Saṃyuktāgama

13. Kotbah Pertama tentang Kepuasan

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:

“Jika makhluk-makhluk hidup tidak menemukan kepuasan dalam bentuk, mereka tidak akan terkotori oleh bentuk. Karena makhluk-makhluk hidup menemukan kepuasan dalam bentuk, mereka terkotori [oleh bentuk] dan melekat [padanya]. Dengan cara yang sama, jika makhluk-makhluk hidup tidak menemukan kepuasan dalam perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, mereka tidak akan terkotori oleh kesadaran. Karena makhluk-makhluk hidup menemukan kepuasan dalam perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, mereka terkotori oleh kesadaran dan melekat [padanya].

“Para bhikkhu, jika makhluk-makhluk hidup tidak mengalami bahaya dalam bentuk, makhluk-makhluk hidup itu tidak akan menjadi kecewa dengan bentuk. Karena makhluk-makhluk hidup [mengalami] bahaya dalam bentuk, makhluk-makhluk hidup itu menjadi kecewa dengan bentuk. Dengan cara yang sama, jika mereka tidak mengalami bahaya dalam perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, makhluk-makhluk hidup itu tidak menjadi kecewa dengan kesadaran. Karena makhluk-makhluk hidup [mengalami] bahaya dalam perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, makhluk-makhluk hidup menjadi kecewa dengan kesadaran.

“Para bhikkhu, jika bagi makhluk-makhluk hidup tidak ada jalan keluar dari bentuk, makhluk-makhluk hidup itu tidak akan melepaskan diri dari bentuk. Karena bagi makhluk-makhluk hidup terdapat suatu jalan keluar dari bentuk, makhluk-makhluk hidup itu melepaskan diri dari bentuk. Dengan cara yang sama, jika bagi makhluk-makhluk hidup tidak ada jalan keluar dari perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, makhluk-makhluk hidup itu tidak akan melepaskan diri dari kesadaran. Karena bagi makhluk-makhluk hidup terdapat suatu jalan keluar dari perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, makhluk-makhluk hidup itu melepaskan diri dari kesadaran.

“Para bhikkhu, sepanjang aku tidak memahami sebagaimana adanya kepuasan sehubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati sebagai kepuasan, bahayanya sebagai bahaya dan jalan keluarnya sebagai jalan keluar, di antara para dewa, Māra, Brahmā, pertapa, brahmana dan perkumpulan para dewa dan manusia aku tidak terbebaskan, tidak melampaui, tidak terlepas, selamanya berdiam dalam penyimpangan [batin] dan tidak dapat menyatakan diriku sendiri telah mencapai pencerahan sempurna yang tertinggi.

“Para bhikkhu, karena aku telah memahami sebagaimana adanya kepuasan sehubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati sebagai kepuasan, bahayanya sebagai bahaya dan jalan keluarnya sebagai jalan keluar, di antara para dewa, Māra, Brahmā, pertapa, brahmana dan perkumpulan para dewa dan manusia aku dapat menyatakan diriku sendiri telah mencapai pembebasan, telah mencapai yang melampaui, telah mencapai jalan keluar dan telah mencapai pembebasan dari belenggu, selamanya tidak berdiam dalam penyimpangan [batin] dan aku dapat menyatakan diriku sendiri telah mencapai pencerahan sempurna yang tertinggi.”

Kemudian para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.