Aṅguttara Nikāya

5.140. Seorang Yang Mendengarkan

“Para bhikkhu, dengan memiliki lima faktor seekor gajah jantan besar milik raja adalah layak menjadi milik seorang raja, perlengkapan seorang raja, dan dianggap sebagai satu faktor kerajaan. Apakah lima ini? Di sini, seekor gajah jantan besar milik raja adalah gajah yang mendengarkan, yang menghancurkan, yang menjaga, yang dengan sabar menahankan, dan yang bepergian.

(1) “Dan bagaimanakah, seekor gajah jantan besar milik raja adalah gajah yang mendengarkan? Di sini, tugas apapun yang diberikan oleh pelatih gajah kepadanya, apakah pernah dilakukan sebelumnya atau tidak, gajah jantan besar milik raja itu mendengarkannya, memperhatikannya, mengarahkan seluruh pikirannya, dan menyimaknya. Dengan cara inilah seekor gajah jantan besar milik raja adalah gajah yang mendengarkan.

(2) “Dan bagaimanakah, seekor gajah jantan besar milik raja adalah gajah yang menghancurkan? Di sini, ketika seekor gajah jantan besar milik raja telah memasuki suatu pertempuran, ia menghancurkan gajah-gajah dan para penunggang gajah, kuda-kuda dan para prajurit penunggang kuda, kereta-kereta dan para kusirnya, dan para prajurit pejalan kaki. Dengan cara inilah seekor gajah jantan besar milik raja adalah gajah yang menghancurkan.

(3) “Dan bagaimanakah, seekor gajah jantan besar milik raja adalah gajah yang menjaga? Di sini, ketika seekor gajah jantan besar milik raja telah memasuki suatu pertempuran, ia menjaga bagian depannya, bagian belakangnya, kaki depannya, kaki belakangnya, kepalanya, telinganya, gadingnya, belalainya, ekornya, dan penunggangnya. Dengan cara inilah seekor gajah jantan besar milik raja adalah gajah yang menjaga.

(4) “Dan bagaimanakah, seekor gajah jantan besar milik raja adalah gajah yang dengan sabar menahankan? Di sini, ketika seekor gajah jantan besar milik raja telah memasuki suatu pertempuran, ia dengan sabar menahankan tusukan oleh tombak, pedang, anak panah, dan kapak; ia menahankan gelegar tambur, genderang, kulit kerang, dan gendang. Dengan cara inilah seekor gajah jantan besar kerajaan adalah gajah yang dengan sabar menahankan.

(5) “Dan bagaimanakah, seekor gajah jantan besar milik raja adalah gajah yang bepergian? Di sini, seekor gajah jantan besar milik raja dengan cepat pergi ke wilayah mana pun yang sang pelatih mengirimnya, apakah pernah dikunjungi sebelumnya atau tidak. Dengan cara inilah seekor gajah jantan besar kerajaan adalah gajah yang bepergian.

“Dengan memiliki kelima faktor ini seekor gajah jantan besar milik raja adalah layak menjadi milik seorang raja, perlengkapan seorang raja, dan dianggap sebagai satu faktor kerajaan.

“Demikian pula, para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas seorang bhikkhu adalah layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, lahan jasa yang tiada taranya di dunia. Apakah lima ini? Di sini, seorang bhikkhu adalah seorang yang mendengarkan, yang menghancurkan, yang menjaga, yang dengan sabar menahankan, dan yang bepergian.

(1) “Dan bagaimanakah, seorang bhikkhu adalah seorang yang mendengarkan? Di sini, ketika Dhamma dan disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata sedang diajarkan, seorang bhikkhu mendengarkannya, memperhatikannya, mengarahkan seluruh pikirannya, dan menyimaknya. Dengan cara inilah seorang bhikkhu adalah seorang yang mendengarkan.

(2) “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu adalah seorang yang menghancurkan? Di sini, seorang bhikkhu tidak membiarkan suatu pikiran indriawi yang muncul, melainkan meninggalkannya, menghalaunya, menghentikannya, dan melenyapkannya. Ia tidak membiarkan suatu pikiran berniat buruk yang muncul … suatu pikiran mencelakai yang muncul … kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat apa pun yang muncul dari waktu ke waktu, melainkan meninggalkannya, menghalaunya, menghentikannya, dan melenyapkannya. Dengan cara inilah seorang bhikkhu adalah seorang yang menghancurkan.

(3) “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu adalah seorang yang menjaga? Di sini, setelah melihat suatu bentuk dengan mata, seorang bhikkhu tidak menggenggam tanda-tanda dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria mata tidak terkendali, maka kondisi-kondisi buruk yang tidak bermanfaat berupa kerinduan dan kesedihan akan dapat menyerangnya, ia berlatih mengendalikannya; ia menjaga indria mata, ia menjalankan pengendalian indria mata. Setelah mendengar suatu suara dengan telinga … Setelah mencium suatu bau dengan hidung … Setelah mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah … Setelah merasakan suatu objek sentuhan dengan badan … Setelah mengenali suatu fenomena pikiran dengan pikiran … ia menjaga indria pikiran, ia menjalankan pengendalian indria pikiran. Dengan cara inilah seorang bhikkhu adalah seorang yang menjaga.

(4) “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu adalah seorang yang dengan sabar menahankan? Di sini, seorang bhikkhu dengan sabar menahankan dingin dan panas; lapar dan haus; kontak dengan lalat, nyamuk, angin, panas matahari, dan ular-ular; ucapan-ucapan yang kasar dan menghina; ia mampu menahankan perasaan jasmani yang muncul yang menyakitkan, menyiksa, tajam, menusuk, mengerikan, tidak menyenangkan, melemahkan vitalitas seseorang. Dengan cara inilah seorang bhikkhu adalah seorang yang dengan sabar menahankan.

(5) “Dan bagaimanakah seorang bhikkhu adalah seorang yang bepergian? Di sini, seorang bhikkhu dengan cepat pergi ke wilayah di mana ia belum pernah mengunjunginya dalam waktu yang lama sebelumnya, yaitu, untuk menenangkan segala aktivitas, melepaskan segala perolehan, hancurnya ketagihan, kebosanan, lenyapnya, nibbāna. Dengan cara inilah seorang bhikkhu adalah seorang yang bepergian.

“Dengan memiliki kelima kualitas ini seorang bhikkhu adalah layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, lahan jasa yang tiada taranya di dunia.”