Saṃyuktāgama

32. Kotbah Ketiga kepada Soṇa

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Rājagaha di Hutan Bambu, Tempat Memberi Makan Tupai. Pada waktu itu Yang Mulia Sāriputta sedang berada di Gunung Puncak Burung Bangkai. Kemudian seorang putra perumah tangga bernama Soṇa, yang setiap hari terbiasa berjalan-jalan di sekeliling, tiba di Gunung Puncak Burung Bangkai dan mendekati Yang Mulia Sāriputta. Ia memberikan penghormatan dengan kepalanya pada [kaki Sāriputta] dan mengundurkan diri untuk duduk pada satu sisi.

Kemudian Sāriputta berkata kepada Soṇa: “Jika para pertapa dan brahmana tidak mengetahui bentuk sebagaimana adanya, tidak mengetahui munculnya bentuk sebagaimana adanya, tidak mengetahui lenyapnya bentuk sebagaimana adanya, tidak mengetahui kepuasan dari bentuk sebagaimana adanya, tidak mengetahui bahaya dari bentuk sebagaimana adanya, tidak mengetahui jalan keluar dari bentuk sebagaimana adanya, maka karena alasan ini mereka tidak dapat melampaui bentuk.

“Jika para pertapa dan brahmana tidak mengetahui perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran sebagaimana adanya, tidak mengetahui munculnya kesadaran sebagaimana adanya, tidak mengetahui lenyapnya kesadaran sebagaimana adanya, tidak mengetahui kepuasan dari kesadaran sebagaimana adanya, tidak mengetahui bahaya dari kesadaran sebagaimana adanya, tidak mengetahui jalan keluar dari kesadaran sebagaimana adanya, maka karena alasan ini para pertapa dan brahmana ini tidak dapat melampaui kesadaran.

“Jika para pertapa dan brahmana mengetahui bentuk… munculnya bentuk… lenyapnya bentuk… kepuasan dari bentuk… bahaya dari bentuk… jalan keluar dari bentuk sebagaimana adanya, maka para pertapa dan brahmana ini dapat melampaui bentuk.

“Jika para pertapa dan brahmana mengetahui perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran… munculnya kesadaran… lenyapnya kesadaran… kepuasan dari kesadaran… bahaya dari kesadaran… jalan keluar dari kesadaran sebagaimana adanya, maka para pertapa dan brahmana ini dapat melampaui kesadaran.

“Soṇa, apakah yang engkau pikirkan, apakah bentuk kekal atau tidak kekal?” [Soṇa] menjawab: “Tidak kekal.”

[Sāriputta bertanya]: “Soṇa, apakah yang tidak kekal, apakah ia dukkha?” [Soṇa] menjawab: “Dukkha.”

[Sāriputta bertanya]: “Soṇa, apakah yang tidak kekal, dukkha, bersifat berubah-ubah, apakah yang engkau pikirkan, apakah seorang siswa mulia di sini [menganggap]-nya sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau diri] sebagai ada [di dalamnya]?” [Soṇa] menjawab: “Tidak.”

[Sāriputta bertanya]: “Soṇa, apakah yang engkau pikirkan, apakah perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran kekal atau tidak kekal?” [Soṇa] menjawab: “Tidak kekal.”

[Sāriputta bertanya]: “Apakah yang tidak kekal, apakah ia dukkha?” [Soṇa] menjawab: “Dukkha.”

[Sāriputta bertanya]: “Soṇa, kesadaran yang tidak kekal, dukkha, bersifat berubah-ubah, apakah yang engkau pikirkan, apakah seorang siswa mulia di sini [menganggap]-nya sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau diri] sebagai ada [di dalamnya]?” [Soṇa] menjawab: “Tidak.”

[Sāriputta berkata]: “Soṇa, engkau seharusnya mengetahui bahwa [apa pun] bentuk, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semua bentuk demikian adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [dalam diri ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Ini disebut mengetahui sebagaimana adanya.

“Soṇa, [apa pun] perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semua kesadaran demikian adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [dalam diri ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Ini disebut mengetahui sebagaimana adanya.

“Soṇa, seorang siswa mulia dengan benar merenungkan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini sebagai bukan diri dan bukan milikku. Dengan benar merenungkan dengan cara ini ia tidak menggenggam apa pun di dunia. Ia yang tidak menggenggam apa pun tidak melekat pada apa pun. Ia yang tidak melekat pada apa pun mencapai Nirvāṇa oleh dirinya sendiri, [dengan mengetahui]: “Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’”

Kemudian putra perumah tangga Soṇa, yang mendengarkan apa yang telah dikatakan Sāriputta, dipenuhi dengan kegembiraan, memberikan penghormatan dan pergi.