Saṃyuktāgama

85. Kotbah tentang Dengan Benar Menyelidiki

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu, apakah yang seseorang tidak anggap sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau diri] sebagai ada [di dalamnya]?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā adalah akar Dharma, mata Dharma, landasan Dharma. Semoga Beliau mengajarkan kami! Setelah mendengarkannya, para bhikkhu akan menerimanya dengan hormat seperti yang telah Beliau ajarkan.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama pada apa yang akan Ku-katakan kepada kalian. Seseorang tidak menganggap bentuk jasmani sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau diri] sebagai ada [di dalamnya]. Seseorang tidak [menganggap] perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran… juga seperti ini.

“Para bhikkhu, apakah bentuk jasmani kekal atau tidak kekal?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Tidak kekal, Sang Bhagavā.”

Sang Buddha berkata: “Para bhikkhu, apa yang tidak kekal, apakah ia dukkha?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Dukkha, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha berkata]: “Para bhikkhu, apa yang tidak kekal, dukkha, bersifat berubah-ubah, akankah seorang siswa mulia yang terpelajar di sini menganggapnya sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau diri] sebagai ada [di dalamnya]?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Tidak, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha berkata]: “Perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran juga seperti ini. Oleh sebab itu, para bhikkhu, apa pun bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semua darinya adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran juga seperti ini.”

“Para bhikkhu, seorang siswa mulia yang terpelajar menyelidiki lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati sebagai tanpa suatu diri dan tanpa apa yang menjadi milik suatu diri. Seseorang yang menyelidiki mereka dengan cara ini tidak melekat pada apa pun di seluruh dunia. Seseorang yang tidak melekat pada apa pun tidak terikat pada apa pun. Karena tidak terikat pada apa pun, ia secara pribadi merealisasi Nirvāṇa, [dengan mengetahui]: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.