Aṅguttara Nikāya

9.37. Ānanda

Pada suatu ketika Yang Mulia Ānanda sedang menetap di Kosambi di Taman Ghosita. Di sana Yang Mulia Ānanda berkata kepada para bhikkhu: “Teman-teman, para bhikkhu!”

“Teman!” para bhikkhu itu menjawab. Yang Mulia Ānanda berkata sebagai berikut:

“Sungguh menakjubkan dan mengagumkan, teman-teman, bahwa Sang Bhagavā, Sang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna, yang mengetahui dan melihat, telah menemukan pencapaian sebuah bukaan di tengah-tengah kurungan: demi pemurnian makhluk-makhluk, demi mengatasi dukacita dan ratapan, demi lenyapnya kesakitan dan kesedihan, demi keberhasilan metode, demi merealisasikan nibbāna. (1) Mata itu sendiri serta bentuk-bentuk itu sebenarnya akan ada, namun seseorang tidak akan mengalami landasan itu. (2) Telinga itu sendiri serta suara-suara sebenarnya akan ada, namun seseorang tidak akan mengalami landasan itu. (3) Hidung itu sendiri serta bau-bauan sebenarnya akan ada, namun seseorang tidak akan mengalami landasan itu. (4) Lidah itu sendiri serta rasa-rasa kecapan sebenarnya akan ada, namun seseorang tidak akan mengalami landasan itu. (5) Badan itu sendiri serta objek-objek sentuhan sebenarnya akan ada, namun seseorang tidak akan mengalami landasan itu.”

Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Udāyī berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Apakah, teman Ānanda, ketika seseorang sebenarnya berpersepsi atau ketika seseorang tidak berpersepsi maka ia tidak mengalami landasan itu?”

“Adalah, teman, ketika seseorang sebenarnya berpersepsi maka ia tidak mengalami landasan itu, bukan ketika ia tidak berpersepsi.”

“Tetapi, teman, dengan cara bagaimanakah ketika seseorang yang berpersepsi tidak mengalami landasan itu?”

(6) “Di sini, teman, dengan sepenuhnya melampaui persepsi bentuk-bentuk, dengan lenyapnya persepsi kontak indria, dengan tanpa-perhatian pada persepsi keberagaman, [dengan menyadari] ‘ruang adalah tanpa batas,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan ruang tanpa batas. Ketika seseorang berpersepsi demikian maka ia tidak mengalami landasan itu.

(7) “Kemudian, teman, dengan sepenuhnya melampaui landasan ruang tanpa batas, [dengan menyadari] ‘kesadaran adalah tanpa batas,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan kesadaran tanpa batas. Ketika seseorang berpersepsi demikian maka ia tidak mengalami landasan itu.

(8) “Kemudian, teman, dengan sepenuhnya melampaui landasan kesadaran tanpa batas, [dengan menyadari] ‘tidak ada apa-apa,’ seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam landasan kekosongan. Ketika seseorang berpersepsi demikian maka ia tidak mengalami landasan itu.

“Suatu ketika, teman, aku sedang menetap di Sāketa di taman rusa Hutan Añjana. Kemudian Bhikkhunī Jaṭilagāhiya mendatangiku, bersujud kepadaku, berdiri di satu sisi, dan berkata: ‘Bhante Ānanda, konsentrasi itu yang tidak condong ke depan dan tidak condong ke belakang, dan yang tidak dikekang dan dilawan dengan menekan [kekotoran-kekotoran itu] secara paksa - dengan terbebaskan, maka konsentrasi itu menjadi kokoh; dengan menjadi kokoh, maka itu adalah kepuasan; dengan menjadi puas, maka seseorang tidak bergejolak. Bhante Ānanda, apakah yang dikatakan oleh Sang Bhagavā tentang buah dari konsentrasi ini?’

(9) “Ketika ia menanyakan ini kepadaku, aku menjawab: ‘Saudari, konsentrasi itu yang tidak condong ke depan dan tidak condong ke belakang, dan yang tidak dikekang dan dilawan dengan menekan [kekotoran-kekotoran itu] secara paksa - dengan terbebaskan, maka konsentrasi itu menjadi kokoh; dengan menjadi kokoh, maka itu adalah kepuasan; dengan menjadi puas, maka seseorang tidak bergejolak. Sang Bhagavā mengatakan konsentrasi ini memiliki pengetahuan akhir sebagai buahnya.’ Ketika seseorang berpersepsi demikian juga, teman, maka ia tidak mengalami landasan itu.”