Saṃyuktāgama

65. Kotbah tentang Perasaan

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Kalian seharusnya terus-menerus berlatih meditasi dengan tekun, menenangkan pikiran dari dalam. Mengapa demikian? Para bhikkhu, kalian seharusnya berlatih meditasi dengan tekun, menenangkan pikiran dari dalam dan menyelidiki [kelompok unsur kehidupan] sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah menyelidiki [kelompok unsur kehidupan] sebagaimana adanya? [Dengan cara ini:] ‘Inilah bentuk jasmani, inilah munculnya bentuk jasmani, inilah lenyapnya bentuk jasmani. Inilah perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, inilah munculnya kesadaran, inilah lenyapnya kesadaran.’

“Apakah munculnya bentuk jasmani, munculnya perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran? Seorang duniawi bodoh yang tidak terpelajar tidak menyelidiki perasaan menyakitkan, menyenangkan atau netral sebagaimana adanya: ‘inilah munculnya perasaan, lenyapnya perasaan, kepuasan dari perasaan, bahaya dalam perasaan, dan jalan keluar dari perasaan.’ Karena tidak menyelidikinya sebagaimana adanya, ia menyenangi perasaan dan terikat padanya, memunculkan kemelekatan. Bergantung pada kemelekatan, terdapat kemenjadian. Bergantung pada kemenjadian, terdapat kelahiran. Bergantung pada kelahiran, terdapat usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan. Dengan cara ini keseluruhan kumpulan besar dukkha ini muncul terus-menerus. Ini disebut munculnya bentuk jasmani, ini disebut munculnya perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran.

“Apakah lenyapnya bentuk jasmani, lenyapnya perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran? Seorang siswa mulia yang terpelajar menyelidiki pengalaman dari perasaan menyakitkan, menyenangkan atau netral sebagaimana adanya: ‘inilah munculnya perasaan, lenyapnya perasaan, kepuasan dari perasaan, bahaya dalam perasaan, dan jalan keluar dari perasaan.’ Karena menyelidikinya sebagaimana adanya, kesenangan dalam perasaan dan keterikatan padanya lenyap. Karena lenyapnya keterikatan, kemelekatan lenyap. Karena lenyapnya kemelekatan, terdapat lenyapnya kemenjadian. Karena lenyapnya kemenjadian, terdapat lenyapnya kelahiran. Karena lenyapnya kelahiran, terdapat lenyapnya usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan. Dengan cara ini keseluruhan kumpulan besar dukkha ini sepenuhnya lenyap. Ini disebut lenyapnya bentuk jasmani, lenyapnya perasaan… perasaan… bentukan… kesadaran.

“Oleh sebab itu, para bhikkhu, kalian seharusnya terus-menerus berlatih meditasi dengan tekun, menenangkan pikiran dari dalam. Seorang bhikkhu yang berkembang dalam meditasi dengan usaha yang tekun dan yang menenangkan pikiran dari dalam, menyelidiki [kelompok unsur kehidupan] sebagaimana adanya.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya “menyelidiki”, dengan cara yang sama untuk “menganalisis”, “menganalisis dengan berbagai cara”, “memahami”, “memahami secara luas”, “memahami dengan berbagai cara”, “menjadi familiar dengan”, “menjadi familiar dengan berlatih”, “terlibat dalam”, “mengontak”, dan “menyadari”, dua belas kotbah seharusnya dibacakan secara lengkap dengan cara yang sama.