Saṃyuktāgama

44. Kotbah Kedua tentang Terikat oleh Keterikatan

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Sehubungan dengan memunculkan dan terikat oleh keterikatan; dan tidak memunculkan dan tidak terikat oleh keterikatan. Dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama pada apa yang akan Ku-katakan kepada kalian.

“Bagaimanakah terdapat memunculkan dan terikat oleh keterikatan? Karena seorang duniawi bodoh yang tidak terpelajar tidak memahami sebagaimana adanya munculnya bentuk jasmani, lenyapnya bentuk jasmani, kepuasan dalam bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan keluar dari bentuk jasmani, ia menyenangi bentuk jasmani dengan ketagihan, memujinya, dan melekat padanya dengan keterikatan. Ia melekat pada bentuk jasmani sebagai diri dan sebagai milik diri. Dengan melekat padanya, ketika bentuk jasmani itu berubah, ketika ia menjadi sebaliknya, pikirannya mengikutinya, berubah dan menjadi sebaliknya.

“Karena pikirannya mengikutnya, berubah dan menjadi sebaliknya, ia berdiam dengan pikirannya terobsesi. Karena berdiam dengan pikiran terobsesi, ketakutan dan gangguan dari kekhawatiran muncul, karena memunculkan dan terikat oleh keterikatan. Perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran juga seperti ini. Ini disebut memunculkan dan terikat oleh keterikatan.

“Bagaimanakah tidak terdapat memunculkan dan tidak terikat pada keterikatan? Seorang siswa mulia yang terpelajar memahami sebagaimana adanya munculnya bentuk jasmani, lenyapnya bentuk jasmani, kepuasan dalam bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan keluar dari bentuk jasmani. Karena ia memahaminya sebagaimana adanya, ia tidak menyenanginya dengan ketagihan, memujinya [atau] melekat padanya dengan keterikatan. Ia tidak terikat padanya dan tidak melekat padanya sebagai diri dan sebagai milik diri. Karena tidak melekat padanya, ketika bentuk jasmani itu berubah, ketika ia menjadi sebaliknya, pikirannya tidak mengikutinya, berubah dan menjadi sebaliknya.

“Karena pikirannya tidak mengikutinya, berubah dan menjadi sebaliknya, pikirannya tidak terikat oleh keterikatan yang berdiam mengobsesi pikirannya. Karena tidak berdiam dengan pikiran terobsesi, tidak ada ketakutan dan gangguan dari kekhawatiran dalam pikiran, karena tidak memunculkan dan tidak terikat oleh keterikatan. Perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran juga seperti ini. Ini disebut tidak memunculkan dan tidak terikat oleh keterikatan.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.