Saṃyuktāgama

74. Kotbah tentang Mendekati

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Terdapat lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati. Apakah lima hal itu? Mereka adalah kelompok unsur bentuk jasmani yang dilekati… perasaan… persepsi… bentukan… kelompok unsur kesadaran yang dilekati.

“Seorang duniawi bodoh yang tidak terpelajar tidak memahami sebagaimana adanya bentuk jasmani, munculnya bentuk jasmani, lenyapnya bentuk jasmani, kepuasan dari bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan keluar dari bentuk jasmani.

“Karena tidak memahaminya sebagaimana adanya, ia menyenangi bentuk jasmani, memujinya, terikat padanya dengan keterikatan, dan berkembang padanya. Terikat oleh ikatan dari bentuk jasmani, ia terikat oleh ikatan dari dalam, tanpa memahami asal mulanya, tanpa memahami menyeberanginya, tanpa memahami jalan keluar darinya.

“Ini disebut seorang duniawi bodoh yang tidak terpelajar yang dengan demikian berada dalam ikatan kelahiran dan dengan demikian berada dalam ikatan kematian. Oleh karenanya ia berada dalam ikatan pergi dari dunia ini menuju dunia berikutnya. Di sana, juga, ia dengan demikian berada lagi dalam ikatan kelahiran dan dengan demikian dalam ikatan kematian. Ini disebut seorang duniawi bodoh yang tidak terpelajar yang mengikuti kekuatan Māra, yang telah masuk ke dalam jaring Māra, yang mengikuti manifestasi Māra, yang telah terikat oleh Māra dan yang ditarik oleh Māra Untuk perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran ini juga dengan cara ini.

“Seorang siswa mulia yang terpelajar memahami sebagaimana adanya bentuk jasmani, munculnya bentuk jasmani, lenyapnya bentuk jasmani, kepuasan dari bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan keluar dari bentuk jasmani.

“Karena memahaminya sebagaimana adanya, ia tidak memiliki nafsu yang menyenangi bentuk jasmani, tidak memujinya, tidak terikat padanya dengan keterikatan dan berkembang padanya. Dengan tidak terikat oleh ikatan dari bentuk jasmani, ia tidak terikat oleh ikatan dari dalam, ia memahami asal mulanya, memahami menyeberanginya, dan memahami jalan keluar darinya.

“Ini disebut seorang siswa mulia yang terpelajar yang tidak mengikuti ikatan kelahiran dan tidak mengikuti ikatan kematian. Ia tidak mengikuti ikatan pergi dari dunia ini menuju dunia berikutnya dan tidak mengikuti kekuatan Māra, tidak masuk ke dalam tangan Māra, tidak mengikuti aktivitas Māra, tidak terikat oleh Māra; ia terbebaskan dari ikatan Māra dan bebas dari ditariknya oleh Māra. Untuk perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran ini juga dengan cara yang sama.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.