Madhyamāgama

17. Kotbah kepada Gāmaṇi

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika, Sang Buddha sedang berdiam di Nālandā, di hutan mangga Pāvārika.

Pada waktu itu, [pertapa] Asita Devala memiliki seorang putra bernama Gāmaṇi, yang berkulit dan bertubuh agung, cerah dan bercahaya. Sesaat sebelum fajar [Gāmaṇi] mendekati tempat di mana Sang Buddha berada, memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha, dan berdiri pada satu sisi.

Gāmaṇi, putra Asita Devala, berkata:

“Sang Bhagavā, para brahmana dengan sombong menyatakan bahwa mereka melayani berbagai dewa, dan bahwa mereka dapat, sesuai kehendaknya, menyebabkan makhluk-makhluk mencapai alam kehidupan yang baik setelah kematian, agar terlahir kembali di alam surga. Sang Bhagavā adalah Raja Dharma. Semoga Sang Bhagavā menyebabkan orang-orang mencapai alam kehidupan yang baik setelah kematian, agar terlahir kembali di alam surga!”

Sang Bhagavā berkata:

“Sekarang, Gāmaṇi, aku akan bertanya kepadamu sesuatu. Jawablah sesuai dengan pemahamanmu. Apakah yang engkau pikirkan, Gāmaṇi? Jika di sebuah desa terdapat laki-laki dan perempuan yang malas dan lamban dan yang berperilaku dengan cara yang jahat, dengan melakukan sepuluh jalan perbuatan tidak bermanfaat—pembunuhan makhluk-makhluk hidup, pengambilan apa yang tidak diberikan, perilaku seksual yang salah, ucapan salah, … (dan seterusnya sampai dengan) pandangan salah—dan pada waktu kematian mereka banyak orang datang, dengan menyatukan telapak tangan mereka, memuji dan memohon, dengan berkata:

“Kalian laki-laki dan perempuan, yang telah malas dan lamban dan telah berperilaku dengan cara yang jahat, dengan melakukan sepuluh jalan perbuatan tidak bermanfaat—pembunuhan makhluk-makhluk hidup, pengambilan apa yang tidak diberikan, perilaku seksual yang salah, ucapan salah … (dan seterusnya sampai dengan) pandangan salah—karena hal ini, dikondisikan oleh hal ini, setelah hancurnya tubuh, pada saat kematian, kalian akan mencapai alam kehidupan yang baik, dan terlahir di alam surga.

“Gāmaṇi, laki-laki dan perempuan itu, yang malas dan lamban dan telah berperilaku dengan cara yang jahat, dengan melakukan sepuluh jalan perbuatan tidak bermanfaat—pembunuhan makhluk-makhluk hidup, pengambilan apa yang tidak diberikan, perilaku seksual yang salah, ucapan salah … (dan seterusnya sampai dengan) pandangan salah—ketika didorong [ketika menjelang kematian] oleh banyak orang itu yang datang, dengan menyatukan telapak tangan mereka, memuji dan memohon kepada mereka, apakah mereka karena hal ini, dikondisikan oleh hal ini, setelah hancurnya tubuh, pada saat kematian, akan mencapai alam kehidupan yang baik, dan terlahir kembali di alam surga?”

Gāmaṇi menjawab: “Tidak, Sang Bhagavā.”

Sang Bhagavā memujinya dengan berkata:

“Bagus sekali, Gāmaṇi! Mengapa demikian? Bahwa laki-laki dan perempuan itu yang malas dan lamban dan yang berperilaku dengan cara yang jahat, dengan melakukan sepuluh jalan perbuatan tidak bermanfaat—pembunuhan makhluk-makhluk hidup, pengambilan apa yang tidak diberikan, perilaku seksual yang salah, ucapan salah … (dan seterusnya sampai dengan) pandangan salah—ketika didekati [ketika menjelang kematian] oleh banyak orang, dengan menyatukan telapak tangan mereka, memuji dan memohon kepada mereka; bahwa karena hal ini, dikondisikan oleh hal ini, setelah hancurnya tubuh, pada saat kematian, mereka akan mencapai alam kehidupan yang baik, dan terlahir kembali di alam surga, ini tidak mungkin.

“Seumpamanya, Gāmaṇi, terdapat sebuah danau yang dalam yang penuh dengan air yang terletak tak jauh dari sebuah desa, dan seseorang melemparkan sebuah batu besar yang berat ke dalamnya. Jika banyak orang datang bersama-sama dan, dengan menyatukan telapak tangan mereka, memuji dan memohon, berkata: “Batu! Semoga engkau mengapung dan keluar!”—apakah yang engkau pikirkan, Gāmaṇi? Ketika didorong oleh banyak orang itu yang datang, dengan menyatukan telapak tangan mereka, memuji dan memohon, karena hal ini, dikondisikan hal ini, apakah batu besar yang berat itu akan keluar [dari dalam danau]?”

Gāmaṇi menjawab: “Tidak, Sang Bhagavā.”

Sang Buddha melanjutkan:

“Demikianlah, Gāmaṇi. Laki-laki dan perempuan itu yang malas dan lamban dan telah berperilaku dengan cara yang jahat, setelah melakukan sepuluh jalan perbuatan tidak bermanfaat—pembunuhan makhluk-makhluk hidup, pengambilan apa yang tidak diberikan, perilaku seksual yang salah, ucapan salah … (dan seterusnya sampai dengan) pandangan salah—ketika didekati [ketika menjelang kematian] oleh banyak orang, dengan menyatukan telapak tangan mereka, memuji dan memohon kepada mereka; bahwa karena hal ini, dikondisikan oleh hal ini, setelah hancurnya tubuh, pada saat kematian, mereka akan mencapai alam kehidupan yang baik, dan terlahir kembali di alam surga, ini tidak mungkin.

“Dan mengapa tidak? Sepuluh jalan perbuatan tidak bermanfaat ini adalah hitam dan memiliki akibat yang hitam; secara alamiah mereka cenderung menuju ke bawah, pasti membawa pada alam kehidupan yang buruk.

“Apakah yang engkau pikirkan, Gāmaṇi? Jika di sebuah desa terdapat laki-laki dan perempuan yang tekun dan bersemangat dan berlatih Dharma yang mulia, dengan melakukan sepuluh jalan perbuatan bermanfaat—mereka menghindari diri dari pembunuhan dan telah meninggalkan pembunuhan, … pengambilan apa yang tidak diberikan, … perilaku seksual yang salah, … ucapan salah, … (dan seterusnya sampai dengan) mereka menghindari diri dari pandangan salah dan telah meninggalkan pandangan salah, mereka telah memperoleh pandangan benar—dan pada waktu kematian mereka banyak orang datang, dengan menyatukan telapak tangan mereka, memuji dan memohon kepada mereka, dengan berkata:

“Kalian laki-laki dan perempuan tekun dan bersemangat dan telah berlatih Dharma yang mulia, dengan melakukan sepuluh jalan perbuatan bermanfaat—kalian menghindari diri dari pembunuhan dan telah meninggalkan pembunuhan, … pengambilan apa yang tidak diberikan, … perilaku seksual yang salah, … ucapan salah, … (dan seterusnya sampai dengan) kalian menghindari diri dari pandangan salah dan telah meninggalkan pandangan salah, telah memperoleh pandangan benar—dan karena hal ini, dikondisikan oleh hal ini, setelah hancurnya tubuh, pada saat kematian, kalian akan mencapai alam kehidupan yang buruk, terlahir kembali di neraka.

“Apakah yang engkau pikirkan, Gāmaṇi? Laki-laki dan perempuan yang tekun dan bersemangat dan telah berlatih Dharma yang mulia, dengan melakukan sepuluh jalan perbuatan bermanfaat—[yang] menghindari diri dari pembunuhan dan telah meninggalkan pembunuhan, … pengambilan apa yang tidak diberikan, … perilaku seksual yang salah, … ucapan salah, … (dan seterusnya sampai dengan) [yang] menghindari diri dari pandangan salah dan telah meninggalkan pandangan salah, telah memperoleh pandangan benar—ketika didorong oleh banyak orang yang datang, dengan menyatukan telapak tangan mereka, memuji dan memohon, apakah mereka karena hal ini, dikondisikan oleh hal ini, setelah hancurnya tubuh, pada saat kematian, akan mencapai alam kehidupan yang buruk, dan terlahir kembali di neraka?”

Gāmaṇi menjawab: “Tidak, Sang Bhagavā.”

Sang Bhagavā memujinya dengan berkata:

“Bagus sekali, Gāmaṇi. Mengapa? Gāmaṇi, laki-laki dan perempuan itu yang tekun dan bersemangat dan berlatih Dharma yang mulia, dengan melakukan sepuluh jalan perbuatan bermanfaat—mereka menghindari diri dari pembunuhan dan telah meninggalkan pembunuhan, … pengambilan apa yang tidak diberikan, … perilaku seksual yang salah, … ucapan salah, … (dan seterusnya sampai dengan) mereka menghindari diri dari pandangan salah dan meninggalkan pandangan salah, telah memperoleh pandangan benar—ketika didorong oleh banyak orang, dengan menyatukan telapak tangan mereka, memuji dan memohon; bahwa karena hal ini, dikondisikan oleh hal ini, setelah hancurnya tubuh, pada saat kematian, mereka akan mencapai alam kehidupan yang buruk, dan terlahir kembali di neraka; ini tidak mungkin.

“Mengapa demikian? Gāmaṇi, sepuluh jalan perbuatan bermanfaat ini adalah putih dan memiliki akibat yang putih, secara alamiah mereka naik, dengan pasti mencapai alam kehidupan yang baik.

“Gāmaṇi, seumpamanya terdapat sebuah danau yang dalam penuh dengan air terletak tak jauh dari sebuah desa, dan seseorang melemparkan ke dalam airnya sekendi penuh ghee dan minyak dan kemudian memecahkannya, sehingga pecahan kendi itu tenggelam ke bawah, sedangkan ghee dan minyak mengapung ke atas.

“Gāmaṇi, hal yang sama dengan laki-laki dan perempuan itu yang tekun dan bersemangat dan telah berlatih Dharma yang mulia, dengan melakukan sepuluh jalan perbuatan bermanfaat—mereka menghindari diri dari pembunuhan dan telah meninggalkan pembunuhan, … pengambilan apa yang tidak diberikan, … perilaku seksual yang salah, … ucapan salah, … (dan seterusnya sampai dengan) mereka menghindari diri dari pandangan salah dan meninggalkan pandangan salah, telah memperoleh pandangan benar –

“Pada waktu kematian mereka, tubuhnya, yang adalah materi kasar, yang tersusun dari empat unsur, terlahir dari ayah dan ibu, diberi makan dan dibesarkan bergantung pada makanan, dan [saat usia tua] menahan penderitaan [ketika] diduduki dan dibaringkan untuk dipijat dan dimandikan, bersifat menjadi hancur, bersifat melenyap, bersifat menjadi terurai. Setelah kematian, ia akan dipatuk oleh burung gagak, atau dimakan oleh macan dan serigala, atau dibakar, atau dikuburkan, dan akhirnya menjadi abu dan debu. [Namun demikian,] pikiran mereka, indera pikiran mereka, kesadaran mereka, setelah terus-menerus diliputi dengan keyakinan, ketekunan, banyak belajar, kedermawanan, dan kebijaksanaan, karena hal ini, dikondisikan oleh hal ini, secara alamiah mereka akan naik, untuk terlahir kembali di alam kehidupan yang baik.

“Gāmaṇi, mereka yang membunuh makhluk-makhluk hidup, jika mereka menghindari diri dari pembunuhan dan meninggalkan pembunuhan, maka mereka berada pada jalan peningkatan, jalan yang menaik dan maju, jalan menuju alam kehidupan yang baik. Gāmaṇi, mereka yang mengambil apa yang tidak diberikan… [yang terlibat dalam] perilaku seksual yang salah… ucapan salah… (dan seterusnya sampai dengan) mereka yang memiliki pandangan salah, jika mereka menghindari diri dari pandangan salah dan memperoleh pandangan benar, maka mereka berada pada jalan peningkatan, jalan yang menaik dan maju, jalan menuju alam kehidupan yang baik.

“Lebih lanjut, Gāmaṇi, terdapat jalan peningkatan yang lain, jalan yang menaik dan maju [lainnya], jalan menuju alam kehidupan yang baik [lainnya]. Apakah, Gāmaṇi, jalan peningkatan yang lain, jalan menaik dan maju, jalan menuju alam kehidupan yang baik itu? Ini adalah jalan mulia berunsur delapan: pandangan benar… (dan seterusnya sampai dengan) konsentrasi benar—delapan hal ini, Gāmaṇi, ini juga adalah suatu jalan peningkatan, suatu jalan yang menaik dan maju, suatu jalan menuju alam kehidupan yang baik.”

Ini adalah apa yang dikatakan Sang Buddha. Setelah mendengarkan perkataan Sang Buddha, Gāmaṇi dan para bhikkhu bergembira dan mengingatnya dengan baik.