Madhyamāgama

60. Kotbah tentang Empat Benua

Demikianlah telah kudengar: Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī, di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Yang Mulia Ānanda, yang sedang bermeditasi di suatu tempat yang sunyi, dengan merenungkan, berpikir:

“Sangat sedikit orang di dunia yang dapat memenuhi keinginannya sehubungan dengan kesenangan indera, dan hanya sedikit yang menjadi kecewa dengan kesenangan indera pada waktu mereka meninggal. Adalah sangat jarang bahwa orang-orang di dunia yang dapat memenuhi keinginan mereka sehubungan kesenangan indera atau menjadi kecewa dengan kesenangan indera pada waktu mereka meninggal.”

Kemudian, pada malam hari, Yang Mulia Ānanda bangkit dari duduk bermeditasi dan mendekati Sang Buddha. Setelah tiba di sana, ia memberikan penghormatan, duduk pada satu sisi, dan berkata:

“Sang Bhagavā. Hari ini, [ketika] duduk bermeditasi di suatu tempat yang sunyi, dengan merenungkan, aku berpikir:

“Sangat sedikit orang di dunia yang dapat memenuhi keinginannya sehubungan dengan kesenangan indera, dan hanya sedikit yang menjadi kecewa dengan kesenangan indera pada waktu mereka meninggal. Adalah sangat jarang bahwa orang-orang di dunia yang dapat memenuhi keinginan mereka sehubungan kesenangan indera atau menjadi kecewa dengan kesenangan indera pada waktu mereka meninggal.”

Sang Buddha berkata kepada Ānanda:

“Demikianlah. Demikianlah. Sangat sedikit orang di dunia yang dapat memenuhi keinginan mereka sehubungan dengan kesenangan indera, dan hanya sedikit yang menjadi kecewa terhadap kesenangan indera pada waktu mereka meninggal. Adalah sangat jarang, Ānanda, bahwa orang-orang di dunia yang dapat memenuhi keinginan mereka sehubungan dengan kesenangan indera atau menjadi kecewa dengan kesenangan indera pada waktu mereka meninggal.

“Adalah sangat jarang, Ānanda, sangat jarang sesungguhnya, bahwa orang-orang di dunia yang dapat memenuhi keinginan mereka sehubungan dengan kesenangan indera, atau menjadi kecewa dengan kesenangan indera pada waktu mereka meninggal. Sebaliknya, Ānanda, banyak orang di dunia, sangat banyak, yang tidak dapat memenuhi keinginan mereka sehubungan dengan kesenangan indera dan tidak menjadi kecewa dengan kesenangan indera pada waktu mereka meninggal. Mengapa demikian?

“Pada masa lampau, Ānanda, terdapat seorang raja bernama Mandhātu, seorang raja pemutar-roda, yang cerdas dan bijaksana, dilengkapi dengan armada pasukan berunsur empat untuk menguasai seluruh dunia, dengan bebas, seperti yang ia sukai. Menjadi seorang raja Dharma yang baik, ia mencapai tujuh harta karun. Tujuh harta karun itu adalah harta karun roda, harta karun gajah, harta karun kuda, harta karun permata, harta karun wanita, harta karun pelayan, dan harta karun penasehat—ini adalah tujuh hal itu.

“Ia akan memiliki seribu orang putra, yang gagah, berani, tak kenal takut, dan dapat mengalahkan orang lain. Ia pasti menguasai seluruh dunia, sampai sejauh samudera, tanpa bergantung pada pisau atau gada, hanya dengan mengajarkan Dharma, yang membawa perdamaian dan kebahagiaan.

“Kemudian, Ānanda, setelah waktu yang lama, Raja Mandhātu berpikir:

“Aku menguasai Jambudīpa, yang sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk; aku memiliki tujuh harta karun dan seribu orang putra. [Tetapi] aku berkeinginan bahwa akan turun hujan harta karun di istana selama tujuh hari hingga mereka telah menumpuk sampai lututku.

“Ānanda, karena Raja Mandhātu diberkahi dengan kekuatan batin yang besar, kebajikan yang besar dan hebat, jasa yang besar, kekuatan yang besar dan hebat, segera setelah ia memikirkan keinginan ini, turun hujan harta karun selama tujuh hari hingga mereka telah menumpuk sampai lututnya.

“Kemudian, Ānanda, setelah waktu yang lama, Raja Mandhātu berpikir:

“Aku menguasai Jambudīpa, yang sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk; aku memiliki tujuh harta karun dan seribu orang putra; dan turun hujan harta karun di istana selama tujuh hari hingga mereka telah menumpuk sampai lututku.

“Aku ingat telah mendengar dari orang-orang zaman dahulu bahwa terdapat sebuah benua di barat bernama Godānī, yang sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk. Aku sekarang berkeinginan untuk pergi dan melihat benua Godānī. Setelah pergi ke sana, aku akan menaklukkannya sepenuhnya.

“Ānanda, karena Raja Mandhātu diberkahi dengan kekuatan batin yang besar, kebajikan yang besar dan hebat, jasa yang besar, kekuatan yang besar dan hebat, segera setelah ia memikirkan keinginan ini, dengan kekuatan batinnya ia mengadakan perjalanan ke sana melalui udara, bersama-sama dengan armada pasukannya yang berunsur empat.

“Ānanda, Raja Mandhātu segera tiba di benua Godānī dan berdiam di sana. Ānanda, Raja Mandhātu menaklukkan benua Godānī sepenuhnya, dan berdiam di sana selama tak terhitung ratusan dan ribuan tahun.

“Kemudian, Ānanda, setelah waktu yang lama, Raja Mandhātu berpikir lagi:

“Aku menguasai Jambudīpa, yang sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk; aku memiliki tujuh harta karun dan memiliki seribu orang putra; dan turun hujan harta karun di istana selama tujuh hari hingga mereka telah menumpuk sampai lututku. Aku juga menguasai benua Godānī.

“Aku juga ingat telah mendengar dari orang-orang zaman dahulu bahwa terdapat sebuah benua di timur bernama Pubbavideha, yang sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk. Aku sekarang berkeinginan untuk pergi dan melihat benua Pubbavideha. Setelah pergi ke sana, aku akan menaklukkannya sepenuhnya.

“Ānanda, karena Raja Mandhātu diberkahi dengan kekuatan batin yang besar, kebajikan yang besar dan hebat, jasa yang besar, kekuatan yang besar dan hebat, segera setelah ia memikirkan keinginan ini, dengan kekuatan batinnya ia mengadakan perjalanan ke sana melalui udara, bersama-sama dengan armada pasukannya yang berunsur empat.

“Ānanda, Raja Mandhātu segera tiba di benua Pubbavideha dan berdiam di sana. Ānanda, Raja Mandhātu menaklukkan benua Pubbavideha sepenuhnya, dan berdiam di sana selama tak terhitung ratusan dan ribuan tahun.

“Kemudian, Ānanda, setelah waktu yang lama, Raja Mandhātu lagi berpikir:

“Aku menguasai Jambudīpa, yang sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk; aku memiliki tujuh harta karun dan memiliki seribu orang putra; dan turun hujan harta karun di istana selama tujuh hari hingga mereka telah menumpuk sampai lututku. Aku juga menguasai benua Godānī dan benua Pubbavideha.

“Aku juga ingat telah mendengar dari orang-orang zaman dahulu bahwa terdapat sebuah benua di utara bernama Uttarakuru, yang sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk, yang tidak memiliki persepsi diri dan tidak memiliki kepemilikan. Aku sekarang berkeinginan untuk pergi dan melihat benua Uttarakuru, bersama-sama dengan para pelayanku. Setelah pergi ke sana, aku akan menaklukkannya sepenuhnya.

“Ānanda, karena Raja Mandhātu diberkahi dengan kekuatan batin yang besar, kebajikan yang besar dan hebat, jasa yang besar, kekuatan yang besar dan hebat, segera setelah ia memikirkan keinginan ini, dengan kekuatan batinnya ia mengadakan perjalanan ke sana melalui udara, bersama-sama dengan armada pasukannya yang berunsur empat.

“Ānanda, Raja Mandhātu melihat dari jauh bahwa datarannya berwarna putih dan berkata kepada orang-orang istananya, “Apakah kalian melihat bahwa dataran Uttarakuru berwarna putih?”

“Orang-orang istana menjawab, “Ya, yang mulia. Kami melihatnya.”

“Raja berkata lebih lanjut,

“Apakah kalian mengetahui bahwa [warna putih] adalah beras putih yang alami, yang adalah makanan pokok orang-orang Uttarakuru? Kalian juga seharusnya memakan makanan ini.

“Ānanda, Raja Mandhātu juga melihat dari jauh bahwa di benua Uttarakuru terdapat berbagai jenis pohon, yang bersih, mengagumkan, dekoratif, dan dengan berbagai warna, yang dikelilingi oleh sebuah pagar.

“Ia berkata kepada orang-orang istananya:

“Apakah kalian melihat bahwa di benua Uttarakuru terdapat berbagai jenis pohon, yang bersih, mengagumkan, dekoratif, dan dengan berbagai warna, yang dikelilingi oleh sebuah pagar?

“Orang-orang istana menjawab, “Ya, yang mulia. Kami melihatnya.”

“Raja berkata lebih lanjut:

“Apakah kalian mengetahui bahwa pohon-pohon ini menghasilkan pakaian untuk orang-orang Uttarakuru? Orang-orang Uttarakuru mengambil pakaian ini dan memakainya. Kalian juga seharusnya mengambil pakaian ini dan memakainya.

“Ānanda, Raja Mandhātu segera tiba di benua Uttarakuru dan berdiam di sana. Ānanda, Raja Mandhātu menaklukkan benua Uttarakuru sepenuhnya, dan berdiam di sana selama tak terhitung ratusan dan ribuan tahun, bersama-sama dengan para pelayannya.

“Kemudian, Ānanda, setelah waktu yang lama, Raja Mandhātu lagi berpikir:

“Aku menguasai Jambudīpa, yang sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk; aku memiliki tujuh harta karun dan memiliki seribu orang putra; dan turun hujan harta karun di istana selama tujuh hari hingga mereka telah menumpuk sampai lututku. Aku juga menguasai benua Godānī, benua Pubbavideha, dan benua Uttarakuru. Aku juga mendengar dari orang-orang zaman dahulu bahwa terdapat suatu surga bernama surga tiga-puluh-tiga. Aku sekarang berkeinginan untuk pergi dan melihat surga tiga-puluh-tiga.

“Ānanda, karena Raja Mandhātu diberkahi dengan kekuatan batin yang besar, kebajikan yang besar dan hebat, jasa yang besar, kekuatan yang besar dan hebat, segera setelah ia memikirkan keinginan ini, dengan kekuatan batinnya ia mengadakan perjalanan melalui udara menuju cahaya matahari, bersama-sama dengan armada pasukannya yang berunsur empat.

“Ānanda, Raja Mandhātu melihat dari jauh bahwa di surga tiga-puluh-tiga, di atas Sumeru, raja para gunung, terdapat sesuatu yang menyerupai sebuah awan besar. Ia berkata kepada orang-orang istananya, “Apakah kalian melihat, di surga tiga-puluh-tiga, di atas Sumeru, raja para gunung, sesuatu yang menyerupai sebuah awan besar?”

“Orang-orang istana menjawab: “Ya, yang mulia. Kami melihatnya.”

“Raja berkata lebih lanjut:

“Apakah kalian mengetahui bahwa itu adalah pohon karang milik para dewa tiga-puluh-tiga? Di bawah pohon ini para dewa tiga-puluh-tiga, yang diberkahi dengan lima jenis kesenangan indera, menikmati dirinya sendiri selama empat bulan musim panas.

“Ānanda, Raja Mandhātu juga melihat dari jauh bahwa di surga tiga-puluh-tiga, di atas Sumeru, raja para gunung, di dekat sisi selatannya, terdapat sesuatu yang menyerupai sebuah awan besar. Ia berkata kepada orang-orang istananya:

“Apakah kalian melihat, di surga tiga-puluh-tiga, di atas Sumeru, raja para gunung, di dekat sisi selatannya, sesuatu yang menyerupai sebuah awan besar?

“Orang-orang istana menjawab, “Ya, yang mulia. Kami melihatnya.”

“Raja berkata lebih lanjut:

“Apakah kalian mengetahui bahwa itu adalah Aula Sudhamma milik para dewa tiga-puluh-tiga? Dalam Aula Sudhamma ini para dewa tiga-puluh-tiga merenungkan Dharma dan maknanya untuk para dewa dan manusia pada hari kedelapan dan keempat belas [atau] kelima belas [dari setiap setengah bulan lunar].

“Kemudian, Ānanda, Raja Mandhātu segera tiba di surga tiga-puluh-tiga. Setelah tiba di surga tiga-puluh-tiga, ia memasuki Aula Sudhamma. Di sana Sakka, raja para dewa, memberikan Raja Mandhātu setengah tahtanya untuk duduk. Raja Mandhātu kemudian duduk pada setengah tahta Sakka, raja para dewa.

“Kemudian [ketika mereka duduk di sana], Raja Mandhātu dan Sakka, raja para dewa, tidak dapat dibedakan. Tidak ada perbedaan di antara mereka dalam kecemerlangan, corak kulit, atau bentuk; juga tidak ada perbedaan dalam gerakan, perilaku, atau pakaian. Satu-satunya perbedaan adalah sehubungan dengan kedipan mata.

“Kemudian, Ānanda, setelah waktu yang lama Raja Mandhātu lagi berpikir:

“Aku menguasai Jambudīpa, yang sangat makmur dan menyenangkan, dengan banyak penduduk; aku memiliki tujuh harta karun dan memiliki seribu orang putra; dan turun hujan harta karun di istana selama tujuh hari hingga mereka telah menumpuk sampai lututku. Aku juga menguasai benua Godānī, benua Pubbavideha, dan benua Uttarakuru.

“Juga, aku telah mengunjungi pertemuan dari perkumpulan besar para dewa tiga-puluh-tiga. Aku telah memasuki Aula Sudhamma surgawi, di mana Sakka, raja para dewa, memberikanku setengah tahtanya untuk duduk. Aku dapat duduk di setengah tahta Sakka, raja para dewa. [Ketika kami duduk di sana,] aku dan Sakka, raja para dewa, tidak dapat dibedakan. Tidak ada perbedaan antara kami dalam kecemerlangan, corak kulit, atau bentuk; juga tidak ada perbedaan dalam gerakan, perilaku, atau pakaian. Satu-satunya perbedaan adalah sehubungan dengan kedipan mata. Aku sekarang ingin mengusir Sakka, raja para dewa, mengambil alih setengah tahta lainnya, dan menjadi raja para dewa dan manusia, [berkuasa] dengan bebas, seperti yang aku sukai.

“Ānanda, segera ketika Raja Mandhātu memikirkan keinginan ini, sebelum ia mengetahuinya, ia telah jatuh kembali ke Jambudīpa, kehilangan kekuatan batinnya, dan sakit parah. Ketika Raja Mandhātu sekarat, orang-orang istananya pergi menemuinya dan berkata:

“Yang mulia, jika para brahmana, perumah tangga, dan rakyat [anda] datang dan bertanya kepada kami apakah yang dikatakan Raja Mandhātu ketika ia sekarat, bagaimanakah, yang mulia, seharusnya kami menjawab para brahmana, perumah tangga, dan rakyat ini?

“Kemudian Raja Mandhātu berkata kepada orang-orang istana:

“Jika para brahmana, perumah tangga, dan rakyat[ku] datang dan bertanya kepada kalian apakah yang dikatakan Raja Mandhātu ketika ia sekarat, kalian seharusnya menjawab seperti ini: “[Walaupun] Raja Mandhātu memperoleh benua Jambudīpa, keinginannya tidak terpenuhi pada waktu ia meninggal. [Walaupun] Raja Mandhātu memperoleh tujuh harta karun, keinginannya tidak terpenuhi pada waktu ia meninggal. [Walaupun] ia memiliki seribu orang putra, keinginannya tidak terpenuhi pada waktu ia meninggal. [Walaupun] untuk Raja Mandhātu hujan harta karun turun selama tujuh hari, keinginannya tidak terpenuhi pada waktu ia meninggal.

“[Walaupun] Raja Mandhātu memperoleh benua Godānī, keinginannya tidak terpenuhi pada waktu ia meninggal. [Walaupun] Raja Mandhātu memperoleh benua Pubbavideha, keinginannya tidak terpenuhi pada waktu ia meninggal. [Walaupun] Raja Mandhātu memperoleh benua Uttarakuru, keinginannya tidak terpenuhi pada waktu ia meninggal.

“[Walaupun] Raja Mandhātu mengunjungi perkumpulan para dewa, keinginannya tidak terpenuhi pada waktu ia meninggal. [Walaupun] Raja Mandhātu diberkahi dengan lima jenis kesenangan indera, bentuk-bentuk, suara-suara, bebauan, rasa, dan sensasi sentuhan, keinginannya tidak terpenuhi pada waktu ia meninggal.

“Jika para brahmana, perumah tangga, dan rakyat[ku] datang dan bertanya kepada kalian apa yang dikatakan Raja Mandhātu ketika ia sekarat, kalian seharusnya menjawab seperti ini.”

Kemudian Sang Bhagavā mengucapkan syair-syair ini:

[Bahkan jika] turun hujan harta karun yang menakjubkan,
Seseorang yang memiliki keinginan tidak akan terpuaskan.
Keinginan adalah penderitaan, tanpa kebahagiaan –
Ini seharusnya diketahui orang bijaksana.
Bahkan jika [seseorang yang memiliki keinginan] memperoleh sekumpulan emas,
Sebesar Himalaya,
Ia tidak akan terpuaskan sama sekali –
Demikianlah orang bijaksana merenungkan.

[Bahkan ketika] memperoleh lima kesenangan indera surgawi yang mengagumkan
Ia tidak bergembira dalam lima hal ini,
Seorang siswa [sejati] Yang Tercerahkan Sempurna,
sebaiknya mengharapkan pada penghancuran ketagihan dan pada ketidakmelekatan.

Kemudian Sang Bhagavā berkata:

“Ānanda, apakah engkau berpikir bahwa Raja Mandhātu dari zaman dahulu adalah seseorang selain [daripada aku]? Janganlah berpikir demikian. Engkau seharusnya mengetahui bahwa ia adalah aku.

“Pada waktu itu, Ānanda, aku berkeinginan untuk memberi manfaat pada diriku sendiri, memberi manfaat pada orang lain, memberi manfaat pada banyak orang; aku telah memiliki belas kasih kepada seluruh dunia, dan aku mencari kesejahteraan, manfaat, kedamaian, dan kebahagiaan bagi para dewa dan manusia.

“Ajaran yang kuberikan pada waktu itu tidak membawa pada yang tertinggi, bukanlah kemurnian tertinggi, bukanlah kehidupan suci, bukanlah penyelesaian tertinggi kehidupan suci. Pada waktu itu aku tidak dapat meninggalkan kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, dukacita, dan kesengsaraan, dan aku tidak dapat mencapai pembebasan dari semua penderitaan.

“Ānanda, aku sekarang telah muncul di dunia ini sebagai seorang Tathāgata, bebas dari kemelekatan, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang Yang Pergi-dengan-baik, pengenal dunia, pemimpin yang tidak tertandingi dari orang-orang yang dijinakkan, guru para dewa dan manusia, seorang Buddha, seorang Yang Beruntung.

“Ajaran yang kuberikan sekarang membawa pada yang tertinggi, adalah kemurnian tertinggi, penyelesaian tertinggi kehidupan suci. Aku sekarang telah meninggalkan kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, dukacita, dan kesengsaraan. Aku sekarang telah mencapai pembebasan sempurna dari penderitaan.”

Ini adalah apa yang dikatakan Sang Buddha. Setelah mendengarkan perkataan Sang Buddha, Yang Mulia Ānanda dan para bhikkhu [lainnya] bergembira dan mengingatnya dengan baik.