Saṃyuktāgama

213. Kotbah Pertama tentang Dua Hal

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Aku akan menguraikan kepada kalian tentang dua hal, dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama. Apakah dua hal itu? Mata dan bentuk adalah dua hal, telinga dan suara … hidung dan bebauan … lidah dan rasa … badan dan sentuhan … pikiran dan objek pikiran adalah dua hal. Ini disebut dua hal.

“Seumpamanya seorang pertapa atau brahmana berkata seperti ini: ‘Ini bukan dua hal. Hal-hal yang dinyatakan pertapa Gotama sebagai dua hal, mereka bukan dua hal’, dan ia menyatakan dua hal menurut gagasannya sendiri. Namun, ketika ditanyakan tentang apa yang ia katakan, ia tidak tahu, dan semakin kebingungan, karena ini bukan dalam wilayah [jangkauan]nya. Mengapa demikian?

“Bergantung pada mata dan bentuk, kesadaran-mata muncul. Bergantung pada pertemuan dari tiga hal ini terdapat kontak. Dari kontak muncul perasaan, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral.

“Ia tidak memahami sebagaimana adanya munculnya perasaan ini, lenyapnya perasaan, kepuasan dari perasaan, bahaya dalam perasaan, dan jalan keluar dari perasaan.

“Ia memelihara simpul jasmani dari nafsu keinginan, ia memelihara simpul jasmani dari kebencian, ia memelihara simpul jasmani dari kemelekatan pada aturan-aturan, dan ia mengembangkan simpul jasmani dari pandangan diri, dan ia memelihara dan meningkatkan keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat. Dengan cara ini keseluruhan kumpulan besar dukkha sepenuhnya muncul darinya.

Dengan cara yang sama bergantung pada telinga [dan suara] … hidung [dan bebauan] … lidah [dan rasa] … badan [dan sentuhan] … pikiran dan objek pikiran, kesadaran-pikiran muncul. [Bergantung pada] pertemuan dari ketiga hal ini terdapat kontak … diulangi secara lengkap seperti di atas.

“Lagi, bergantung pada mata dan bentuk, kesadaran-mata muncul. Pertemuan dari tiga hal ini adalah kontak. Bergantung pada kontak terdapat perasaan, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral. Seseorang memahami dengan cara ini munculnya perasaan ini, lenyapnya, kepuasannya, bahayanya, dan jalan keluar darinya.

“Setelah memahaminya dengan cara ini, ia tidak memelihara simpul jasmani dari nafsu keinginan, tidak memelihara simpul jasmani dari kebencian, tidak memelihara simpul jasmani dari kemelekatan pada aturan-aturan, tidak memelihara simpul jasmani dari pandangan diri, dan tidak memelihara keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat. Dengan cara ini keadaan-keadaan jahat dan tidak bermanfaat lenyap dan keseluruhan kumpulan besar dukkha lenyap.

“[Bergantung] pada telinga [dan suara] … hidung [dan bebauan] … lidah [dan rasa] … badan [dan sentuhan] … pikiran dan objek pikiran juga seperti ini.

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.