Madhyamāgama

48. Kotbah [Kedua] tentang Moralitas

Demikianlah telah kudengar: Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Yang Mulia Sāriputta berkata kepada para bhikkhu:

“Teman-teman yang mulia, jika seorang bhikkhu melanggar moralitas, ini merusak tanpa penyesalan, mengalami kegembiraan, sukacita, ketenangan, kebahagiaan, konsentrasi, melihat dan mengetahui hal-hal sebagaimana adanya, kekecewaan, kebosanan, dan pembebasan. Dan tidak memiliki pembebasan merusak [pencapaian] nirvana.

“Teman-teman yang mulia, ini seperti halnya sebatang pohon. Jika akarnya rusak, maka batang, tangkai, inti kayu, dahan dan cabang, daun, bunga, dan buah semuanya tidak dapat berkembang dengan baik. Teman-teman yang mulia, ketahuilah bahwa ini sama halnya dengan seorang bhikkhu.

“Jika ia melanggar moralitas, maka ini merusak tanpa penyesalan, mengalami kegembiraan, sukacita, ketenangan, kebahagiaan, konsentrasi, melihat dan mengetahui hal-hal sebagaimana adanya, kekecewaan, kebosanan, dan pembebasan. Dan tidak memiliki pembebasan merusak [pencapaian] nirvana.

“[Namun], jika, teman-teman yang mulia, seorang bhikkhu menjaga moralitas, kondisi muncul untuk tanpa penyesalan, mengalami kegembiraan, sukacita, ketenangan, kebahagiaan, konsentrasi, melihat dan mengetahui hal-hal sebagaimana adanya, kekecewaan, kebosanan, dan pembebasan. Dan jika terdapat pembebasan, kondisi muncul untuk [pencapaian] nirvana. Teman-teman yang mulia, ini seperti halnya sebatang pohon. Jika akarnya tidak rusak, maka batang, tangkai, inti kayu, dahan dan cabang, daun, bunga, dan buah semuanya dapat berkembang dengan baik. Teman-teman yang mulia, kalian seharusnya mengetahui bahwa ini sama halnya dengan seorang bhikkhu. Jika ia menjaga moralitas, kondisi muncul untuk tanpa penyesalan, mengalami kegembiraan, sukacita, ketenangan, kebahagiaan, konsentrasi, melihat dan mengetahui hal-hal sebagaimana adanya, kekecewaan, kebosanan, dan pembebasan. Dan jika terdapat pembebasan, kondisi muncul untuk [pencapaian] nirvana.”

Ini adalah apa yang dikatakan Yang Mulia Sāriputta. Setelah mendengarkan perkataan Yang Mulia Sāriputta, para bhikkhu itu bergembira dan mengingatnya dengan baik.