Saṃyuktāgama

54. Kotbah tentang Dunia

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vārāṇasī di Taman Rusa, Tempat Kediaman Para Pertapa.

Pada waktu itu seorang brahmana dari desa *Vigatāloka datang dan mendekati Sang Buddha. Ia memberikan penghormatan, bertukar salam ramah tamah, mengundurkan diri untuk duduk pada satu sisi, dan berkata kepada Sang Buddha: “Gotama, aku memiliki seorang siswa muda yang mengetahui ilmu perbintangan dan silsilah keluarga, dan yang untuk seluruh perkumpulan besar membuat ramalan berdasarkan tanda-tanda yang menguntungkan dan tidak menguntungkan. Dari apa yang ia katakan ada, ini pastinya ada. Dari apa yang ia katakan tidak ada, ini pastinya tidak ada. Dari apa yang ia katakan bahwa ini menjadi terselesaikan, ini pasti akan menjadi terselesaikan. Dari apa yang ia katakan bahwa ini akan hancur, ini pasti akan hancur. Gotama, apakah yang Anda pikirkan tentang hal ini?”

Sang Buddha berkata kepada brahmana itu: “Biarkanlah untuk saat ini siswa mudamu yang mengetahui ilmu perbintangan dan silsilah keluarga. Aku sekarang akan bertanya kepadamu, jawablah seperti yang engkau pikirkan. Brahmana, apakah yang engkau pikirkan, apakah bentuk jasmani mulanya tanpa silsilah?”

Ia menjawab: “Demikianlah, Sang Bhagava.”

[Sang Buddha berkata:] “Apakah perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran mulanya tanpa silsilah?”

Ia menjawab: “Demikianlah, Sang Bhagava.”

Sang Buddha berkata kepada brahmana itu: “Engkau mengatakan: ‘Aku memiliki seorang siswa muda yang mengetahui ilmu perbintangan dan silsilah keluarga, dan yang untuk perkumpulan besar membuat pernyataan-pernyataan sedemikian sehingga dari apa yang ia katakan ada, ini pasti ada; dari apa yang ia katakan tidak ada, ini pastinya tidak ada. Apa yang ia ketahui dan lihat, apakah ini bukan tidak nyata?”

Brahmana itu berkata kepada Sang Buddha: “Demikianlah, Sang Bhagava.”

Sang Buddha berkata kepada brahmana itu: “Apakah yang engkau pikirkan, apakah terdapat suatu bentuk jasmani yang tetap kekal selama seratus tahun, atau apakah ia muncul dengan berbeda dan lenyap dengan berbeda? [Apakah terdapat] perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran yang tetap kekal selama seratus tahun, atau apakah ia muncul dengan berbeda dan lenyap dengan berbeda?”

Ia menjawab: “Demikianlah, Sang Bhagava, [ia muncul dan lenyap dengan berbeda].”

Sang Buddha berkata kepada brahmana itu: “Apakah yang engkau pikirkan, siswa mudamu yang mengetahui ilmu perbintangan dan silsilah keluarga, dan yang untuk perkumpulan besar membuat pernyataan tentang apa yang akan terselesaikan dan apa yang tidak akan hancur, apa yang ia ketahui dan lihat, apakah ini sungguh berbeda [dari apa yang baru saja Ku-katakan]?”

Ia menjawab: “Demikianlah, Sang Bhagava.”

Sang Buddha berkata kepada brahmana itu: “Apakah yang engkau pikirkan, ajaran ini dan ajaran itu, perkataan ini dan perkataan itu, manakah yang lebih tinggi?”

Brahmana itu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagava, ini adalah ucapan sesuai dengan Dharma, seperti yang telah Sang Buddha ucapkan, melalui mengungkapkan dan mengajarkan. Ini seperti halnya dapat menyelamatkan seseorang yang tenggelam, dapat mengamankan seorang tahanan yang telah tertangkap, dengan menunjukkan jalan kepada yang tersesat, atau memberikan pelita yang terang kepada seseorang yang berada dalam kegelapan. Sang Bhagava sekarang telah mengucapkan dengan baik Dharma yang mendalam dan lebih jauh mengungkapkan dan mengajarkanku dengan cara ini.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, Brahmana *Vigatāloka, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira di dalamnya. Ia bangkit dari tempat duduknya, memberikan penghormatan pada kaki [Sang Buddha] dan pergi.