Aṅguttara Nikāya

8.56. Bahaya

“Para bhikkhu, (1) ‘bahaya’ adalah sebutan untuk kenikmatan indria. (2) ‘Penderitaan’ adalah sebutan untuk kenikmatan indria. (3) ‘Penyakit’ adalah sebutan untuk kenikmatan indria. (4) ‘Bisul’ adalah sebutan untuk kenikmatan indria. (5) ‘Anak panah’ adalah sebutan untuk kenikmatan indria. (6) ‘Ikatan’ adalah sebutan untuk kenikmatan indria. (7) ‘Rawa’ adalah sebutan untuk kenikmatan indria. (8) ‘Rahim’ adalah sebutan untuk kenikmatan indria.

“Dan mengapakah, para bhikkhu ‘bahaya’ adalah sebutan untuk kenikmatan indria? Seseorang yang tergerak oleh nafsu indriawi, terikat oleh keinginan dan nafsu, tidak terbebas dari bahaya yang berhubungan dengan kehidupan ini atau dari bahaya yang berhubungan dengan kehidupan mendatang; oleh karena itu ‘bahaya’ adalah sebutan untuk kenikmatan indria.

“Dan mengapakah ‘penderitaan’ … ‘penyakit’ … ‘bisul’ … ‘anak panah’ … ‘ikatan’ … ‘rawa’ … ‘rahim’ adalah sebutan untuk kenikmatan indria? Seseorang yang tergerak oleh nafsu indriawi, terikat oleh keinginan dan nafsu, tidak terbebas dari rahim yang berhubungan dengan kehidupan ini atau dari rahim yang berhubungan dengan kehidupan mendatang; oleh karena itu ‘rahim’ adalah sebutan untuk kenikmatan indria.

Bahaya, penderitaan, dan penyakit,
bisul, anak panah, dan ikatan,
rawa dan rahim:
ini menggambarkan kenikmatan-kenikmatan indria.
yang padanya kaum duniawi terikat.
Karena terbenam dalam apa yang dinikmati
Ia sekali lagi pergi menuju rahim.

Tetapi ketika seorang bhikkhu tekun
dan tidak mengabaikan pemahaman jernih
dengan cara demikian ia melampaui
lumpur kesengsaraan ini;
ia mengamati populasi yang goyah ini
yang telah jatuh ke dalam kelahiran dan penuaan.