Aṅguttara Nikāya

7.96–102. Merenungkan Penderitaan dalam Mata, dan seterusnya

“Para bhikkhu, ada tujuh orang ini yang layak menerima pemberian, layak menerima keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, lahan jasa yang tiada taranya di dunia. Apakah tujuh ini?

“Di sini, para bhikkhu, seseorang (96) berdiam dengan merenungkan penderitaan dalam mata … (97) … berdiam dengan merenungkan ketiadaan-diri dalam mata … (98) … berdiam dengan merenungkan hancurnya dalam mata … (99) … berdiam dengan merenungkan lenyapnya dalam mata … (100) … berdiam dengan merenungkan meluruhnya dalam mata … (101) … berdiam dengan merenungkan berhentinya dalam mata … (102) … berdiam dengan merenungkan pelepasan dalam mata …

7.103–614. Ketidakkekalan dalam Telinga, dan seterusnya

(103)–(190) “… Di sini seseorang berdiam dengan merenungkan ketidakkekalan dalam telinga … hidung … lidah … badan … pikiran … dalam bentuk-bentuk … suara-suara … bau-bauan … rasa-rasa kecapan … objek-objek sentuhan … fenomena-fenomena pikiran …

(191)–(238) “… dalam kesadaran-mata … kesadaran-telinga … kesadaran-hidung … kesadaran-lidah … kesadaran-badan … kesadaran-pikiran …

(239)–(286) “… dalam kontak-mata … kontak-telinga … kontak-hidung … kontak-lidah … kontak-badan … kontak-pikiran …

(287)–(334) “… dalam perasaan yang muncul dari kontak-mata … perasaan yang muncul dari kontak-telinga … perasaan yang muncul dari kontak-hidung … perasaan yang muncul dari kontak-lidah … perasaan yang muncul dari kontak-badan … perasaan yang muncul dari kontak-pikiran …

(335)–(382) “ … dalam persepsi bentuk-bentuk … persepsi suara-suara … persepsi bau-bauan … persepsi rasa-rasa kecapan … persepsi objek-objek sentuhan … persepsi fenomena-fenomena pikiran …

(383)–(430) “… dalam kehendak sehubungan dengan bentuk-bentuk … kehendak sehubungan dengan suara-suara … kehendak sehubungan dengan bau-bauan … kehendak sehubungan dengan rasa-rasa kecapan … kehendak sehubungan dengan objek-objek sentuhan … kehendak sehubungan dengan fenomena-fenomena pikiran …

(431)–(478) “… dalam ketagihan pada bentuk-bentuk … ketagihan pada suara-suara … ketagihan pada bau-bauan … ketagihan pada rasa-rasa kecapan … ketagihan pada objek-objek sentuhan … ketagihan pada fenomena-fenomena pikiran …

(479)–(526) “… dalam pemikiran tentang bentuk-bentuk … pemikiran tentang suara-suara … pemikiran tentang bau-bauan … pemikiran tentang rasa-rasa kecapan … pemikiran tentang objek-objek sentuhan … pemikiran tentang fenomena-fenomena pikiran …

(527)–(574) “… dalam pemeriksaan pada bentuk-bentuk … pemeriksaan pada suara-suara … pemeriksaan pada bau-bauan … pemeriksaan pada rasa-rasa kecapan … pemeriksaan pada objek-objek sentuhan … pemeriksaan pada fenomena-fenomena pikiran …

(575)–(614) “… Di sini seseorang berdiam dengan merenungkan ketidak-kekalan dalam kelompok bentuk … kelompok perasaan … kelompok persepsi … kelompok bentukan kehendak … kelompok kesadaran … berdiam dengan merenungkan penderitaan … berdiam dengan merenungkan ketiadaan-diri … berdiam dengan merenungkan lenyapnya … berdiam dengan merenungkan meluruhnya … berdiam dengan merenungkan berhentinya … berdiam dengan merenungkan pelepasan …”