Aṅguttara Nikāya

Buku ii. Bab Panjang

7.65. Rasa Malu

“Para bhikkhu, (1) ketika tidak ada rasa malu dan rasa takut, pada seorang yang tidak memiliki rasa malu dan rasa takut, maka (2) pengendalian organ-organ indria tidak memiliki penyebab terdekatnya. Ketika tidak ada pengendalian organ-organ indria, pada seorang yang tidak memiliki pengendalian organ-organ indria, maka (3) perilaku bermoral tidak memiliki penyebab terdekatnya. Ketika tidak ada perilaku bermoral, pada seorang yang tidak memiliki perilaku bermoral, maka (4) konsentrasi benar tidak memiliki penyebab terdekatnya. Ketika tidak ada konsentrasi benar, pada seorang yang tidak memiliki konsentrasi benar, maka (5) pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya tidak memiliki penyebab terdekatnya. Ketika tidak ada pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya, pada seorang yang tidak memiliki pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya, maka (6) kekecewaan dan kebosanan tidak memiliki penyebab terdekatnya. Ketika tidak ada kekecewaan dan kebosanan, pada seorang yang tidak memiliki kekecewaan dan kebosanan, maka (7) pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan tidak memiliki penyebab terdekatnya.

“Misalkan ada sebatang pohon yang tidak memiliki dahan-dahan dan dedaunan. Maka tunasnya tidak tumbuh sempurna; kulit kayunya, kayu lunaknya, dan inti kayunya juga tidak tumbuh sempurna. Demikian pula, ketika tidak ada rasa malu dan rasa takut, pada seorang yang tidak memiliki rasa malu dan rasa takut, maka pengendalian atas organ-organ indria tidak memiliki penyebab terdekatnya. Ketika tidak ada pengendalian atas organ-organ indria … maka pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan tidak memiliki penyebab terdekatnya.

“Para bhikkhu, (1) ketika ada rasa malu dan rasa takut, pada seorang yang memiliki rasa malu dan rasa takut, maka (2) pengendalian atas organ-organ indria memiliki penyebab terdekatnya. Ketika ada pengendalian organ-organ indria, pada seorang yang memiliki pengendalian organ-organ indria, maka (3) perilaku bermoral memiliki penyebab terdekatnya. Ketika ada perilaku bermoral, pada seorang yang memiliki perilaku bermoral, maka (4) konsentrasi benar memiliki penyebab terdekatnya. Ketika ada konsentrasi benar, pada seorang yang memiliki konsentrasi benar, maka (5) pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya memiliki penyebab terdekatnya. Ketika ada pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya, pada seorang yang memiliki pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya, maka (6) kekecewaan dan kebosanan memiliki penyebab terdekatnya. Ketika ada kekecewaan dan kebosanan, pada seorang yang memiliki kekecewaan dan kebosanan, maka (7) pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan memiliki penyebab terdekatnya.

“Misalkan ada sebatang pohon yang memiliki dahan-dahan dan dedaunan. Maka tunasnya tumbuh sempurna; kulit kayunya, kayu lunaknya, dan inti kayunya juga tumbuh sempurna. Demikian pula, ketika ada rasa malu dan rasa takut, pada seorang yang memiliki rasa malu dan rasa takut, maka pengendalian atas organ-organ indria memiliki penyebab terdekatnya. Ketika ada pengendalian atas organ-organ indria … maka pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan memiliki penyebab terdekatnya.”