Saṃyutta Nikāya

55. Kelompok Khotbah tentang Memasuki-Arus

27. Anāthapiṇḍika (2)

Pembukaan sutta ini sama seperti sutta sebelumnya, dengan perbedaan bahwa Anāthapiṇḍika memanggil Ānanda, hingga:

“Aku tidak dapat bertahan, Yang Mulia, aku tidak menjadi lebih baik. Perasaan sakit yang kuat meningkat, bukan mereda, dan meningkatnya, bukan meredanya, terlihat.”

“Perumah tangga, bagi kaum duniawi yang tidak terpelajar yang memiliki empat hal, ada kekhawatiran, ada kegentaran, ada ketakutan pada kematian mendadak. Apakah empat ini?

“Di sini, perumah tangga, kaum duniawi yang tidak terpelajar memiliki ketidak-yakinan terhadap Sang Buddha, dan ketika ia merenungkan dalam dirinya ketidak-yakinan terhadap Sang Buddha itu, maka ada kekhawatiran, ada kegentaran, ada ketakutan pada kematian mendadak.

“Kemudian, perumah tangga, kaum duniawi yang tidak terpelajar memiliki ketidak-yakinan terhadap Dhamma, dan ketika ia merenungkan dalam dirinya ketidak-yakinan terhadap Dhamma itu, maka ada kekhawatiran, ada kegentaran, ada ketakutan pada kematian mendadak.

“Kemudian, perumah tangga, kaum duniawi yang tidak terpelajar memiliki ketidak-yakinan terhadap Saṅgha, dan ketika ia merenungkan dalam dirinya ketidak-yakinan terhadap Saṅgha itu, maka ada kekhawatiran, ada kegentaran, ada ketakutan pada kematian mendadak.

“Kemudian, perumah tangga, kaum duniawi yang tidak terpelajar adalah tidak bermoral, dan ketika ia merenungkan dalam dirinya ketidak-bermoralan itu, maka ada kekhawatiran, ada kegentaran, ada ketakutan pada kematian mendadak.

“Bagi kaum duniawi yang tidak terpelajar yang memiliki empat hal, maka ada kekhawatiran, ada kegentaran, ada ketakutan pada kematian mendadak.

“Perumah tangga, siswa mulia yang terpelajar yang memiliki empat hal ini tidak ada kekhawatiran, tidak ada kegentaran, tidak ada ketakutan pada kematian mendadak. Apakah empat ini?

“Di sini, perumah tangga, siswa mulia yang terpelajar memiliki keyakinan kuat pada Sang Buddha sebagai berikut: ‘Sang Bhagavā adalah … guru para deva dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Suci.’ Ketika ia merenungkan keyakinan kuat pada Sang Buddha itu, maka tidak ada kekhawatiran, tidak ada kegentaran, tidak ada ketakutan pada kematian mendadak.

“Kemudian, perumah tangga, siswa mulia yang terpelajar memiliki keyakinan kuat pada Dhamma sebagai berikut: ‘Dhamma telah dibabarkan dengan baik oleh Sang Bhagavā … untuk dialami secara pribadi oleh para bijaksana.’ Ketika ia merenungkan keyakinan kuat dalam Dhamma itu, maka tidak ada kekhawatiran, tidak ada kegentaran, tidak ada ketakutan pada kematian mendadak.

“Kemudian, perumah tangga, siswa mulia yang terpelajar memiliki keyakinan kuat pada Saṅgha sebagai berikut: ‘Saṅgha para siswa Sang Bhagavā telah mempraktikkan jalan yang baik … lahan jasa yang tiada taranya di dunia.’ Ketika ia merenungkan dalam dirinya keyakinan kuat dalam Saṅgha itu, maka tidak ada kekhawatiran, tidak ada kegentaran, tidak ada ketakutan pada kematian mendadak.

“Kemudian, perumah tangga, siswa mulia yang terpelajar memiliki moralitas yang disenangi para mulia, tidak rusak … mengarah menuju konsentrasi. Ketika ia merenungkan dalam dirinya moralitas yang disenangi para mulia itu, maka tidak ada kekhawatiran, tidak ada kegentaran, tidak ada ketakutan pada kematian mendadak.

“Bagi siswa mulia yang terpelajar yang memiliki empat hal ini, tidak ada kekhawatiran, tidak ada kegentaran, tidak ada ketakutan pada kematian mendadak.”

“Aku tidak takut, Yang Mulia Ānanda, mengapa aku harus takut? Karena, Yang Mulia, aku memiliki keyakinan kuat pada Sang Buddha … pada Dhamma … pada Saṅgha. Dan sehubungan dengan aturan latihan bagi umat awam yang diajarkan oleh Sang Bhagavā, aku tidak melihat dalam diriku ada yang telah dilanggar.”

“Suatu keuntungan bagimu, perumah tangga! Sungguh suatu keuntungan bagimu, perumah tangga! Engkau baru saja menyatakan, perumah tangga, buah Memasuki-Arus.”