Aṅguttara Nikāya

Buku v. Layak Menerima Pemberian

7.95. Merenungkan Ketidak-kekalan dalam Mata

“Para bhikkhu, ada tujuh orang ini yang layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, lahan jasa yang tiada taranya di dunia. Apakah tujuh ini?

(1) “Di sini, para bhikkhu, seseorang berdiam dengan merenungkan ketidak-kekalan dalam mata, mempersepsikan ketidak-kekalan, mengalami ketidak-kekalan, secara konstan, terus-menerus, dan tanpa terputus berfokus padanya dengan pikiran, memahaminya dengan kebijaksanaan. Dengan hancurnya noda-noda, ia telah merealisasikan untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya. Ini adalah orang jenis pertama yang layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, lahan jasa yang tiada taranya di dunia.

(2) “Kemudian, seseorang berdiam dengan merenungkan ketidak-kekalan dalam mata, mempersepsikan ketidak-kekalan, mengalami ketidak-kekalan, secara konstan, terus-menerus, dan tanpa terputus berfokus padanya dengan pikiran, memahaminya dengan kebijaksanaan. Baginya padamnya noda-noda dan berakhirnya kehidupan terjadi bersamaan. Ini adalah orang jenis ke dua yang layak menerima pemberian …

(3) “Kemudian, seseorang berdiam dengan merenungkan ketidak-kekalan dalam mata, mempersepsikan ketidak-kekalan, mengalami ketidak-kekalan, secara konstan, terus-menerus, dan tanpa terputus berfokus padanya dengan pikiran, memahaminya dengan kebijaksanaan. Dengan kehancuran sepenuhnya lima belenggu yang lebih rendah, ia menjadi seorang yang mencapai nibbāna pada masa antara. Ini adalah orang jenis ke tiga yang layak menerima pemberian …

(4) “Kemudian, seseorang berdiam dengan merenungkan ketidak-kekalan dalam mata, mempersepsikan ketidak-kekalan, mengalami ketidak-kekalan, secara konstan, terus-menerus, dan tanpa terputus berfokus padanya dengan pikiran, memahaminya dengan kebijaksanaan. Dengan kehancuran sepenuhnya lima belenggu yang lebih rendah, ia menjadi seorang yang mencapai nibbāna ketika mendarat. Ini adalah orang jenis ke empat yang layak menerima pemberian …

(5) “Kemudian, seseorang berdiam dengan merenungkan ketidak-kekalan dalam mata, mempersepsikan ketidak-kekalan, mengalami ketidak-kekalan, secara konstan, terus-menerus, dan tanpa terputus berfokus padanya dengan pikiran, memahaminya dengan kebijaksanaan. Dengan kehancuran sepenuhnya lima belenggu yang lebih rendah, ia menjadi seorang yang mencapai nibbāna tanpa berusaha. Ini adalah orang jenis ke lima yang layak menerima pemberian …

(6) “Kemudian, seseorang berdiam dengan merenungkan ketidak-kekalan dalam mata, mempersepsikan ketidak-kekalan, mengalami ketidak-kekalan, secara konstan, terus-menerus, dan tanpa terputus berfokus padanya dengan pikiran, memahaminya dengan kebijaksanaan. Dengan kehancuran sepenuhnya lima belenggu yang lebih rendah, ia menjadi seorang yang mencapai nibbāna dengan berusaha. Ini adalah orang jenis ke enam yang layak menerima pemberian …

(7) “Kemudian, seseorang berdiam dengan merenungkan ketidak-kekalan dalam mata, mempersepsikan ketidak-kekalan, mengalami ketidak-kekalan, secara konstan, terus-menerus, dan tanpa terputus berfokus padanya dengan pikiran, memahaminya dengan kebijaksanaan. Dengan kehancuran sepenuhnya lima belenggu yang lebih rendah, ia menjadi seorang yang mengarah ke atas, menuju alam Akaniṭṭha. Ini adalah orang jenis ke tujuh yang layak menerima pemberian …

“Ini, para bhikkhu, adalah ketujuh jenis orang itu yang layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, lahan jasa yang tiada taranya di dunia.”