Udāna 2.7

Ekaputtasuttaṃ 17

Putra Tunggal

Demikianlah yang kudengar: pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di dekat Sāvatthī, di Hutan Jeta, di vihara Anāthapiṇḍika.

Pada saat itu putra tunggal dari seorang umat awam tertentu, yang sangat dicintai dan disayangi, telah meninggal dunia. Kemudian sejumlah umat awam dengan pakaian dan rambut basah, mendatangi Sang Bhagavā di siang hari, dan setelah mendekat dan bersujud kepada Sang Bhagavā, mereka duduk di satu sisi.

Sambil duduk di satu sisi Sang Bhagavā berkata kepada para umat awam itu: “Mengapakah kalian, umat-umat awam, dengan pakaian dan rambut basah, datang ke sini di siang hari ini?”

Ketika hal ini dikatakan umat awam itu menjawab kepada Sang Bhagavā: “Putra tunggalku yang tercinta dan tersayang, Yang Mulia, telah meninggal dunia. Itulah sebabnya mengapa kami, dengan pakaian dan rambut basah, datang ke sini di siang hari ini.”

Kemudian Sang Bhagavā, memahami pentingnya hal ini, pada kesempatan itu mengucapkan ucapan agung ini:

Para deva dan banyak manusia terikat oleh kepuasan dalam bentuk-bentuk yang disayangi,
Menderita dan letih, mereka jatuh ke dalam kekuasaan Raja Kematian.

Tentu saja mereka yang tekun siang dan malam, meninggalkan bentuk-bentuk yang disayangi—
Mereka dengan pasti menggali akar penderitaan (yang merupakan) umpan Kematian, yang sangat sulit dilampaui.”