Aṅguttara Nikāya

7.43. Landasan bagi [Makhluk] “Tanpa-Sepuluh” (2)

Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Kosambi di Taman Ghosita. Kemudian, pada pagi harinya, Yang Mulia Ānanda merapikan jubah, membawa mangkuk dan jubahnya, dan memasuki Kosambi untuk menerima dana makanan. Kemudian ia berpikir: “Masih terlalu pagi untuk berjalan menerima dana makanan di Kosambi. Biarlah aku pergi ke taman para pengembara sekte lain.”

Kemudian Yang Mulia Ānanda mendatangi taman para pengembara sekte lain … [seperti pada 7:42, dengan menggantikan Sāriputta menjadi Ānanda dan Sāvatthī menjadi Kosambi] … “Mungkinkah, Bhante, dalam Dhamma dan disiplin ini menggambarkan seorang bhikkhu sebagai ‘tanpa-sepuluh’ hanya dengan menghitung tahun-tahunnya?”

“Dalam Dhamma dan disiplin ini, Ānanda, tidaklah mungkin untuk menggambarkan seorang bhikkhu sebagai ‘tanpa-sepuluh’ hanya dengan menghitung tahun-tahunnya. Ada, Ānanda, tujuh landasan ini bagi [makhluk] ‘tanpa-sepuluh’ yang telah Kunyatakan setelah merealisasikannya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung. Apakah tujuh ini? Di sini, seorang bhikkhu memiliki (1) keyakinan, (2) rasa malu, (3) rasa takut; (4) ia terpelajar, (5) bersemangat, (6) penuh perhatian, dan (7) bijaksana. Ini adalah ketujuh landasan bagi [makhluk] ‘tanpa-sepuluh’ yang telah Kunyatakan setelah merealisasikannya untuk diriKu sendiri dengan pengetahuan langsung.

“Ānanda, jika seorang bhikkhu memiliki ketujuh landasan bagi [makhluk] ‘tanpa-sepuluh’ ini, maka, jika ia menjalani kehidupan spiritual yang lengkap dan murni selama dua belas tahun, maka ia layak disebut seorang bhikkhu ‘tanpa-sepuluh.’ Jika ia menjalani kehidupan spiritual yang lengkap dan murni selama dua puluh empat tahun, maka ia juga layak disebut seorang bhikkhu ‘tanpa-sepuluh.’ Jika ia menjalani kehidupan spiritual yang lengkap dan murni selama tiga puluh enam tahun, maka ia juga layak disebut seorang bhikkhu ‘tanpa-sepuluh.’ Jika ia menjalani kehidupan spiritual yang lengkap dan murni selama empat puluh delapan tahun, maka ia juga layak disebut seorang bhikkhu ‘tanpa-sepuluh.’”