Saṃyuktāgama

81. Kotbah tentang Pūraṇa

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vesalī di Aula dengan Atap yang Berujung Runcing di tepi Kolam Kera.

Pada waktu itu terdapat seorang Licchavi bernama Mahānāma, yang setiap hari terbiasa berkeliling di sekitar itu. Ketika ia mendekati Sang Buddha, orang Licchavi itu berpikir: “Jika aku mendekati Sang Bhagavā di pagi hari, maka Sang Bhagavā dan para bhikkhu yang kuketahui semuanya sedang bermeditasi. Biarlah aku sekarang mendekati para ājīvika dan para praktisi ajaran menyimpang yang sedang berada di Tujuh Pohon Mangga.” Ia mendekati tempat di mana Pūraṇa Kassapa berdiam.

Kemudian Pūraṇa Kassapa, yang merupakan pemimpin dari suatu perkumpulan para praktisi ajaran menyimpang, dikelilingi pada semua sisi oleh lima ratus orang praktisi ajaran menyimpang, yang membuat keributan mendiskusikan hal-hal duniawi. Lalu Pūraṇa Kassapa, ketika melihat dari jauh bahwa Mahānāma orang Licchavi datang, berkata kepada para pengikutnya agar mereka berdiam diri: “Kalian tenanglah! Ini adalah Mahānāma orang Licchavi, yang adalah seorang siswa pertapa Gotama. Di antara mereka yang adalah para siswa berjubah putih pertapa Gotama di Vesalī, ia adalah yang paling terkemuka. Mereka selalu bergembira dalam ketenangan dan memuji ketenangan. Ia mendekati perkumpulan yang tenang, oleh sebab itu kalian harus tenang.”

Kemudian Mahānāma mendekati perkumpulan Pūraṇa dan bertukar salam ramah tamah dengan Pūraṇa. Setelah dengan ramah memberi salam satu sama lain, ia mengundurkan diri untuk duduk pada satu sisi. Lalu Mahānāma berkata kepada Pūraṇa: “Aku mendengar bahwa Pūraṇa memberikan ajaran ini kepada para siswanya: ‘Tidak ada sebab, tidak ada kondisi untuk kekotoran makhluk-makhluk hidup; tidak ada sebab, tidak ada kondisi untuk pemurnian makhluk-makhluk hidup.’

“Di dunia, adakah suatu ajaran yang demikian? Apakah benar ini ajaran anda? Atau apakah ini suatu perkataan oleh orang luar untuk mencela anda? Apakah ini disusun oleh orang-orang di dunia, apakah ini ajaran anda atau bukan ajaran anda? Adakah orang-orang di dunia yang telah mendiskusikan ini dengan anda, dengan dekat menanyakan anda tentang ini, dan mencelanya?”

Pūraṇa Kassapa berkata: “Adalah benar bahwa terdapat suatu ajaran yang demikian [olehku], ini tidak diturunkan dengan salah di dunia. Aku telah mengembangkan ajaran ini, ajaran ini sesuai dengan pengajaran dan ajaranku. Aku menyatakan ajaran ini, ini sesuai dengan ajaranku dan tidak ada orang di dunia ini yang datang dan, dengan dekat menanyakanku, mencelanya. Mengapa demikian? Mahānāma, aku memiliki pandangan ini dan membuat pernyataan ini: ‘Tidak ada sebab, tidak ada kondisi untuk kekotoran makhluk-makhluk hidup; tidak ada sebab, tidak ada kondisi untuk pemurnian makhluk-makhluk hidup.’”

Kemudian Mahānāma, yang mendengarkan apa yang telah dikatakan Pūraṇa, tidak bergembira dalam pikirannya. Setelah tidak menyetujuinya, ia bangkit dari tempat duduknya dan pergi. Ia mendekati Sang Bhagavā, memberikan penghormatan dengan kepalanya pada kaki [Sang Buddha], mengundurkan diri untuk duduk pada satu sisi dan menceritakan pada Sang Buddha secara lengkap diskusi yang telah ia lakukan dengan Pūraṇa.

Sang Buddha berkata kepada Mahānāma orang Licchavi: “Apa yang dikatakan Pūraṇa, yang mengemukakan gagasannya, tidak layak diingat. Demikianlah Pūraṇa adalah seorang yang bodoh, ia tidak membedakan dan tidak terampil. Dengan menyangkal sebab, ia mengatakan ini: ‘Tidak ada sebab, tidak ada kondisi untuk kekotoran makhluk-makhluk hidup; tidak ada sebab, tidak ada kondisi untuk pemurnian makhluk-makhluk hidup.’ Mengapa demikian? [Karena] terdapat sebab, terdapat kondisi untuk kekotoran makhluk-makhluk hidup; terdapat sebab, terdapat kondisi untuk pemurnian makhluk-makhluk hidup.’

“Mahānāma, apakah sebabnya, apakah kondisi untuk kekotoran makhluk-makhluk hidup? Apakah sebabnya, apakah kondisi untuk pemurnian makhluk-makhluk hidup?

“Mahānāma, jika bentuk jasmani sepenuhnya dukkha dan tidak menyenangkan, tidak diikuti oleh kesenangan dan tidak memelihara kesenangan, yang tanpa kesenangan, [maka] makhluk-makhluk hidup tidak akan membangkitkan kesenangan dan kemelekatan karenanya. Mahānāma, karena bentuk jasmani tidak sepenuhnya dukkha dan tidak menyenangkan, [tetapi] diikuti oleh kesenangan dan memelihara kesenangan, yang bukan tanpa kesenangan, oleh sebab itu makhluk-makhluk terkotori oleh kemelekatan pada bentuk jasmani. Karena terkotori oleh kemelekatan, mereka terikat padanya. Karena terikat padanya, terdapat kekesalan.

“Mahānāma, jika perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran sepenuhnya dukkha dan tidak menyenangkan, tidak diikuti oleh kesenangan dan tidak memelihara kesenangan, yang tanpa kesenangan, [maka] makhluk-makhluk hidup tidak akan membangkitkan kesenangan dan kemelekatan karenanya. Mahānāma, karena kesadaran tidak sepenuhnya dukkha dan tidak menyenangkan, [tetapi] diikuti oleh kesenangan dan memelihara kesenangan, yang bukan tanpa kesenangan, oleh sebab itu makhluk-makhluk terkotori oleh kemelekatan pada kesadaran. Karena terkotori oleh kemelekatan, mereka terikat padanya. Karena terikat padanya, kekesalan muncul.

“Mahānāma, inilah yang disebut [penjelasan tentang]: ‘terdapat sebab, terdapat kondisi untuk kekotoran makhluk-makhluk hidup.’

“Mahānāma, apakah sebabnya, apakah kondisi untuk pemurnian makhluk-makhluk hidup?

“Mahānāma, jika bentuk jasmani sepenuhnya menyenangkan dan bukan dukkha, tidak diikuti oleh dukkha dan tidak memelihara dukacita dan kesakitan, yang tanpa dukkha, [maka] makhluk-makhluk hidup tidak akan membangkitkan kekecewaan karena bentuk jasmani. Mahānāma, karena bentuk jasmani tidak sepenuhnya menyenangkan dan adalah dukkha, diikuti oleh dukkha dan memelihara dukacita dan kesakitan, yang bukan tanpa dukkha, oleh sebab itu makhluk-makhluk hidup membangkitkan kekecewaan terhadap bentuk jasmani. Karena menjadi kecewa, mereka tidak menyenanginya. Karena tidak menyenanginya, mereka terbebaskan darinya.

“Mahānāma, jika perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran sepenuhnya menyenangkan dan bukan dukkha, tidak diikuti oleh dukkha dan tidak memelihara dukacita dan kesakitan, yang tanpa dukkha, [maka] makhluk-makhluk hidup tidak akan membangkitkan kekecewaan karena kesadaran. Mahānāma, karena perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran tidak sepenuhnya menyenangkan dan adalah dukkha, diikuti oleh dukkha dan memelihara dukacita dan kesakitan, yang bukan tanpa dukkha, oleh sebab itu makhluk-makhluk hidup membangkitkan kekecewaan terhadap kesadaran. Karena menjadi kecewa, mereka tidak menyenanginya. Karena tidak menyenanginya, mereka terbebaskan darinya.

“Mahānāma, inilah yang disebut [penjelasan dari]: ‘Terdapat sebab, terdapat kondisi untuk pemurnian makhluk-makhluk hidup’.”

Kemudian Mahānāma, yang mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, sangat bergembira. Ia memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dan pergi.