Saṃyuktāgama

42. Kotbah tentang Tujuh Hal

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Terampil dalam tujuh hal dan merenungkan maknanya dengan tiga cara, seseorang sepenuhnya mencapai penghancuran arus-arus [kekotoran batin] dalam Dharma ini, mencapai pembebasan pikiran yang bebas-arus dan pembebasan melalui kebijaksanaan, secara pribadi mengetahui di sini dan saat ini dan sepenuhnya berkembang dalam realisasi langsung bahwa ‘kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’

“Bagaimanakah seorang bhikkhu terampil dalam tujuh hal? Para bhikkhu, ini dengan memahami bentuk jasmani sebagaimana adanya, dengan memahami munculnya bentuk jasmani… lenyapnya bentuk jasmani… jalan menuju lenyapnya bentuk jasmani… kepuasan dalam bentuk jasmani… bahaya dalam bentuk jasmani… dan jalan keluar dari bentuk jasmani sebagaimana adanya.

Dengan cara yang sama ini dengan memahami perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran… munculnya kesadaran… lenyapnya kesadaran… jalan menuju lenyapnya kesadaran… kepuasan dalam kesadaran… bahaya dalam kesadaran… dan jalan keluar dari kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bentuk jasmani sebagaimana adanya? Apa pun bentuk jasmani, semua darinya merupakan empat unsur dan bentuk yang terbentuk dari empat unsur – ini disebut bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami munculnya bentuk jasmani sebagaimana adanya? Kesenangan dan ketagihan [terhadap bentuk jasmani] – ini disebut munculnya bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami munculnya bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami lenyapnya bentuk jasmani sebagaimana adanya? Lenyapnya ketagihan dan kesenangan – ini disebut lenyapnya bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami lenyapnya bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan menuju lenyapnya bentuk jasmani sebagaimana adanya? Yaitu, jalan mulia berunsur delapan: pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar – ini disebut jalan menuju lenyapnya bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami jalan menuju lenyapnya bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kepuasan dalam bentuk jasmani sebagaimana adanya? Yaitu, kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada bentuk jasmani – ini disebut kepuasan dalam bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami kepuasan dalam bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bahaya dalam bentuk jasmani sebagaimana adanya? Bahwa bentuk jasmani adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami bahaya dalam bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan keluar dari bentuk jasmani sebagaimana adanya? Yaitu, mendisiplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, dan melampaui nafsu keinginan terhadap bentuk jasmani – ini disebut jalan keluar dari bentuk jasmani. Dengan cara ini seseorang memahami jalan keluar dari bentuk jasmani sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami perasaan sebagaimana adanya? Yaitu, [seseorang memahami] enam kelompok perasaan: perasaan yang muncul dari kontak-mata… [kontak]-telinga… [kontak]-hidung… [kontak]-lidah… [kontak]-badan… dan perasaan yang muncul dari kontak-pikiran – ini disebut perasaan. Dengan cara ini seseorang memahami perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami munculnya perasaan sebagaimana adanya? Dengan munculnya kontak, perasaan muncul – [ini disebut munculnya perasaan]. Dengan cara ini seseorang memahami munculnya perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami lenyapnya perasaan sebagaimana adanya? Dengan lenyapnya kontak, perasaan lenyap – [ini disebut lenyapnya perasaan]. Dengan cara ini seseorang memahami lenyapnya perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan menuju lenyapnya perasaan sebagaimana adanya? Yaitu, ini adalah jalan mulia berunsur delapan: pandangan benar… sampai dengan… konsentrasi benar – ini disebut jalan menuju lenyapnya perasaan. Dengan cara ini seseorang memahami jalan menuju lenyapnya perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kepuasan dalam perasaan sebagaimana adanya? Kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada perasaan – ini disebut kepuasan dalam perasaan. Dengan cara ini seseorang memahami kepuasan dalam perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bahaya dalam perasaan sebagaimana adanya? Bahwa perasaan adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam perasaan. Dengan cara ini seseorang memahami bahaya dalam perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan keluar dari perasaan sebagaimana adanya? Jika seseorang mendisiplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, dan melampaui nafsu keinginan – ini disebut jalan keluar dari perasaan. Dengan cara ini seseorang memahami jalan keluar dari perasaan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami persepsi sebagaimana adanya? Yaitu, [seseorang memahami] enam [kelompok] persepsi: persepsi yang muncul dari kontak-mata… [kontak]-telinga… [kontak]-hidung… [kontak]-lidah… [kontak]-badan… dan persepsi yang muncul dari kontak-pikiran. Ini disebut persepsi. Dengan cara ini seseorang memahami persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami munculnya persepsi sebagaimana adanya? Yaitu, dengan munculnya kontak, persepsi muncul. [Ini disebut munculnya persepsi]. Dengan cara ini seseorang memahami munculnya persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami lenyapnya persepsi sebagaimana adanya? Dengan lenyapnya kontak, persepsi lenyap – [ini disebut lenyapnya persepsi]. Dengan cara ini seseorang memahami lenyapnya persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan menuju lenyapnya persepsi sebagaimana adanya? Yaitu, ini adalah jalan mulia berunsur delapan: pandangan benar… sampai dengan… konsentrasi benar – ini disebut jalan menuju lenyapnya persepsi. Dengan cara ini seseorang memahami jalan menuju lenyapnya persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kepuasan dalam persepsi sebagaimana adanya? Kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada persepsi – ini disebut kepuasan dalam persepsi. Dengan cara ini seseorang memahami kepuasan dalam persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bahaya dalam persepsi sebagaimana adanya? Yaitu, persepsi adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam persepsi. Dengan cara ini seseorang memahami bahaya dalam persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan keluar dari persepsi sebagaimana adanya? Jika seseorang mendisiplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, dan melampaui nafsu keinginan terhadap persepsi – ini disebut jalan keluar dari persepsi. Dengan cara ini seseorang memahami jalan keluar dari persepsi sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bentukan sebagaimana adanya? Yaitu, [seseorang memahami] enam kelompok kehendak: kehendak yang muncul dari kontak-mata… [kontak]-telinga… [kontak]-hidung… [kontak]-lidah… [kontak]-badan… dan kehendak yang muncul dari kontak-pikiran – ini disebut bentukan. Dengan cara ini seseorang memahami bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami munculnya bentukan sebagaimana adanya? Yaitu, dengan munculnya kontak, bentukan muncul – [ini disebut munculnya bentukan]. Dengan cara ini seseorang memahami munculnya bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami lenyapnya bentukan sebagaimana adanya? Dengan lenyapnya kontak, bentukan lenyap – [ini disebut lenyapnya bentukan]. Dengan cara ini seseorang memahami lenyapnya bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan menuju lenyapnya bentukan sebagaimana adanya? Yaitu, ini adalah jalan mulia berunsur delapan: pandangan benar… sampai dengan… konsentrasi benar – ini disebut jalan menuju lenyapnya bentukan. Dengan cara ini seseorang memahami jalan menuju lenyapnya bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kepuasan dalam bentukan sebagaimana adanya? Yaitu, kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada bentukan – ini disebut kepuasan dalam bentukan. Dengan cara ini seseorang memahami kepuasan dalam bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bahaya dalam bentukan sebagaimana adanya? Bahwa bentukan adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam bentukan. Dengan cara ini seseorang memahami bahaya dalam bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan keluar dari bentukan sebagaimana adanya? Jika seseorang mendisiplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, dan melampaui nafsu keinginan terhadap bentukan – ini disebut jalan keluar dari bentukan. Dengan cara ini seseorang memahami jalan keluar dari bentukan sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kesadaran sebagaimana adanya? Yaitu, [seseorang memahami] enam kelompok kesadaran: kelompok kesadaran-mata… [kesadaran]-telinga… [kesadaran]-hidung… [kesadaran]-lidah… [kesadaran]-badan… dan kelompok kesadaran-pikiran. Ini disebut kelompok kesadaran. Dengan cara ini seseorang memahami kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami munculnya kesadaran sebagaimana adanya? Yaitu, dengan munculnya nama-dan-bentuk, kesadaran muncul – [ini disebut munculnya kesadaran]. Dengan cara ini seseorang memahami munculnya kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami lenyapnya kesadaran sebagaimana adanya? Dengan lenyapnya nama-dan-bentuk, kesadaran lenyap – [ini disebut lenyapnya kesadaran]. Dengan cara ini seseorang memahami lenyapnya kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan menuju lenyapnya kesadaran sebagaimana adanya? Yaitu, ini adalah jalan mulia berunsur delapan: pandangan benar… sampai dengan… konsentrasi benar – ini disebut jalan menuju lenyapnya kesadaran. Dengan cara ini seseorang memahami jalan menuju lenyapnya kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami kepuasan dalam kesadaran sebagaimana adanya? Kesenangan dan kegembiraan yang muncul bergantung pada kesadaran – ini disebut kepuasan dalam kesadaran. Dengan cara ini seseorang memahami kepuasan dalam kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami bahaya dalam kesadaran sebagaimana adanya? Bahwa kesadaran adalah tidak kekal, dukkha, dan bersifat berubah-ubah – ini disebut bahaya dalam kesadaran. Dengan cara ini seseorang memahami bahaya dalam kesadaran sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah seseorang memahami jalan keluar dari kesadaran sebagaimana adanya? Jika seseorang mendisiplinkan nafsu keinginan, meninggalkan nafsu keinginan, dan melampaui nafsu keinginan terhadap kesadaran – ini disebut jalan keluar dari kesadaran. [Dengan cara ini seseorang memahami jalan keluar dari kesadaran sebagaimana adanya.]

“Para bhikkhu, ini disebut terampil dalam tujuh hal.

“Bagaimanakah seseorang merenungkan maknanya dengan tiga cara? Para bhikkhu, ini adalah jika pada suatu tempat yang kosong, pada akar sebuah pohon, [atau] pada sebuah tanah lapang yang terbuka seseorang merenungkan kelompok-kelompok unsur kehidupan, unsur-unsur, dan landasan-landasan indera, dan ia memberikan perhatian dengan usaha benar pada maknanya. Ini disebut seorang bhikkhu yang merenungkan maknanya dengan tiga cara.

“Inilah yang disebut seorang bhikkhu yang terampil dalam tujuh hal dan yang merenungkan maknanya dengan tiga cara, dan yang akan sepenuhnya mencapai penghancuran arus-arus [kekotoran batin] dalam Dharma ini, mencapai pembebasan pikiran yang bebas-arus dan pembebasan melalui kebijaksanaan, secara pribadi mengetahui di sini dan saat ini dan sepenuhnya berkembang dalam realisasi langsung bahwa ‘kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.