Aṅguttara Nikāya

5.200. Jalan Membebaskan Diri

“Para bhikkhu, ada lima elemen jalan membebaskan diri ini. Apakah lima ini?

(1) “Di sini, ketika seorang bhikkhu sedang memperhatikan kenikmatan indria, pikirannya tidak meluncur ke sana, dan tidak menjadi tenang, tidak kokoh, dan tidak terpusat padanya. Tetapi ketika ia memperhatikan pelepasan keduniawian, pikirannya meluncur ke sana dan menjadi tenang, kokoh, dan terpusat padanya. Pikirannya menjauh dengan baik, terkembang dengan baik, keluar dengan baik, terbebaskan dengan baik, dan terlepas dengan baik dari kenikmatan indria. Dan ia terbebas dari noda-noda, kesengsaraan dan demam itu, yang muncul dengan kenikmatan indria sebagai kondisi. Ia tidak merasakan perasaan itu. Ini dinyatakan sebagai jalan membebaskan diri dari kenikmatan indria.

(2) “Kemudian, ketika seorang bhikkhu sedang memperhatikan niat buruk, pikirannya tidak meluncur ke sana, dan tidak menjadi tenang, tidak kokoh, dan tidak terpusat padanya. Tetapi ketika ia memperhatikan niat baik, pikirannya meluncur ke sana dan menjadi tenang, kokoh, dan terpusat padanya. Pikirannya menjauh dengan baik, terkembang dengan baik, keluar dengan baik, terbebaskan dengan baik, dan terlepas dengan baik dari niat buruk. Dan ia terbebas dari noda-noda, kesengsaraan dan demam itu, yang muncul dengan niat buruk sebagai kondisi. Ia tidak merasakan perasaan itu. Ini dinyatakan sebagai jalan membebaskan diri dari niat buruk.

(3) “Kemudian, ketika seorang bhikkhu sedang memperhatikan mencelakai, pikirannya tidak meluncur ke sana dan tidak menjadi tenang, tidak kokoh, dan tidak terpusat padanya. Tetapi ketika ia memperhatikan tidak-mencelakai, pikirannya meluncur ke sana dan menjadi tenang, kokoh, dan terpusat padanya. Pikirannya menjauh dengan baik, terkembang dengan baik, keluar dengan baik, terbebaskan dengan baik, dan terlepas dengan baik dari mencelakai. Dan ia terbebas dari noda-noda, kesengsaraan dan demam itu, yang muncul dengan mencelakai sebagai kondisi. Ia tidak merasakan perasaan itu. Ini dinyatakan sebagai jalan membebaskan diri dari mencelakai.

(4) “Kemudian, ketika seorang bhikkhu sedang memperhatikan bentuk, pikirannya tidak meluncur ke sana dan tidak menjadi tenang, tidak kokoh, dan tidak terpusat padanya. Tetapi ketika ia memperhatikan tanpa-bentuk, pikirannya meluncur ke sana dan menjadi tenang, kokoh, dan terpusat padanya. Pikirannya menjauh dengan baik, terkembang dengan baik, keluar dengan baik, dan terlepas dengan baik dari bentuk. Dan ia terbebas dari noda-noda, kesengsaraan dan demam itu, yang muncul dengan bentuk sebagai kondisi. Ia tidak merasakan perasaan itu. Ini dinyatakan sebagai jalan membebaskan diri dari bentuk.

(5) “Kemudian, ketika seorang bhikkhu sedang memperhatikan eksistensi-diri, pikirannya tidak meluncur ke sana dan tidak menjadi tenang, tidak kokoh, dan tidak terpusat padanya. Tetapi ketika ia memperhatikan lenyapnya eksistensi-diri, pikirannya meluncur ke sana dan menjadi tenang, kokoh, dan terpusat padanya. Pikirannya menjauh dengan baik, terkembang dengan baik, keluar dengan baik, terbebaskan dengan baik, dan terlepas dengan baik dari eksistensi-diri. Dan ia terbebas dari noda-noda, kesengsaraan dan demam itu, yang muncul dengan eksistensi-diri sebagai kondisi. Ia tidak merasakan perasaan itu. Ini dinyatakan sebagai jalan membebaskan diri dari eksistensi-diri.

“Kesenangan dalam kenikmatan indria tidak ada padanya; kesenangan dalam niat buruk tidak ada padanya; kesenangan dalam mencelakai tidak ada padanya; kesenangan dalam bentuk tidak ada padanya; kesenangan dalam eksistensi-diri tidak ada padanya. Karena ia tanpa kecenderungan tersembunyi pada kesenangan dalam kenikmatan indria, kesenangan dalam niat buruk, kesenangan dalam mencelakai, kesenangan dalam bentuk, dan kesenangan dalam eksistensi-diri, maka ia disebut seorang bhikkhu yang hampa dari kecenderungan tersembunyi. Ia telah memotong ketagihan, melepaskan belenggu, dan dengan sepenuhnya menerobos keangkuhan, ia telah mengakhiri penderitaan. Ini, para bhikkhu, adalah kelima elemen jalan membebaskan diri itu.”


Aṅguttara Nikāya

5.Lima Puluh Ke Lima