Saṃyuktāgama

197. Kotbah tentang Terbakar

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di cetiya di Gayāsīsa bersama-sama dengan seribu orang bhikkhu, yang semuanya adalah mantan brahmana berambut kusut.

Pada waktu itu Sang Bhagavā mengajar seribu orang bhikkhu dengan cara melakukan tiga jenis keajaiban. Apakah tiga hal itu? Mereka adalah keajaiban kekuatan batin, keajaiban membaca pikiran, dan keajaiban pengajaran.

Untuk keajaiban kekuatan batin, Sang Bhagavā masuk ke dalam suatu pencapaian konsentrasi yang sesuai untuk mewujubkan naiknya beliau ke udara menuju arah timur untuk melakukan [keajaiban kekuatan batin] dalam empat posisi tubuh dari berjalan, berdiri, duduk, dan berbaring. Beliau masuk ke dalam konsentrasi terhadap api dan berbagai jenis nyala api muncul dalam warna biru, kuning, merah, putih, merah menyala, dan kristal. Beliau mewujudkan api dan air secara bersamaan. Bagian bawah tubuhnya mengeluarkan api dan bagian atas tubuhnya mengeluarkan air, atau sebaliknya bagian atas tubuhnya mengeluarkan api dan bagian bawah tubuhnya mengeluarkan air. Dengan cara yang sama beliau terus bergerak di sekitar empat arah. Kemudian, setelah melakukan berbagai keajaiban, Sang Bhagavā duduk di antara perkumpulan. Ini disebut keajaiban kekuatan batin.

Untuk keajaiban membaca pikiran, [Sang Bhagavā mengetahui] demikianlah pikiran orang lain, demikianlah kehendak orang lain, demikianlah kesadaran orang lain; orang lain akan berpikir seperti ini dan tidak akan berpikir seperti itu, orang lain akan melepaskan seperti ini, orang lain akan berkembang dalam realisasi langsung seperti ini. Ini disebut keajaiban membaca pikiran.

Untuk keajaiban pengajaran, Sang Bhagavā berkata demikian: “Para bhikkhu, semua adalah terbakar. Apakah semua yang terbakar? Yaitu, mata adalah terbakar, bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, itu juga adalah terbakar.

“Dengan cara yang sama telinga … hidung … lidah … badan … pikiran adalah terbakar, objek pikiran, kesadaran-pikiran, kontak-pikiran, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-pikiran, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, itu juga adalah terbakar.

“Dengan apakah ia terbakar? Ia terbakar dengan api nafsu, ia terbakar dengan api kebencian, ia terbakar dengan api delusi, dan ia terbakar dengan api kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan.”

Pada waktu itu, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, melalui ketidakmelekatan, pikiran seribu orang bhikkhu itu terbebaskan dari arus-arus [kekotoran batin].

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.