Saṃyuktāgama

12. Kotbah Kedua tentang Sebab dan Kondisi

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

“Bentuk adalah tidak kekal. Sebab dan kondisi bagi munculnya bentuk apa pun juga tidak kekal. Bentuk apa pun yang muncul dari sebab yang tidak kekal dan kondisi yang tidak kekal, bagaimana mungkin ia kekal?

“Perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran adalah tidak kekal. Sebab dan kondisi bagi munculnya kesadaran apa pun juga tidak kekal. Kesadaran apa pun yang muncul dari sebab yang tidak kekal dan kondisi yang tidak kekal, bagaimana mungkin ia kekal?

“Dengan cara yang sama, para bhikkhu, bentuk adalah tidak kekal, perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran adalah tidak kekal, apa yang tidak kekal adalah dukkha, apa yang merupakan dukkha adalah bukan diri, apa yang bukan diri bukan milikku. Seseorang yang merenungkan seperti ini dianggap merenungkan dengan benar dan tepat.

“Seorang siswa mulia yang merenungkan seperti ini menjadi terbebaskan dari bentuk, terbebaskan dari perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran. Aku katakan ia menjadi sama terbebaskan dari kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran, dukacita, kesakitan dan kekesalan.”

Kemudian para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.