukupnya.

(4) “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu menekuni keawasan? Di sini, selama siang hari, sewaktu berjalan mondar-mandir dan duduk, seorang bhikkhu memurnikan pikirannya dari kualitas-kualitas yang merintangi. Pada jaga pertama malam hari, sewaktu berjalan mondar-mandir dan duduk, ia memurnikan pikirannya dari kualitas-kualitas yang merintangi. Pada jaga pertengahan malam hari ia berbaring di sisi kanan dalam postur singa, dengan satu kaki di atas kaki lainnya, penuh perhatian dan memahami dengan jernih, setelah mencatat dalam pikirannya waktu untuk terjaga. Setelah terjaga, pada jaga terakhir malam hari, sewaktu berjalan mondar-mandir dan duduk, ia memurnikan pikirannya dari kualitas-kualitas yang merintangi. Dengan cara inilah seorang bhikkhu menekuni keawasan.

“Seorang bhikkhu yang memiliki keempat kualitas ini tidak dapat mengalami kemunduran melainkan berada di dekat nibbāna.”

Kokoh dalam perilaku bermoral,
terkendali dalam organ-organ indria,
makan secukupnya,
menekuni keawasan:

seorang bhikkhu berdiam dengan tekun,
tanpa lelah siang dan malam,
mengembangkan kondisi-kondisi bermanfaat
untuk mencapai keamanan dari belenggu.

Seorang bhikkhu yang bersenang dalam kewaspadaan,
yang melihat bahaya dalam kelengahan,
tidak dapat mundur:
ia mendekati nibbāna.