Aṅguttara Nikāya

5.178. Raja

(1) “Para bhikkhu, bagaimana menurut kalian? Pernahkah kalian melihat atau mendengar bahwa ketika seseorang meninggalkan atau menghindari membunuh, raja-raja menangkapnya dengan tuduhan menghindari membunuh dan kemudian mengeksekusinya, memenjarakannya, mengusirnya, atau melakukan apa pun padanya sesuai tuntutan situasi?”

“Tidak pernah, Bhante.”

“Bagus, para bhikkhu! Aku juga tidak pernah melihat atau mendengar hal demikian. Melainkan adalah ketika mereka memberitahu raja-raja akan perbuatan jahatnya, dengan mengatakan: ‘Orang ini telah membunuh seorang perempuan atau laki-laki,’ maka raja-raja menangkap orang itu dengan tuduhan membunuh dan kemudian mengeksekusinya, memenjarakannya, mengusirnya, atau melakukan apa pun padanya sesuai tuntutan situasi. Pernahkah kalian melihat atau mendengar kasus demikian?”

“Kami pernah melihatnya, Bhante, dan kami pernah mendengarnya, dan kami akan mendengarnya [pada masa mendatang].”

(2) “Para bhikkhu, bagaimana menurut kalian? Pernahkah kalian melihat atau mendengar bahwa ketika seseorang meninggalkan atau menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, raja-raja menangkapnya dengan tuduhan menghindari perbuatan demikian dan kemudian mengeksekusinya, memenjarakannya, mengusirnya, atau melakukan apa pun padanya sesuai tuntutan situasi?”

“Tidak pernah, Bhante.”

“Bagus, para bhikkhu! Aku juga tidak pernah melihat atau mendengar hal demikian. Melainkan adalah ketika mereka memberitahu raja-raja akan perbuatan jahatnya, dengan mengatakan: ‘Orang ini telah mencuri sesuatu dari suatu desa atau hutan,’ maka raja-raja menangkap orang itu dengan tuduhan mencuri dan kemudian mengeksekusinya, memenjarakannya, mengusirnya, atau melakukan apa pun padanya sesuai tuntutan situasi. Pernahkah kalian melihat atau mendengar kasus demikian?”

“Kami pernah melihatnya, Bhante, dan kami pernah mendengarnya, dan kami akan mendengarnya [pada masa mendatang].”

(3) “Para bhikkhu, bagaimana menurut kalian? Pernahkah kalian melihat atau mendengar bahwa ketika seseorang meninggalkan atau menghindari melakukan hubungan seksual yang salah, raja-raja menangkapnya dengan tuduhan menghindari perbuatan demikian dan kemudian mengeksekusinya, memenjarakannya, mengusirnya, atau melakukan apa pun padanya sesuai tuntutan situasi?”

“Tidak pernah, Bhante.”

“Bagus, para bhikkhu! Aku juga tidak pernah melihat atau mendengar hal demikian. Melainkan adalah ketika mereka memberitahu raja-raja akan perbuatan jahatnya, dengan mengatakan: ‘Orang ini telah melakukan perbuatan salah dengan perempuan-perempuan atau gadis-gadis milik orang lain,’ maka raja-raja menangkap orang itu dengan tuduhan melakukan hubungan seksual yang salah dan kemudian mengeksekusinya, memenjarakannya, mengusirnya, atau melakukan apa pun padanya sesuai tuntutan situasi. Pernahkah kalian melihat atau mendengar kasus demikian?”

“Kami pernah melihatnya, Bhante, dan kami pernah mendengarnya, dan kami akan mendengarnya [pada masa mendatang].”

(4) “Para bhikkhu, bagaimana menurut kalian? Pernahkah kalian melihat atau mendengar bahwa ketika seseorang meninggalkan atau menghindari berbohong, raja-raja menangkapnya dengan tuduhan menghindari perbuatan demikian dan kemudian mengeksekusinya, memenjarakannya, mengusirnya, atau melakukan apa pun padanya sesuai tuntutan situasi?”

“Tidak pernah, Bhante.”

“Bagus, para bhikkhu! Aku juga tidak pernah melihat atau mendengar hal demikian. Melainkan adalah ketika mereka memberitahu raja-raja akan perbuatan jahatnya, dengan mengatakan: ‘Orang ini telah merusak seorang perumah tangga atau seorang putra perumah tangga dengan kebohongan,’ maka raja-raja menangkap orang itu dengan tuduhan melakukan kebohongan dan kemudian mengeksekusinya, memenjarakannya, mengusirnya, atau melakukan apa pun padanya sesuai tuntutan situasi. Pernahkah kalian melihat atau mendengar kasus demikian?”

“Kami pernah melihatnya, Bhante, dan kami pernah mendengarnya, dan kami akan mendengarnya [pada masa mendatang].”

(5) “Para bhikkhu, bagaimana menurut kalian? Pernahkah kalian melihat atau mendengar bahwa ketika seseorang meninggalkan atau menghindari meminum minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan bagi kelengahan, raja-raja menangkapnya dengan tuduhan menghindari perbuatan demikian dan kemudian mengeksekusinya, memenjarakannya, mengusirnya, atau melakukan apa pun padanya sesuai tuntutan situasi?”

“Tidak pernah, Bhante.”

“Bagus, para bhikkhu! Aku juga tidak pernah melihat atau mendengar hal demikian. Melainkan adalah ketika mereka memberitahu raja-raja akan perbuatan jahatnya, dengan mengatakan: ‘Orang ini, dibawah pengaruh minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan, telah membunuh seorang perempuan atau laki-laki; atau ia telah mencuri sesuatu dari sebuah desa atau hutan; atau ia telah melakukan perbuatan salah dengan perempuan-perempuan atau gadis-gadis milik orang lain; atau ia telah melakukan perbuatan salah dengan perempuan-perempuan atau gadis-gadis milik orang lain; atau ia telah merusak seorang perumah tangga atau seorang putra perumah tangga dengan kebohongan,’ maka raja-raja menangkap orang itu dengan tuduhan meminum minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan bagi kelengahan, dan kemudian mengeksekusinya, memenjarakannya, mengusirnya, atau melakukan apa pun padanya sesuai tuntutan situasi. Pernahkah kalian melihat atau mendengar kasus demikian?”

“Kami pernah melihatnya, Bhante, dan kami pernah mendengarnya, dan kami akan mendengarnya [pada masa mendatang].”