Saṃyuktāgama

216. Kotbah Pertama tentang Samudera

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Membicarakan tentang ‘samudera raya’ adalah apa yang dibicarakan orang-orang bodoh, ini bukan apa yang dibicarakan orang-orang mulia. Ini hanyalah lebih banyak atau lebih sedikit air.

“Apakah yang disebut oleh orang-orang mulia sebagai ‘samudera’? Yaitu, ketika telah mengenali bentuk dengan mata seseorang memiliki pikiran ketagihan, terkotori oleh kemelekatan, dan nafsu terhadap aktivitas jasmani, ucapan, dan pikiran yang menyenangkan. Ini disebut samudera. Seluruh dunia, dari para asura sampai para deva dan manusia, semuanya tenggelam dalam nafsu terhadap kesenangan demikian. Mereka bagaikan isi perut seekor anjing, mereka bagaikan tumpukan rumput yang tidak beraturan, mereka terjerat, dibelenggu, dan terjebak di dunia ini dan dunia itu.

Dengan cara yang sama juga untuk telinga yang mengenali suara … hidung yang mengenali bebauan … lidah yang mengenali rasa … badan yang mengenali sentuhan … mereka terjerat, dibelenggu, dan terjebak di dunia ini dan dunia itu, juga [diulangi] dengan cara yang sama.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya untuk perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran, dengan cara yang sama juga untuk nafsu, kebencian, dan delusi, dan untuk usia tua, penyakit, dan kematian, [kotbah-kotbah] diulangi dengan cara ini. Seperti halnya tiga kotbah tentang lima indria, juga tiga kotbah tentang enam indria juga diulangi dengan cara ini.