Saṃyutta Nikāya

47. Kelompok Khotbah tentang Penegakan Perhatian

46. Pengendalian Pātimokkha

Seorang bhikkhu mendatangi Sang Bhagavā, memberi hormat kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau: “Yang Mulia, sudilah Bhagavā mengajarkan Dhamma secara singkat kepadaku, sehingga, setelah mendengarkan Dhamma dari Bhagavā, aku dapat berdiam sendirian, mengasingkan diri, dengan rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh.”

“Kalau begitu, bhikkhu, murnikanlah permulaan kondisi-kondisi bermanfaat. Dan apakah permulaan kondisi-kondisi bermanfaat? Di sini, bhikkhu, berdiamlah dengan terkendali oleh pengendalian Pātimokkha, sempurna dalam perilaku baik dan dalam wilayah yang selayaknya, melihat bahaya dalam pelanggaran terkecil. Setelah menerima latihan, berlatih di dalamnya. Ketika, bhikkhu, engkau berdiam dengan terkendali oleh pengendalian Pātimokkha … melihat bahaya dalam pelanggaran terkecil, maka, dengan berdasarkan pada moralitas, kokoh di atas moralitas, engkau harus mengembangkan empat penegakan perhatian.

“Apakah empat ini? Di sini, bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan jasmani dalam jasmani … perasaan dalam perasaan … pikiran dalam pikiran … fenomena dalam fenomena, tekun, memahami dengan jernih, penuh perhatian, setelah melenyapkan ketamakan dan ketidak-senangan sehubungan dengan dunia.

“Jika, bhikkhu, dengan berdasarkan pada moralitas, kokoh di atas moralitas, engkau mengembangkan empat penegakan perhatian ini sedemikian, maka apakah malam atau siang, engkau dapat mengharapkan hanya kemajuan dalam kondisi-kondisi bermanfaat, bukan kemunduran.”

Kemudian bhikkhu itu, setelah senang dan gembira mendengar penjelasan Sang Bhagavā, bangkit dari duduknya … Dan bhikkhu itu menjadi salah satu di antara para Arahant.