Saṃyuktāgama

53. Kotbah di Sālā

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang mengembara di antara orang-orang negeri Kosala, berdiam di sebuah hutan Siṃsāpa di sebelah utara desa Sālā.

Pada waktu itu para pemimpin desa, para brahmana dari suku-suku besar, telah mendengar bahwa Pertapa [Gotama], putra dari suku Sakya, dari keluarga besar Sakya, yang telah mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan demi keyakinan yang benar meninggalkan keduniawian menuju keadaan tanpa rumah untuk berlatih dalam sang jalan, telah menyempurnakan pencerahan yang tertinggi dan sempurna. Beliau sedang mengembara di sini di antara orang-orang negeri Kosala dan telah sampai di desa Sālā ini, berdiam di hutan Siṃsāpa di sebelah utara desa itu.

Lebih lanjut, bahwa Pertapa Gotama telah dipuji dengan berbagai nama baik, yang terdengar dalam delapan arah, sebagai seseorang yang dipuji sebagai benar-benar suci oleh para deva dan manusia: Beliau adalah seorang Tathāgata, seorang arahant, yang tercerahkan sempurna dan sepenuhnya, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, seorang yang pergi dengan baik, seorang pengenal dunia, seorang yang tiada bandingnya, pemimpin orang-orang yang dijinakkan, guru para deva dan manusia, seorang Buddha, seorang yang terberkahi. Di seluruh dunia, di antara para deva, Māra, Brahmā, para pertapa dan brahmana, Beliau memiliki kebijaksanaan agung dan telah secara pribadi merealisasi dan mengetahui: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’

Kepada dunia Beliau mengajarkan mengajarkan suatu Dharma yang baik pada awalnya, pertengahannya, dan akhirnya, yang memiliki makna yang baik dan ungkapan yang baik, dan [Beliau mengajarkan] kehidupan suci yang sepenuhnya lengkap dan murni. Beliau menguraikan Dharma yang mendalam. Akan baik jika seseorang menemui Beliau, adalah baik jika seseorang mendekati-Nya, adalah baik jika seseorang memberikan penghormatan kepada-Nya!

Setelah memiliki pemikiran ini, mereka memasangkan kuda mereka pakaian dan, diikuti oleh banyak pelayan yang membawa wadah, tongkat, dan payung emas, mereka mendekati Sang Buddha untuk memberikan penghormatan dan memberikan persembahan. Setelah sampai pada pintu masuk hutan mereka turun dari kereta mereka untuk meneruskan [perjalanan] dengan berjalan kaki untuk mendekati Sang Bhagava. Mereka menanyakan tentang kabar baik Beliau, mengundurkan diri untuk duduk di satu sisi dan berkata kepada Sang Bhagava: “Pertapa Gotama, apakah yang Anda nyatakan, apakah yang Anda ajarkan?”

Sang Buddha berkata kepada para brahmana itu: “Aku menyatakan sebab, Aku mengajarkan sebab.”

Mereka bertanya lagi kepada Sang Buddha: “Apakah sebab yang Anda nyatakan, apakah sebab yang Anda ajarkan?”

Sang Buddha berkata kepada para brahmana itu: “Terdapat sebab dan kondisi untuk munculnya dunia, terdapat sebab dan kondisi bagi dunia untuk muncul. Terdapat sebab dan kondisi untuk lenyapnya dunia, terdapat sebab dan kondisi bagi dunia untuk lenyap.”

Para brahmana itu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagava, apakah sebab dan kondisi untuk munculnya dunia, apakah sebab dan kondisi bagi dunia untuk muncul?”

Sang Buddha berkata kepada para brahmana itu: “Seorang duniawi bodoh yang tidak terpelajar tidak memahami sebagaimana adanya munculnya bentuk jasmani, lenyapnya bentuk jasmani, kepuasan dalam bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan keluar dari bentuk jasmani. Karena tidak memahaminya sebagaimana adanya, ia menginginkan dan menyenangi bentuk jasmani, ia memuji bentuk jasmani, dan ia berdiam dengan pikiran yang terkotori oleh keterikatan. Karena ketagihan dan kesenangan dalam bentuk jasmani, ia melekat padanya. Bergantung pada kemelekatan terdapat kemenjadian. Bergantung pada kemenjadian terdapat kelahiran. Bergantung pada kelahiran terdapat usia tua, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan. Inilah bagaimana kumpulan besar dukkha ini muncul.

“Perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran juga seperti ini. Para brahmana, ini disebut sebab dan kondisi untuk munculnya dunia, ini adalah sebab dan kondisi bagi dunia untuk muncul.”

Para brahmana itu berkata kepada Sang Buddha: “Apakah sebab dan kondisi untuk lenyapnya dunia, apakah sebab dan kondisi bagi dunia untuk lenyap?”

Sang Buddha berkata kepada para brahmana itu: “Seorang siswa mulia yang terpelajar memahami sebagaimana adanya munculnya bentuk jasmani, lenyapnya bentuk jasmani, kepuasan dalam bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan keluar dari bentuk jasmani. Dengan memahaminya sebagaimana adanya, ia tidak menginginkan atau menyenangi bentuk jasmani, ia tidak memujinya, dan ia berdiam tanpa terkotori oleh keterikatan dan tanpa mengambil sikap terhadapnya. Karena berdiam tanpa ketagihan dan kesenangan, dan tanpa mengambil sikap terhadapnya, ketagihan terhadap bentuk jasmani lenyap. Dengan lenyapnya ketagihan, kemelekatan lenyap. Dengan lenyapnya kemelekatan, kemenjadian lenyap. Dengan lenyapnya kemenjadian, kelahiran lenyap. Dengan lenyapnya kelahiran, usia tua, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan lenyap.

“Perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran juga seperti ini. Para brahmana, ini disebut sebab dan kondisi untuk lenyapnya dunia, ini adalah sebab dan kondisi bagi dunia untuk lenyap.”

Para brahmana itu berkata kepada Sang Buddha: “Gotama, dengan cara ini Anda menyatakan sebab, dengan cara ini Anda mengajarkan sebab. Kami memiliki banyak urusan di dunia, sekarang kami memohon izin untuk kembali.”

Sang Buddha berkata kepada para brahmana itu: “Ketahuilah bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk melakukannya.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para brahmana itu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira di dalamnya. Mereka memberikan penghormatan pada kaki-Nya dan pergi.