Saṃyuktāgama

201. Kotbah kepada Seorang Bhikkhu

Demikian telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Kemudian seorang bhikkhu tertentu mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri untuk berdiri pada satu sisi, dan berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā, dengan mengetahui apakah, dengan melihat apakah, seseorang selangkah demi selangkah mencapai penghancuran cepat arus-arus [kekotoran batin]?”

Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada bhikkhu itu: “Seseorang seharusnya dengan benar merenungkan ketidakkekalan. Apakah hal-hal yang tidak kekal? Yaitu, ia seharusnya merenungkan mata sebagai tidak kekal, bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, [itu juga adalah] tidak kekal.”

“Seseorang seharusnya merenungkan telinga … hidung … lidah … badan … pikiran sebagai tidak kekal … objek pikiran … kesadaran-pikiran, kontak-pikiran, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-pikiran, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, itu juga adalah tidak kekal. Bhikkhu, dengan mengetahui seperti ini, dengan melihat seperti ini, seseorang selangkah demi selangkah mencapai penghancuran cepat arus-arus [kekotoran batin].”

Kemudian, mendengar apa yang telah dikatakan Sang Buddha, bhikkhu itu bergembira. Ia memberikan penghormatan dan pergi.

Dengan cara yang sama, seperti kotbah yang diucapkan kepada sang bhikkhu, [kotbah-kotbah lainnya diulangi] dengan perbedaan ini: “dengan mengetahui apakah, dengan melihat apakah … seseorang selangkah demi selangkah mencapai penghancuran semua belenggu … seseorang meninggalkan semua ikatan … seseorang meninggalkan semua kecenderungan yang mendasari … seseorang meninggalkan semua penderitaan yang lebih tinggi … seseorang meninggalkan semua belenggu … sesemua meninggalkan semua arus … seseorang meninggalkan semua kuk … seseorang meninggalkan semua kemelekatan … seseorang meninggalkan semua kontak … seseorang meninggalkan semua rintangan … seseorang meninggalkan semua kekusutan … seseorang meninggalkan semua noda … seseorang meninggalkan semua ketagihan … seseorang meninggalkan semua kehendak [salah] … seseorang meninggalkan pandangan salah dan memunculkan pandangan benar … seseorang meninggalkan ketidaktahuan dan memunculkan pengetahuan?”

“Bhikkhu, dengan cara ini merenungkan mata sebagai tidak kekal … sampai dengan … dengan mengetahui seperti ini, dengan melihat seperti ini, seseorang meninggalkan ketidaktahuan dan memunculkan pengetahuan.”

Kemudian, mendengar apa yang telah dikatakan Sang Buddha, bhikkhu itu bergembira. Dengan bergembira, ia memberikan penghormatan dan pergi.