Saṃyuktāgama

82. Kotbah di Taman Bambu

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di tempat kediaman di Taman Bambu [Timur] di antara orang-orang Ceti.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Apakah yang seorang siswa mulia yang terpelajar anggap sebagai tidak kekal dan dukkha?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā adalah akar Dharma, mata Dharma, landasan Dharma. Semoga Beliau mengajarkan kami! Setelah mendengarkannya, para bhikkhu akan menerimanya dengan hormat seperti yang telah Beliau ajarkan.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama pada apa yang akan Ku-katakan kepada kalian. Seorang siswa mulia yang terpelajar menganggap bentuk jasmani sebagai tidak kekal dan dukkha, ia menganggap perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran sebagai tidak kekal dan dukkha. Para bhikkhu, apakah bentuk jasmani kekal atau tidak kekal?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Tidak kekal, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha berkata]: “Para bhikkhu, apa yang tidak kekal, apakah ia dukkha?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Dukkha, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha berkata]: “Para bhikkhu, apa yang tidak kekal, dukkha, bersifat berubah-ubah, akankah seorang siswa mulia yang terpelajar di sini menganggapnya sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau suatu diri] sebagai ada [di dalamnya]?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Tidak, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha berkata]: “Perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran juga seperti ini. Oleh karena itu, para bhikkhu, apa pun bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semua darinya sepenuhnya bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran juga seperti ini.

“Seorang siswa mulia yang terpelajar yang menyelidikinya dengan cara ini menjadi kecewa dengan bentuk jasmani, menjadi kecewa dengan perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran. Karena kecewa, ia tidak menyenanginya. Karena tidak menyenanginya, ia terbebaskan darinya. Karena terbebaskan, [ia memahami]: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’”

Kemudian para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.