Saṃyuktāgama

62. Kotbah tentang Kemelekatan yang Penuh Nafsu

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Terdapat lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati, yaitu, kelompok unsur bentuk jasmani yang dilekati… perasaan… persepsi… bentukan… kelompok unsur kesadaran yang dilekati.

“Seorang duniawi dungu yang tidak terpelajar, yang bodoh dan tanpa kebijaksanaan, sehubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati memunculkan pandangan diri, yang adalah suatu ikatan dari kemelekatan dan kecenderungan batin pada belenggu yang memunculkan nafsu keinginan.

“Para bhikkhu, seorang siswa mulia yang terpelajar, yang memiliki pengetahuan dan penglihatan sehubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati tidak memiliki pandangan diri, yang adalah suatu ikatan dari kemelekatan dan kecenderungan batin pada belenggu yang memunculkan nafsu keinginan.

“Bagaimanakah seorang duniawi dungu yang tidak terpelajar, yang bodoh dan tanpa kebijaksanaan, sehubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati memiliki pandangan diri, yang adalah suatu ikatan dari kemelekatan dan kecenderungan batin pada belenggu yang memunculkan nafsu keinginan?

“Para bhikkhu, seorang duniawi dungu yang tidak terpelajar, yang bodoh dan tanpa kebijaksanaan, melihat bentuk jasmani sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau suatu diri] sebagai ada [di dalam bentuk jasmani]. Dengan cara yang sama [ia melihat] perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau suatu diri] sebagai ada [di dalam kesadaran]. Dengan cara ini seorang duniawi dungu yang tidak terpelajar, yang bodoh dan tanpa kebijaksanaan, sehubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati menyatakan suatu diri, yang adalah suatu ikatan dari kemelekatan dan kecenderungan batin pada belenggu yang memunculkan nafsu keinginan.

“Para bhikkhu, bagaimanakah seorang siswa mulia [yang terpelajar], yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan, tidak menyatakan suatu diri, yang adalah suatu ikatan dari kemelekatan dan kecenderungan batin pada belenggu yang memunculkan nafsu keinginan? Seorang siswa mulia [yang terpelajar] tidak melihat bentuk jasmani sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau suatu diri] sebagai ada [di dalam bentuk jasmani]. Dengan cara yang sama ia tidak melihat perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau suatu diri] sebagai ada [di dalam kesadaran]. Dengan cara ini seorang siswa mulia yang terpelajar, yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan, sehubungan dengan lima kelompok unsur kehidupan tidak memiliki pandangan diri, yang adalah suatu ikatan dari kemelekatan dan kecenderungan batin pada belenggu yang memunculkan nafsu keinginan.

“Apa pun bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semua [bentuk jasmani] demikian ia dengan benar merenungkannya semua sebagai sepenuhnya tidak kekal. Dengan cara yang sama [apa pun] perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semua [kesadaran] demikian ia dengan benar merenungkannya semua sebagai sepenuhnya tidak kekal.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.