Saṃyuktāgama

67. Kotbah tentang Menyenangi

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Kalian seharusnya terus-menerus berlatih meditasi dengan tekun, menenangkan pikiran dari dalam. Mengapa demikian? Setelah berlatih meditasi dengan tekun dan menenangkan pikiran dari dalam, seseorang menyelidiki [kelompok unsur kehidupan] sebagaimana adanya.

“Bagaimanakah menyelidiki [kelompok unsur kehidupan] sebagaimana adanya? Dengan memahami sebagaimana adanya: ‘Inilah bentuk jasmani, inilah munculnya bentuk jasmani, inilah lenyapnya bentuk jasmani. Inilah perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, inilah munculnya kesadaran, inilah lenyapnya kesadaran.’

“Apakah munculnya bentuk jasmani, munculnya perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran? Seorang duniawi bodoh yang tidak terpelajar tidak memahami sebagaimana adanya munculnya bentuk jasmani, lenyapnya bentuk jasmani, kepuasan dari bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan keluar dari bentuk jasmani. Karena tidak memahaminya sebagaimana adanya, ia menyenangi dengan keterikatan pada bentuk jasmani itu, ia memuji bentuk jasmani. Karena menyenangi dengan keterikatan pada bentuk jasmani dan memuji bentuk jasmani, terdapat kemelekatan. Bergantung pada kemelekatan, terdapat kemenjadian. Bergantung pada kemenjadian, terdapat kelahiran. Bergantung pada kelahiran, terdapat usia tua, [penyakit], kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan. Dengan cara ini keseluruhan kumpulan besar dukkha ini muncul. Ini disebut munculnya bentuk jasmani, munculnya perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran.

“Apakah lenyapnya bentuk jasmani, lenyapnya perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran? Seorang siswa mulia yang terpelajar memahami sebagaimana adanya munculnya bentuk jasmani, lenyapnya bentuk jasmani, kepuasan dari bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan keluar dari bentuk jasmani. Karena memahaminya sebagaimana adanya, ia tidak menyenangi dengan keterikatan pada bentuk jasmani, ia tidak memuji bentuk jasmani. Karena tidak menyenangi dengan keterikatan pada bentuk jasmani dan tidak memujinya, ketagihan dan kesenangan lenyap. Karena lenyapnya ketagihan dan kesenangan, kemelekatan lenyap. Karena lenyapnya kemelekatan, kemenjadian lenyap. Karena lenyapnya kemenjadian, kelahiran lenyap. Karena lenyapnya kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan lenyap. Dengan cara ini keseluruhan kumpulan besar dukkha ini lenyap.

“Seorang siswa mulia yang terpelajar memahami perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran sebagaimana adanya, memahami munculnya kesadaran, lenyapnya kesadaran, kepuasan dari kesadaran, bahaya dari kesadaran, dan jalan keluar dari kesadaran. Karena memahaminya [sebagaimana adanya], ia tidak menyenangi dengan keterikatan pada kesadaran itu, ia tidak memuji kesadaran. Karena tidak menyenangi dengan keterikatan pada kesadaran dan memujinya, ketagihan dan kesenangan lenyap. Karena lenyapnya ketagihan dan kesenangan, kemelekatan lenyap. Karena lenyapnya kemelekatan, kemenjadian lenyap. Karena lenyapnya kemenjadian, kelahiran lenyap. Karena lenyapnya kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan lenyap. Dengan cara ini keseluruhan kumpulan besar dukkha ini lenyap, ia semuanya mencapai lenyapnya sepenuhnya. Para bhikkhu, ini disebut lenyapnya bentuk jasmani, lenyapnya perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran.

“Para bhikkhu, kalian seharusnya terus-menerus berlatih meditasi dengan tekun, menenangkan pikiran dari dalam.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya “menyelidiki”… sampai dengan… “menyadari”, dua belas kotbah seharusnya dibacakan secara lengkap dengan cara yang sama.