Madhyamāgama

57. Kotbah yang Diucapkan kepada Para Bhikkhu

Demikianlah telah kudengar: Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

“Terdapat lima kondisi yang mendukung yang kondusif pada matangnya pembebasan pikiran yang belum matang. Apakah lima hal itu?

“Seorang bhikkhu itu sendiri seorang teman baik [untuk orang lain] dan bergaul dengan teman-teman baik, berkumpul dengan teman-teman baik—ini adalah kondisi pertama yang mendukung yang kondusif pada matangnya pembebasan pikiran yang belum matang.

“Lagi, seorang bhikkhu menjalankan pelatihan dalam moralitas, menjaga [terhadap pelanggaran] aturan latihan, dan dengan terampil mengendalikan pembawaan dirinya [sesuai dengan] perilaku yang pantas, dengan melihat bahaya bahkan dalam pelanggaran kecil dan takut terhadapnya. Menjaga moralitas adalah kondisi kedua yang mendukung yang kondusif pada matangnya pembebasan pikiran yang belum matang.

“Lagi, seorang bhikkhu berbicara tentang hal-hal yang mulia, bermakna, hal-hal yang menyebabkan pikiran menjadi lembut, menyebabkannya menjadi tanpa rintangan, yaitu, pembicaraan tentang moralitas, tentang konsentrasi, kebijaksanaan, pembebasan, pengetahuan dan penglihatan yang muncul dengan pembebasan, pembicaraan tentang pelenyapan-diri, tentang tidak menikmati bersosialisasi, tentang mengurangi keinginan, tentang kepuasan, ditinggalkannya, kebosanan, padamnya, duduk dalam keterasingan, dan tentang kemunculan bergantungan. Memperoleh, dengan cara ini, [jenis] pembicaraan yang pantas bagi para pertapa, dengan sepenuhnya, dengan mudah, tanpa kesulitan—ini adalah kondisi ketiga yang mendukung yang kondusif pada matangnya pembebasan pikiran yang belum matang.

“Lagi, seorang bhikkhu mengerahkan usaha tanpa kenal lelah untuk meninggalkan apa yang tidak bermanfaat, dan untuk mengembangkan semua keadaan bermanfaat. Ia terus-menerus memunculkan kehendak yang berfokus pada satu hal dan kokoh untuk mengembangkan akar-akar bermanfaat, dan tidak melepaskan tugasnya. Ini adalah kondisi keempat yang mendukung yang kondusif pada matangnya pembebasan pikiran yang belum matang.

“Lagi, seorang bhikkhu mengembangkan pemahaman dan kebijaksanaan, mencapai pemahaman sehubungan dengan muncul dan lenyapnya fenomena, mencapai pengetahuan mulia yang menembus dan pemahaman yang membedakan sehubungan dengan pelenyapan sejati penderitaan. Ini adalah kondisi kelima yang mendukung yang kondusif pada matangnya pembebasan pikiran yang belum matang.

“Ketika diberkahi dengan lima kondisi yang mendukung ini, [seorang bhikkhu] seharusnya berlatih lebih lanjut dengan empat cara. Apakah empat cara itu? Ia berlatih meditasi pada kejijikan [terhadap tubuh] untuk memotong keinginan. Ia berlatih meditasi cinta-kasih untuk memotong kebencian. Ia berlatih perhatian terhadap pernapasan untuk memotong pikiran-pikiran kacau. Ia berlatih persepsi ketidakkekalan untuk memotong kesombongan “aku”.

“Jika seorang bhikkhu itu sendiri seorang teman baik [untuk orang lain] dan bergaul dengan teman-teman baik, berkumpul dengan teman-teman baik, maka ketahuilah bahwa ia terikat untuk menjalankan pelatihan dalam moralitas, untuk menjaga [terhadap pelanggaran] aturan latihan, dan dengan terampil mengendalikan pembawaan dirinya [sesuai dengan] perilaku yang pantas, dengan melihat bahaya bahkan dalam pelanggaran kecil dan takut terhadapnya.

“Jika seorang bhikkhu itu sendiri seorang teman baik [untuk orang lain] dan bergaul dengan teman-teman baik, berkumpul dengan teman-teman baik, maka ketahuilah bahwa ia terikat untuk berbicara tentang hal-hal yang mulia, bermakna, hal-hal yang menyebabkan pikiran menjadi lembut, menyebabkannya menjadi tanpa rintangan, yaitu, pembicaraan tentang moralitas, konsentrasi, kebijaksanaan, pembebasan, tentang pengetahuan dan penglihatan yang muncul dengan pembebasan, pembicaraan tentang pelenyapan-diri, tentang tidak menikmati bersosialisasi, tentang mengurangi keinginan, tentang kepuasan, ditinggalkannya, kebosanan, padamnya, tentang duduk bermeditasi, dan tentang kemunculan bergantungan. Ia akan dapat memperoleh, dengan cara ini, [jenis] pembicaraan yang pantas untuk para pertapa, dengan sepenuhnya, dengan mudah, tanpa kesulitan.

“Jika seorang bhikkhu itu sendiri seorang teman baik [untuk orang lain] dan bergaul dengan teman-teman baik, berkumpul dengan teman-teman baik, maka ketahuilah bahwa ia terikat untuk mengerahkan usaha tanpa kenal lelah memotong apa yang tidak bermanfaat dan berlatih semua keadaan bermanfaat. Ia akan terus-menerus memunculkan kehendak yang berfokus pada satu hal dan kokoh untuk mengembangkan akar-akar bermanfaat, dan tidak akan melepaskan tugasnya.

“Jika seorang bhikkhu itu sendiri seorang teman baik [untuk orang lain] dan bergaul dengan teman-teman baik, berkumpul dengan teman-teman baik, maka ketahuilah bahwa ia terikat untuk mengembangkan pemahaman dan kebijaksanaan, mencapai pemahaman sehubungan dengan muncul dan lenyapnya fenomena, mencapai pengetahuan mulia yang menembus dan pemahaman yang membedakan sehubungan dengan pelenyapan sejati penderitaan.

“Jika seorang bhikkhu itu sendiri seorang teman baik [untuk orang lain] dan bergaul dengan teman-teman baik, berkumpul dengan teman-teman baik, maka ketahuilah bahwa ia terikat untuk berlatih meditasi pada kejijikan [terhadap tubuh] untuk memotong keinginan. Ia akan berlatih meditasi cinta-kasih untuk memotong kebencian. Ia akan berlatih perhatian pada pernapasan untuk memotong pikiran-pikiran kacau. Ia akan berlatih persepsi ketidakkekalan untuk memotong kesombongan “aku”. Jika seorang bhikkhu telah memperoleh persepsi ketidakkekalan, ia terikat untuk mencapai persepsi bukan-diri.

“Jika seorang bhikhu telah mencapai kesadaran bukan-diri, ia terikat untuk sepenuhnya meninggalkan kesombongan “aku” dalam masa kehidupan ini, untuk mencapai kedamaian, lenyapnya, yang tidak berkondisi, nirvana.”

Ini adalah apa yang dikatakan Sang Buddha. Setelah mendengarkan perkataan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan mengingatnya dengan baik.