Madhyamāgama

43. Kotbah tentang Tidak [Perlu] Berpikir

Demikianlah telah kudengar: Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata:

“Ānanda, seseorang yang menjaga moralitas tidak perlu berpikir: “Semoga aku bebas dari penyesalan!” Ānanda, adalah hukum alam bahwa mereka yang menjaga moralitas akan bebas dari penyesalan.

“Ānanda, seseorang yang tanpa penyesalan tidak perlu berpikir: “Semoga aku mencapai kegembiraan!” Ānanda, adalah hukum alam bahwa mereka yang tanpa penyesalan akan mencapai kegembiraan.

“Ānanda, seseorang yang bergembira tidak perlu berpikir: “Semoga aku mencapai sukacita!” Ānanda, adalah hukum alam bahwa mereka yang bergembira akan mencapai sukacita.

“Ānanda, seseorang yang memiliki sukacita tidak perlu berpikir: “Semoga aku mencapai ketenangan!” Ānanda, adalah hukum alam bahwa mereka yang telah memiliki sukacita akan mencapai ketenangan tubuh.

“Ānanda, seseorang yang memiliki ketenangan tidak perlu berpikir: “Semoga aku mencapai kebahagiaan!” Ānanda, adalah hukum alam bahwa mereka yang memiliki ketenangan akan mencapai pengalaman kebahagiaan.

“Ānanda, seseorang yang memiliki kebahagiaan tidak perlu berpikir: “Semoga aku mencapai konsentrasi!” Ānanda, adalah hukum alam bahwa mereka yang memiliki kebahagiaan akan mencapai konsentrasi pikiran.

“Ānanda, seseorang yang memiliki konsentrasi tidak perlu berpikir: “Semoga aku melihat hal-hal sebagaimana adanya, mengetahui hal-hal sebagaimana adanya!” Ānanda, adalah hukum alam bahwa mereka yang memiliki konsentrasi akan melihat hal-hal sebagaimana adanya, mengetahui hal-hal sebagaimana adanya.

“Ānanda, seseorang yang melihat hal-hal sebagaimana adanya, yang mengetahui hal-hal sebagaimana adanya, tidak perlu berpikir: “Semoga aku mencapai kekecewaan!” Ānanda, adalah hukum alam bahwa mereka yang melihat hal-hal sebagaimana adanya, yang mengetahui hal-hal sebagaimana adanya, akan mencapai kekecewaan.

“Ānanda, seseorang yang memiliki kekecewaan tidak perlu berpikir: “Semoga aku mencapai kebosanan!” Ānanda, adalah hukum alam bahwa mereka yang memiliki kekecewaan akan mencapai kebosanan.

“Ānanda, seseorang yang memiliki kebosanan tidak perlu berpikir: “Semoga aku mencapai pembebasan!” Ānanda, adalah hukum alam bahwa mereka yang memiliki kebosanan akan mencapai pembebasan dari semua nafsu, kebencian, dan kebodohan.

“Ānanda, dengan menjaga moralitas seseorang tidak memiliki penyesalan; dengan tidak memiliki penyesalan ia mencapai kegembiraan; melalui kegembiraan ia mencapai sukacita; melalui sukacita ia mencapai ketenangan; melalui ketenangan ia mencapai kebahagiaan; melalui kebahagiaan ia mencapai konsentrasi pikiran. Ānanda, melalui konsentrasi pikiran seorang siswa mulia yang terpelajar melihat dan mengetahui hal-hal sebagaimana adanya; dengan mengetahui dan melihat hal-hal sebagaimana adanya, ia mencapai kekecewaan; melalui kekecewaan ia mencapai kebosanan; melalui kebosanan ia mencapai pembebasan. Melalui pembebasan ia mengetahui ia terbebaskan: “Kelahiran telah diakhiri, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan. Ia mengetahui sebagaimana adanya: tidak akan ada kelangsungan lain.”

“Demikianlah, Ānanda, satu keadaan bermanfaat untuk yang lain, satu keadaan adalah jalan untuk yang lain, dan moralitas akhirnya membawa pada tujuan tertinggi, dengan kata lain, menyeberang dari pantai ini menuju pantai lain.”

Ini adalah apa yang dikatakan Sang Buddha. Setelah mendengarkan perkataan Sang Buddha, Yang Mulia Ānanda dan para bhikkhu lainnya bergembira dan mengingatnya dengan baik.