Saṃyuktāgama

41. Kotbah tentang Lima Putaran

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Terdapat lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati: kelompok unsur bentuk yang dilekati, perasaan… persepsi… bentukan… kelompok unsur kesadaran yang dilekati. Dalam lima cara Aku memahami lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati sebagaimana adanya: Aku memahami bentuk jasmani sebagaimana adanya, Aku memahami munculnya bentuk jasmani… kepuasan dalam bentuk jasmani… bahaya dalam bentuk jasmani… jalan keluar dari bentuk jasmani sebagaimana adanya. Dengan cara yang sama Aku memahami perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran sebagaimana adanya, memahami munculnya kesadaran… kepuasan dalam kesadaran… bahaya dalam kesadaran… jalan keluar dari kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bentuk jasmani sebagaimana adanya? Apa pun bentuk jasmani, semua darinya merupakan empat unsur dan bentuk yang terbentuk dari empat unsur – ini disebut bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami munculnya bentuk jasmani sebagaimana adanya? Kesenangan dan ketagihan terhadap bentuk jasmani – ini disebut munculnya bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami munculnya bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kepuasan dalam bentuk jasmani sebagaimana adanya? Yaitu, kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada bentuk jasmani – ini disebut kepuasan dalam bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami kepuasan dalam bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bahaya dalam bentuk jasmani sebagaimana adanya? Bahwa bentuk jasmani adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami bahaya dalam bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan keluar dari bentuk jasmani sebagaimana adanya? Jika seseorang mendisiplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, dan melampaui nafsu keinginan terhadap bentuk jasmani – ini disebut jalan keluar dari bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami jalan keluar dari bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami perasaan sebagaimana adanya? Terdapat enam kelompok perasaan: perasaan yang muncul dari kontak-mata… [kontak]-telinga… [kontak]-hidung… [kontak]-lidah… [kontak]-badan… dan perasaan yang muncul dari kontak-pikiran – ini disebut perasaan. Dengan cara ini seseorang memahami perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami munculnya perasaan sebagaimana adanya? Dengan munculnya kontak, perasaan muncul – [ini disebut munculnya perasaan]. Dengan cara ini seseorang memahami munculnya perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kepuasan dalam perasaan sebagaimana adanya? Kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada enam perasaan – ini disebut kepuasan dalam perasaan. Dengan cara ini seseorang memahami kepuasan dalam perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bahaya dalam perasaan sebagaimana adanya? Bahwa perasaan adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam perasaan. Dengan cara ini seseorang memahami bahaya dalam perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan keluar dari perasaan sebagaimana adanya? Mendisiplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, dan melampaui nafsu keinginan – ini disebut jalan keluar dari perasaan. Dengan cara ini seseorang memahami jalan keluar dari perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami persepsi sebagaimana adanya? Yaitu, [seseorang memahami] enam kelompok persepsi. Apakah enam hal itu? Yaitu, persepsi yang muncul dari kontak-mata… [kontak]-telinga… [kontak]-hidung… [kontak]-lidah… [kontak]-badan… dan persepsi yang muncul dari kontak-pikiran. Ini disebut persepsi. Dengan cara ini seseorang memahami persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami munculnya persepsi sebagaimana adanya? Yaitu, dengan munculnya kontak, persepsi muncul. [Ini disebut munculnya persepsi]. Dengan cara ini seseorang memahami munculnya persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kepuasan dalam persepsi sebagaimana adanya? Kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada persepsi – ini disebut kepuasan dalam persepsi. Dengan cara ini seseorang memahami kepuasan dalam persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bahaya dalam persepsi sebagaimana adanya? Yaitu, persepsi adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam persepsi. Dengan cara ini seseorang memahami bahaya dalam persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan keluar dari persepsi sebagaimana adanya? Jika seseorang mendisiplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, dan melampaui nafsu keinginan terhadap persepsi – ini disebut jalan keluar dari persepsi. Dengan cara ini seseorang memahami jalan keluar dari persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bentukan sebagaimana adanya? Yaitu, [seseorang memahami] enam kelompok kehendak: kehendak yang muncul dari kontak-mata… [kontak]-telinga… [kontak]-hidung… [kontak]-lidah… [kontak]-badan… dan kehendak yang muncul dari kontak-pikiran – ini disebut bentukan. Dengan cara ini seseorang memahami bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami munculnya bentukan sebagaimana adanya? Yaitu, dengan munculnya kontak, bentukan muncul – [ini disebut munculnya bentukan]. Dengan cara ini seseorang memahami munculnya bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kepuasan dalam bentukan sebagaimana adanya? Yaitu, kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada bentukan – ini disebut kepuasan dalam bentukan. Dengan cara ini seseorang memahami kepuasan dalam bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bahaya dalam bentukan sebagaimana adanya? Bahwa bentukan adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam bentukan. Dengan cara ini seseorang memahami bahaya dalam bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan keluar dari bentukan sebagaimana adanya? Jika seseorang mendisiplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, dan melampaui nafsu keinginan terhadap bentukan – ini disebut jalan keluar dari bentukan. Dengan cara ini seseorang memahami jalan keluar dari bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kesadaran sebagaimana adanya? Yaitu, [seseorang memahami] enam kelompok kesadaran: kelompok kesadaran-mata… [kesadaran]-telinga… [kesadaran]-hidung… [kesadaran]-lidah… [kesadaran]-badan… dan kelompok kesadaran-pikiran. Ini disebut kelompok kesadaran. Dengan cara ini seseorang memahami kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami munculnya kesadaran sebagaimana adanya? Yaitu, dengan munculnya nama-dan-bentuk, [kesadaran muncul] – ini disebut munculnya kesadaran. Dengan cara ini seseorang memahami munculnya kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kepuasan dalam kesadaran sebagaimana adanya? Kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada kesadaran – ini disebut kepuasan dalam kesadaran. Dengan cara ini seseorang memahami kepuasan dalam kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bahaya dalam kesadaran sebagaimana adanya? Bahwa kesadaran adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam kesadaran. Dengan cara ini seseorang memahami bahaya dalam kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan keluar dari kesadaran sebagaimana adanya? Yaitu, mendisiplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, dan melampaui nafsu keinginan terhadap kesadaran – ini disebut jalan keluar dari kesadaran. Dengan cara ini seseorang memahami jalan keluar dari kesadaran sebagaimana adanya.

“Para bhikkhu, jika para pertapa dan brahmana memahami bentuk jasmani dengan cara ini, melihatnya dengan cara ini, dan dengan memahaminya dengan cara ini dan melihatnya dengan cara ini mereka berjalan bebas dari keinginan, maka ini disebut berjalan dengan benar. Jika seseorang berjalan dengan benar, Aku katakan orang itu telah memasuki [ajaran ini]. Perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran juga seperti ini.

“Jika para pertapa dan brahmana memahami bentuk jasmani sebagaimana adanya, melihatnya sebagaimana adanya, [maka] mereka membangkitkan kekecewaan terhadap bentuk jasmani, menjadi bebas dari keinginan, dan melalui ketidakmelekatan mencapai pembebasan dari arus-arus [kekotoran batin] dalam pikiran mereka. Jika pikiran seseorang telah mencapai pembebasan, maka ia menjadi seseorang yang telah menyelesaikan. Ia yang telah menyelesaikan berkembang dalam kehidupan suci. Ia yang berkembang dalam kehidupan suci adalah bebas dan tenang. Inilah yang disebut akhir dukkha.

“Perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran juga seperti ini.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.