Aṅguttara Nikāya

5.206. Ikatan

“Para bhikkhu, ada lima ikatan pikiran ini. Apakah lima ini?

(1) “Di sini, seorang bhikkhu tidak hampa dari nafsu pada kenikmatan indria, tidak hampa dari keinginan, cinta, dahaga, kegemaran, dan ketagihan padanya. Ketika seorang bhikkhu tidak hampa dari nafsu pada kenikmatan indria, tidak hampa dari keinginan, cinta, dahaga, kegemaran, dan ketagihan padanya, maka pikirannya tidak condong pada semangat, usaha, ketekunan, dan upaya. Karena pikirannya tidak condong pada semangat … dan upaya, ini adalah ikatan pikiran yang pertama.

(2) “Kemudian, seorang bhikkhu tidak hampa dari nafsu pada jasmani, tidak hampa dari keinginan, cinta, dahaga, kegemaran, dan ketagihan padanya. Ketika seorang bhikkhu tidak hampa dari nafsu pada jasmani, tidak hampa dari keinginan, cinta, dahaga, kegemaran, dan ketagihan padanya, maka pikirannya tidak condong pada semangat, usaha, ketekunan, dan upaya. Karena pikirannya tidak condong pada semangat … dan upaya, ini adalah ikatan pikiran yang ke dua.

(3) “Kemudian, seorang bhikkhu tidak hampa dari nafsu pada bentuk, tidak hampa dari keinginan, cinta, dahaga, kegemaran, dan ketagihan padanya. Ketika seorang bhikkhu tidak hampa dari nafsu pada bentuk, tidak hampa dari keinginan, cinta, dahaga, kegemaran, dan ketagihan padanya, maka pikirannya tidak condong pada semangat, usaha, ketekunan, dan upaya. Karena pikirannya tidak condong pada semangat … dan upaya, maka ini adalah ikatan pikiran yang ke tiga.

(4) “Kemudian, setelah makan sebanyak yang ia inginkan hingga perutnya penuh, seorang bhikkhu menyerah pada kenikmatan beristirahat, kenikmatan kelambanan, kenikmatan tidur. Ketika seorang bhikkhu … menyerah pada kenikmatan beristirahat, kenikmatan kelambanan, kenikmatan tidur, maka pikirannya tidak condong pada semangat, usaha, ketekunan, dan upaya. Karena pikirannya tidak condong pada semangat … dan upaya, ini adalah ikatan pikiran yang ke empat.

(5) “Kemudian, seorang bhikkhu menjalani kehidupan spiritual demi [kelahiran kembali dalam] kelompok deva tertentu, dengan berpikir: ‘Dengan perilaku bermoral, pelaksanaan, praktik keras, atau kehidupan spiritual ini aku akan menjadi salah satu deva atau salah satu [pengikut] para deva.’ Ketika ia menjalani kehidupan spiritual demi [kelahiran kembali dalam] kelompok deva tertentu … maka pikirannya tidak condong pada semangat, usaha, ketekunan, dan upaya. Karena pikirannya tidak condong pada semangat … dan upaya, ini adalah ikatan pikiran yang ke lima.

“Ini, para bhikkhu adalah kelima ikatan pikiran itu.”