Madhyamāgama

23. Kotbah tentang Kebijaksanaan

Demikianlah telah kudengar: Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu bhikkhu Kaḷārakhattiya mendengar bahwa bhikkhu Moliyaphagguna telah meninggalkan aturan-aturan latihan dan berhenti berlatih sang jalan, ia mendekati Yang Mulia Sāriputta. Setelah memberikan penghormatan pada kaki [Sāriputta], [Kaḷārakhattiya] duduk pada satu sisi. Setelah duduk, ia berkata: “Yang Mulia Sāriputta, ketahuilah bahwa bhikkhu Moliyaphagguna telah meninggalkan aturan-aturan latihan dan berhenti berlatih sang jalan.”

Yang Mulia Sāriputta bertanya: “Apakah bhikkhu Moliyaphagguna berbahagia dalam ajaran?”

Bhikkhu Kaḷārakhattiya bertanya sebagai balasannya: “Apakah Yang Mulia Sāriputta berbahagia dalam ajaran?”

Yang Mulia Sāriputta menjawab: “Kaḷārakhattiya, aku tidak memiliki keragu-raguan tentang ajaran.”

Bhikkhu Kaḷārakhattiya lebih lanjut bertanya: “Yang Mulia Sāriputta, bagaimanakah sehubungan dengan hal-hal yang akan datang?”

Yang Mulia Sāriputta menjawab: Kaḷārakhattiya, aku juga tanpa kebingungan sehubungan dengan hal-hal yang akan datang.”

Ketika mendengar hal ini, Kaḷārakhattiya bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Sang Buddha. Setelah memberikan penghormatan, ia duduk pada satu sisi dan berkata kepada Sang Buddha:

“Sang Bhagavā, Yang Mulia Sāriputta baru saja menyatakan bahwa ia telah mencapai pengetahuan [akhir], bahwa ia mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan. Tidak akan ada kelangsungan lain.”

Ketika mendengar hal ini, Sang Bhagavā berkata kepada salah seorang bhikkhu: “Pergilah menemui Sāriputta dan katakan kepadanya, ‘Sang Bhagavā memanggilmu’.”

Setelah demikian disuruh, bhikkhu itu bangkit dari tempat duduknya, menyalami Sang Buddha, pergi menemui Yang Mulia Sāriputta, dan berkata: “Sang Bhagavā memanggil Yang Mulia Sāriputta.”

Mendengar hal ini, Yang Mulia Sāriputta mendekati Sang Buddha, dan setelah memberikan penghormatan, duduk pada satu sisi.

Sang Bhagavā bertanya:

“Sāriputta, apakah benar bahwa engkau menyatakan telah mencapai pengetahuan akhir, dengan mengetahui sebagaimana adanya: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan. Tidak akan ada kelangsungan lain”?”

Yang Mulia Sāriputta menjawab: “Sang Bhagavā, aku memang menyatakan makna itu, tetapi tidak dalam kata-kata tersebut, tidak dalam ungkapan tersebut.”

Sang Bhagavā berkata: “Sāriputta, seorang anggota keluarga menyatakan hal-hal dengan caranya sendiri. Jika ia telah mencapai pengetahuan akhir, maka biarkanlah ia menyatakan pengetahuan akhir.”

Yang Mulia Sāriputta menjawab: “Sang Bhagavā, seperti yang telah kukatakan, aku memang menyatakan makna itu, tetapi tidak dalam kata-kata itu, tidak dalam ungkapan tersebut.”

Sang Bhagavā bertanya:

“Sāriputta, jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadamu: “Yang Mulia Sāriputta, dengan mengetahui apakah dan melihat apakah, engkau menyatakan telah mencapai pengetahuan, menyatakan mengetahui sebagaimana adanya: ‘Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan. Tidak akan ada kelangsungan lain’?”—Sāriputta, ketika mendengar hal ini, bagaimanakah engkau akan menjawab?”

Yang Mulia Sāriputta menjawab:

“Sang Bhagavā, jika teman-temanku dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadaku, “Yang Mulia Sāriputta, dengan mengetahui apakah dan melihat apakah, engkau menyatakan telah mencapai pengetahuan, menyatakan mengetahui sebagaimana adanya: ‘Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan. Tidak akan ada kelangsungan lain’?” Sang Bhagavā, ketika mendengar hal ini, aku akan menjawab dengan cara berikut: “Teman-teman yang mulia, kelahiran memiliki suatu sebab. Sebab untuk kelahiran ini telah diakhiri. Mengetahui bahwa sebab untuk kelahiran telah diakhiri, aku menyatakan telah mencapai pengetahuan akhir, dengan mengetahui sebagaimana adanya: ‘Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan. Tidak akan ada kelangsungan lain’.” Sang Bhagavā, jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadaku hal ini, aku akan menjawab dengan cara ini.”

Sang Bhagavā mengatakan pujian:

“Bagus sekali! Bagus sekali, Sāriputta! Jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadamu hal ini, engkau seharusnya menjawab dengan cara ini. Mengapa? Karena jika engkau berkata dengan cara ini, mereka akan mengetahui apa yang engkau maksud.”

Sang Bhagavā [lebih lanjut] bertanya:

“Sāriputta, jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadamu, “Yang Mulia Sāriputta, apakah sebab dan kondisi untuk kelahiran? Dari manakah kelahiran muncul? Apakah landasannya?”—ketika mendengar hal ini, bagaimana engkau menjawab?”

Yang Mulia Sāriputta menjawab:

“Sang Bhagavā, jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadaku: “Yang Mulia Sāriputta, apakah sebab dan kondisi untuk kelahiran? Dari manakah kelahiran muncul? Apakah landasannya?”—ketika mendengar pertanyaan ini, Sang Bhagavā, aku akan menjawab dengan cara ini: “Teman-teman yang mulia, kelahiran disebabkan oleh proses kelangsungan, dikondisikan oleh proses kelangsungan, ia muncul dari proses kelangsungan, memiliki proses kelangsungan sebagai landasannya.” Sang Bhagavā, jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadaku hal ini, aku akan menjawab dengan cara ini.”

Sang Bhagavā mengatakan pujian:

“Bagus sekali! Bagus sekali, Sāriputta! Jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadamu hal ini, engkau seharusnya menjawab dengan cara ini. Mengapa? Karena jika engkau berkata dengan cara ini, mereka akan mengetahui apa yang engkau maksud.”

Sang Bhagavā [lebih lanjut] bertanya:

“Sāriputta, jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadamu, “Yang Mulia Sāriputta, apakah sebab dan kondisi untuk proses kelangsungan? Dari manakah ia muncul? Apakah landasannya?”—ketika mendengar hal ini, bagaimana engkau menjawab?”

Yang Mulia Sāriputta menjawab:

“Sang Bhagavā, jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadaku: “Yang Mulia Sāriputta, apakah sebab dan kondisi untuk proses kelangsungan? Dari manakah ia muncul? Apakah landasannya?”—ketika mendengar pertanyaan ini, Sang Bhagavā, aku akan menjawab dengan cara ini: “Teman-teman yang mulia, proses kelangsungan disebabkan oleh kemelekatan, dikondisikan oleh kemelekatan, ia muncul dari kemelekatan, memiliki kemelekatan sebagai landasannya.” Sang Bhagavā, jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadaku hal ini, aku akan menjawab dengan cara ini.”

Sang Bhagavā mengatakan pujian:

“Bagus sekali! Bagus sekali, Sāriputta! Jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadamu hal ini, engkau seharusnya menjawab dengan cara ini. Mengapa? Karena jika engkau berkata dengan cara ini, mereka akan mengetahui apa yang engkau maksud.”

Sang Bhagavā [lebih lanjut] bertanya:

“Sāriputta, jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadamu, “Yang Mulia Sāriputta, apakah sebab dan kondisi untuk kemelekatan? Dari manakah kemelekatan muncul? Apakah landasannya?”—ketika mendengar hal ini, bagaimana engkau menjawab?”

Yang Mulia Sāriputta menjawab:

“Sang Bhagavā, jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadaku: “Yang Mulia Sāriputta, apakah sebab dan kondisi untuk kemelekatan? Dari manakah ia muncul? Apakah landasannya?”—ketika mendengar pertanyaan ini, Sang Bhagavā, aku akan menjawab dengan cara ini: “Teman-teman yang mulia, kemelekatan disebabkan oleh ketagihan, dikondisikan oleh ketagihan, ia muncul dari ketagihan, memiliki ketagihan sebagai landasannya.” Sang Bhagavā, jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadaku hal ini, aku akan menjawab dengan cara ini.”

Sang Bhagavā mengatakan pujian:

“Bagus sekali! Bagus sekali, Sāriputta! Jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadamu hal ini, engkau seharusnya menjawab dengan cara ini. Mengapa? Karena jika engkau berkata dengan cara ini, mereka akan mengetahui apa yang engkau maksud.”

Sang Bhagavā [lebih lanjut] bertanya:

“Sāriputta, jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadamu, “Yang Mulia Sāriputta, dan bagaimanakah dengan ketagihan?”—ketika mendengar hal ini, bagaimana engkau menjawab?”

Yang Mulia Sāriputta menjawab:

“Sang Bhagavā, jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadaku: “Yang Mulia Sāriputta, dan bagaimanakah dengan ketagihan?”—ketika mendengar pertanyaan ini, Sang Bhagavā, aku akan menjawab dengan cara ini: “Teman-teman yang mulia, terdapat tiga jenis perasaan—perasaan menyenangkan, perasaan tidak menyenangkan, dan perasaan bukan-menyenangkan-juga-bukan-tidak-menyenangkan. Menyenangi dalam, menginginkan, dan menggenggam pada perasaan-perasaan ini adalah apa yang disebut ketagihan.” Sang Bhagavā, jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadaku hal ini, aku akan menjawab dengan cara ini.”

Sang Bhagavā mengatakan pujian:

“Bagus sekali! Bagus sekali, Sāriputta! Jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadamu hal ini, engkau seharusnya menjawab dengan cara ini. Mengapa? Karena jika engkau berkata dengan cara ini, mereka akan mengetahui apa yang engkau maksud.”

Sang Bhagavā [lebih lanjut] bertanya:

“Sāriputta, jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadamu, “Yang Mulia Sāriputta, dengan mengetahui apakah dan dengan melihat apakah tidak ada kesenangan dalam tiga jenis perasaan ini, tidak ada keinginan terhadapnya atau genggaman padanya?”—ketika mendengar hal ini, bagaimana engkau menjawab?”

Yang Mulia Sāriputta menjawab:

“Sang Bhagavā, jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadaku, “Yang Mulia Sāriputta, dengan mengetahui apakah dan dengan melihat apakah tidak ada kesenangan dalam tiga jenis perasaan ini, tidak ada keinginan terhadapnya atau genggaman padanya?”—ketika mendengar pertanyaan ini, Sang Bhagavā, aku akan menjawab dengan cara ini: “Teman-teman yang mulia, tiga jenis perasaan ini adalah bersifat tidak kekal, bersifat tidak memuaskan, bersifat meluruh. Apa yang tidak kekal adalah tidak memuaskan. Dengan melihat ketidakpuasan ini, tidak ada lagi kesenangan dalam tiga perasaan ini, tidak ada keinginan terhadapnya atau genggaman padanya.” Sang Bhagavā, jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadaku hal ini, aku akan menjawab dengan cara ini.”

Sang Bhagavā mengatakan pujian:

“Bagus sekali! Bagus sekali, Sāriputta! Jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadamu hal ini, engkau seharusnya menjawab dengan cara ini. Mengapa? Karena jika engkau berkata dengan cara ini, mereka akan mengetahui apa yang engkau maksud.”

Pada waktu itu, Sang Bhagavā berkata:

“Sāriputta, seseorang dapat juga memberikan ringkasan pendek dari apa yang engkau baru saja katakan. Dan apakah, Sāriputta, ringkasan pendek dari apa yang engkau baru saja katakan? Ini adalah: “Apa pun yang dirasakan dan dilakukan [sesuai dengan itu] semuanya tidak memuaskan”—Sāriputta, ini adalah ringkasan pendek dari apa yang baru saja engkau katakan.”

Sang Bhagavā [lebih lanjut] bertanya:

“Sāriputta, jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadamu: “Yang Mulia Sāriputta, bagaimanakah bahwa dengan berbalik [dari genggaman pada perasaan] engkau telah mencapai pengetahuan akhir, menyatakan mengetahui sebagaimana adanya: ‘Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan. Tidak akan ada kelangsungan lain’?”—ketika mendengar hal ini, bagaimana engkau menjawab?”

Yang Mulia Sāriputta menjawab:

“Sang Bhagavā, jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadaku, “Yang Mulia Sāriputta, bagaimanakah bahwa dengan berbalik [dari genggaman pada perasaan] engkau telah mencapai pengetahuan akhir, menyatakan mengetahui sebagaimana adanya: ‘Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan. Tidak akan ada kelangsungan lain’?”—Sang Bhagavā, ketika mendengar pertanyaan ini, aku akan menjawab dengan cara berikut: “Teman-teman yang mulia, melalui secara internal berbaliknya diriku [dari genggaman pada perasaan], semua ketagihan menjadi berakhir, tidak ada ketakutan, tidak ada rasa takut, tidak ada keragu-raguan, tidak ada kebingungan. Aku hidup terlindungi dengan cara ini. Melalui penghidupanku yang terlindungi dengan cara ini, noda-noda tidak bermanfaat tidak muncul.” Sang Bhagavā, jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadaku hal ini, aku akan menjawab dengan cara ini.”

Sang Bhagavā mengatakan pujian:

“Bagus sekali! Bagus sekali, Sāriputta! Jika teman-teman dalam kehidupan suci datang dan bertanya kepadamu hal ini, engkau seharusnya menjawab dengan cara ini. Mengapa? Karena jika engkau berkata dengan cara ini, mereka akan mengetahui apa yang engkau maksud.”

Sang Bhagavā berkata:

“Sāriputta, seseorang dapat juga memberikan ringkasan pendek dari apa yang engkau baru saja katakan: “Apa pun belenggu yang telah dikatakan oleh Sang Pertapa (yaitu, Sang Buddha), belenggu-belenggu itu tidak ada dalam diriku. Aku hidup terlindungi dengan cara ini. Melalui penghidupanku yang terlindungi dengan cara ini, noda-noda tidak bermanfaat tidak muncul”—Sāriputta, ini adalah ringkasan pendek dari apa yang engkau baru saja katakan.”

Setelah mengatakan hal ini, Sang Bhagavā bangkit dari tempat duduknya dan kembali ke gubuknya untuk duduk bermeditasi. Segera setelah Sang Bhagavā kembali ke gubuknya, Yang Mulia Sāriputta berkata kepada para bhikkhu [dalam perkumpulan itu]:

“Teman-teman yang mulia, sebelumnya aku tidak memikirkan [hal ini]; demikianlah, ketika Sang Bhagavā tiba-tiba menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu, aku berpikir: “Aku takut aku tidak akan dapat menjawab.” [Tetapi,] teman-teman yang mulia, jawaban pertamaku disetujui dan dipuji oleh Sang Bhagavā, dan aku kemudian berpikir: “Jika Sang Bhagavā bertanya kepadaku tentang hal ini selama satu hari satu malam, dengan mengajukan pertanyaannya dalam kata-kata dan ungkapan yang berbeda-beda, aku dapat menjawab Sang Bhagavā dalam kata-kata dan ungkapan yang berbeda-beda [sesuai dengan itu]. Jika Sang Bhagavā menanyaiku tentang hal ini selama dua, tiga, empat, bahkan sampai tujuh hari tujuh malam, dengan mengajukan pertanyaannya dalam kata-kata dan ungkapan yang berbeda-beda, aku dapat menjawab Sang Bhagavā dalam kata-kata dan ungkapan yang berbeda-beda [sesuai dengan itu].”

Ketika mendengar Yang Mulia Sāriputta berkata dengan cara ini, bhikkhu Kaḷārakhattiya bangkit dari tempat duduknya dan segera mendekati Sang Buddha. Ia berkata kepada Sang Bhagavā:

“Segera setelah Sang Bhagavā kembali ke gubuknya, Yang Mulia Sāriputta membuat suatu pernyataan yang berbobot, mengaumkan auman siang, dengan berkata: “Teman-teman yang mulia, sebelumnya aku tidak memikirkan [hal ini]; demikianlah, ketika Sang Bhagavā tiba-tiba menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu, aku berpikir: “Aku takut aku tidak akan dapat menjawab.” [Tetapi,] teman-teman yang mulia, jawaban pertamaku disetujui dan dipuji oleh Sang Bhagavā, dan aku kemudian berpikir: ‘Jika Sang Bhagavā bertanya kepadaku tentang hal ini selama satu hari satu malam, dengan mengajukan pertanyaannya dalam kata-kata dan ungkapan yang berbeda-beda, aku dapat menjawab Sang Bhagavā dalam kata-kata dan ungkapan yang berbeda-beda [sesuai dengan itu] selama satu hari satu malam. Teman-teman yang mulia, jika Sang Bhagavā menanyaiku tentang hal ini selama dua, tiga, empat, bahkan sampai tujuh hari tujuh malam, dengan mengajukan pertanyaannya dalam kata-kata dan ungkapan yang berbeda-beda, aku dapat menjawab Sang Bhagavā dalam kata-kata dan ungkapan yang berbeda-beda [sesuai dengan itu]’.”

Sang Bhagavā berkata:

“Tentu saja demikian, Kaḷārakhattiya! Jika aku menanyai bhikkhu Sāriputta tentang hal ini selama satu hari satu malam, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dalam kata-kata dan ungkapan yang berbeda-beda, ia akan dapat menjawab dengan kata-kata dan ungkapan yang berbeda-beda [sesuai dengan itu]. Kaḷārakhattiya, jika aku menanyai bhikkhu Sāriputta tentang hal ini selama dua, tiga, empat, bahkan sampai tujuh hari tujuh malam, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dalam kata-kata dan ungkapan yang berbeda-beda, ia akan dapat menjawab dengan kata-kata dan ungkapan yang berbeda-beda [sesuai dengan itu]. Mengapa? Karena, Kaḷārakhattiya, bhikkhu Sāriputta telah secara mendalam memahami alam pemikiran.”

Ini adalah apa yang dikatakan Sang Buddha. Setelah mendengarkan perkataan Sang Buddha, Yang Mulia Sāriputta dan para bhikkhu lainnya bergembira dan mengingatnya dengan baik.