Udāna 6.4

Paṭhamanānātitthiyasuttaṃ 54

Khotbah Pertama tentang Berbagai Sektarian

Demikianlah yang kudengar: pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di dekat Sāvatthī, di Hutan Jeta, di vihara Anāthapiṇḍika.

Pada saat itu berbagai sektarian, petapa, brāhmaṇa, dan pengembara sedang menetap di Sāvatthī, menganut berbagai pandangan, berbagai kegemaran, berbagai kecenderungan, tunduk pada kebergantungan pada berbagai pandangan, (seperti):

Terdapat beberapa petapa dan brāhmaṇa yang menganut pendapat ini, pandangan ini: “Dunia adalah abadi—hanya ini yang benar, (semua) yang lainnya adalah dungu.”

Tetapi terdapat beberapa petapa dan brāhmaṇa yang menganut pendapat ini, pandangan ini: “Dunia adalah tidak abadi—hanya ini yang benar, (semua) yang lainnya adalah dungu.”

Terdapat beberapa petapa dan brāhmaṇa yang menganut pendapat ini, pandangan ini: “Dunia adalah terbatas—hanya ini yang benar, (semua) yang lainnya adalah dungu.”

Tetapi terdapat beberapa petapa dan brāhmaṇa yang menganut pendapat ini, pandangan ini: “Dunia adalah tidak terbatas—hanya ini yang benar, (semua) yang lainnya adalah dungu.”

Terdapat beberapa petapa dan brāhmaṇa yang menganut pendapat ini, pandangan ini: “Ada jiwa, (juga) ada badan—hanya ini yang benar, (semua) yang lainnya adalah dungu.”

Tetapi terdapat beberapa petapa dan brāhmaṇa yang menganut pendapat ini, pandangan ini: “Jiwa adalah satu hal, badan adalah hal lainnya—hanya ini yang benar, (semua) yang lainnya adalah dungu.”

Terdapat beberapa petapa dan brāhmaṇa yang menganut pendapat ini, pandangan ini: “Individu ini ada setelah kematian—hanya ini yang benar, (semua) yang lainnya adalah dungu.”

Tetapi terdapat beberapa petapa dan brāhmaṇa yang menganut pendapat ini, pandangan ini: “Individu ini tidak ada setelah kematian—hanya ini yang benar, (semua) yang lainnya adalah dungu.”

Terdapat beberapa petapa dan brāhmaṇa yang menganut pendapat ini, pandangan ini: “Individu ini ada dan tidak ada setelah kematian—hanya ini yang benar, (semua) yang lainnya adalah dungu.”

Tetapi terdapat beberapa petapa dan brāhmaṇa yang menganut pendapat ini, pandangan ini: “Individu ini bukan ada juga bukan tidak ada setelah kematian—hanya ini yang benar, (semua) yang lainnya adalah dungu.”

Mereka saling beradu pendapat, bertengkar, berselisih, menyerang satu sama lain dengan kata-kata tajam, (dengan mengatakan): “Ini adalah Dhamma, itu bukan Dhamma; ini bukan Dhamma, itu adalah Dhamma.”

Kemudian sejumlah bhikkhu, setelah merapikan jubah di pagi hari, setelah mengambil mangkuk dan jubahnya, memasuki Sāvatthī untuk menerima dana makanan.

Setelah berjalan menerima dana makanan di Sāvatthī, ketika kembali dari perjalanan menerima dana makanan setelah makan, mereka mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah mendekat dan bersujud kepada Sang Bhagavā, mereka duduk di satu sisi.

Sambil duduk di satu sisi para bhikkhu itu berkata kepada Sang Bhagavā: “Di sini, Yang Mulia, berbagai sektarian, petapa, brāhmaṇa, dan pengembara sedang menetap di Sāvatthī, menganut berbagai pandangan, berbagai kegemaran, berbagai kecenderungan, tunduk pada kebergantungan pada berbagai pandangan, (seperti):

Terdapat beberapa petapa dan brāhmaṇa yang menganut pendapat ini, pandangan ini: “Dunia adalah abadi—hanya ini yang benar, (semua) yang lainnya adalah dungu.”

Tetapi terdapat beberapa petapa dan brāhmaṇa yang menganut pendapat ini, pandangan ini: “Dunia adalah tidak abadi—hanya ini yang benar, (semua) yang lainnya adalah dungu.”

Terdapat beberapa petapa dan brāhmaṇa yang menganut pendapat ini, pandangan ini: “Dunia adalah terbatas—hanya ini yang benar, (semua) yang lainnya adalah dungu.”

Tetapi terdapat beberapa petapa dan brāhmaṇa yang menganut pendapat ini, pandangan ini: “Dunia adalah tidak terbatas—hanya ini yang benar, (semua) yang lainnya adalah dungu.”

Terdapat beberapa petapa dan brāhmaṇa yang menganut pendapat ini, pandangan ini: “Ada jiwa, (juga) ada badan—hanya ini yang benar, (semua) yang lainnya adalah dungu.”

Tetapi terdapat beberapa petapa dan brāhmaṇa yang menganut pendapat ini, pandangan ini: “Jiwa adalah satu hal, badan adalah hal lainnya—hanya ini yang benar, (semua) yang lainnya adalah dungu.”

Terdapat beberapa petapa dan brāhmaṇa yang menganut pendapat ini, pandangan ini: “Individu ini ada setelah kematian—hanya ini yang benar, (semua) yang lainnya adalah dungu.”

Tetapi terdapat beberapa petapa dan brāhmaṇa yang menganut pendapat ini, pandangan ini: “Individu ini tidak ada setelah kematian—hanya ini yang benar, (semua) yang lainnya adalah dungu.”

Terdapat beberapa petapa dan brāhmaṇa yang menganut pendapat ini, pandangan ini: “Individu ini ada dan tidak ada setelah kematian—hanya ini yang benar, (semua) yang lainnya adalah dungu.”

Tetapi terdapat beberapa petapa dan brāhmaṇa yang menganut pendapat ini, pandangan ini: “Individu ini bukan ada juga bukan tidak ada setelah kematian—hanya ini yang benar, (semua) yang lainnya adalah dungu.”

Mereka saling beradu pendapat, bertengkar, berselisih, menyerang satu sama lain dengan kata-kata tajam, (dengan mengatakan): “Ini adalah Dhamma, itu bukan Dhamma; ini bukan Dhamma, itu adalah Dhamma.’”

“Para pengembara sekte lain, para bhikkhu, adalah buta, tanpa penglihatan, mereka tidak mengetahui apa yang baik, mereka tidak mengetahui apa yang tidak baik, mereka tidak mengetahui apa yang adalah Dhamma, mereka tidak mengetahui apa yang bukan Dhamma.

Mereka, tanpa mengetahui apa yang baik, tanpa mengetahui apa yang tidak baik, tanpa mengetahui apa yang adalah Dhamma, tanpa mengetahui apa yang bukan Dhamma, saling beradu pendapat, bertengkar, berselisih, menyerang satu sama lain dengan kata-kata tajam, (dengan mengatakan): “Ini adalah Dhamma, itu bukan Dhamma; ini bukan Dhamma, itu adalah Dhamma.’

Sebelumnya, para bhkkhu, di Sāvatthī ini terdapat seorang Raja. Kemudian Raja itu, para bhikkhu, berkata kepada seseorang: ‘Pergilah, teman, dan kumpulkan di satu tempat sebanyak mungkin orang-orang yang buta sejak lahir di Sāvatthī .’

“Baik, Baginda’, orang itu berkata, dan setelah menjawab Sang Raja, dan setelah mengumpulkan semua orang yang buta sejak lahir di Sāvatthī, ia mendatangi Raja, dan setelah sampai ia berkata kepada Raja: ‘Semua orang yang buta sejak lahir di Sāvatthī, Baginda, telah berkumpul.’

‘Perlihatkan seekor gajah, Aku katakan, kepada orang-orang yang buta sejak lahir itu.’ ‘Baik, Baginda’, orang itu berkata, dan setelah menjawab Sang Raja, ia memperlihatkan seekor gajah kepada orang-orang yang terlahir buta itu, (dengan berkata): ‘Ini adalah seekor gajah, orang-orang buta!’

Kepada beberapa dari orang-orang yang buta sejak lahir itu ia memperlihatkan kepala gajah, (dengan berkata): ‘Ini adalah seekor gajah, orang-orang buta!’

Kepada beberapa dari orang-orang yang buta sejak lahir itu ia memperlihatkan telinga gajah, (dengan berkata): ‘Ini adalah seekor gajah, orang-orang buta!’

Kepada beberapa dari orang-orang yang buta sejak lahir itu ia memperlihatkan gading gajah, (dengan berkata): ‘Ini adalah seekor gajah, orang-orang buta!’

Kepada beberapa dari orang-orang yang buta sejak lahir itu ia memperlihatkan belalai gajah, (dengan berkata): ‘Ini adalah seekor gajah, orang-orang buta!’

Kepada beberapa dari orang-orang yang buta sejak lahir itu ia memperlihatkan badan gajah, (dengan berkata): ‘Ini adalah seekor gajah, orang-orang buta!’

Kepada beberapa dari orang-orang yang buta sejak lahir itu ia memperlihatkan kaki gajah, (dengan berkata): ‘Ini adalah seekor gajah, orang-orang buta!’

Kepada beberapa dari orang-orang yang buta sejak lahir itu ia memperlihatkan paha gajah, (dengan berkata): ‘Ini adalah seekor gajah, orang-orang buta!’

Kepada beberapa dari orang-orang yang buta sejak lahir itu ia memperlihatkan ekor gajah, (dengan berkata): ‘Ini adalah seekor gajah, orang-orang buta!’

Kepada beberapa dari orang-orang yang buta sejak lahir itu ia memperlihatkan ujung ekor gajah, (dengan berkata): ‘Ini adalah seekor gajah, orang-orang buta!’

Kemudian, para bhikkhu, orang itu, setelah memperlihatkan gajah kepada orang-orang yang buta sejak lahir itu, mendatangi Raja, dan setelah sampai ia berkata kepada Raja:

‘Orang-orang yang buta sejak lahir itu telah melihat gajah, Baginda, sekarang adalah waktunya bagimu untuk melakukan apapun yang engkau pikirkan, Baginda.’

Kemudian Raja itu, para bhikkhu, mendatangi orang-orang yang buta sejak lahir itu, dan setelah mendekat ia berkata kepada mereka: ‘Apakah kalian melihat gajah itu, orang-orang buta?’

‘Ya, Baginda, kami melihat gajah itu.’

‘Maka bicaralah, orang-orang buta, (dan jelaskan): “seperti apakah gajah itu.”’

Orang-orang yang buta sejak lahir yang telah melihat kepala gajah, para bhikkhu, berkata: ‘Demikianlah gajah, Baginda, seperti kendi.’

Orang-orang yang buta sejak lahir yang telah melihat telinga gajah, para bhikkhu, berkata: ‘Demikianlah gajah, Baginda, seperti kipas.’

Orang-orang yang buta sejak lahir yang telah melihat gading gajah, para bhikkhu, berkata: ‘Demikianlah gajah, Baginda, seperti mata bajak.’

Orang-orang yang buta sejak lahir yang telah melihat belalai gajah, para bhikkhu, berkata: ‘Demikianlah gajah, Baginda, seperti galah bajak.’

Orang-orang yang buta sejak lahir yang telah melihat badan gajah, para bhikkhu, berkata: ‘Demikianlah gajah, Baginda, seperti lumbung.’

Orang-orang yang buta sejak lahir yang telah melihat kaki gajah, para bhikkhu, berkata: ‘Demikianlah gajah, Baginda, seperti tiang.’

Orang-orang yang buta sejak lahir yang telah melihat paha gajah, para bhikkhu, berkata: ‘Demikianlah gajah, Baginda, seperti lesung.’

Orang-orang yang buta sejak lahir yang telah melihat ekor gajah, para bhikkhu, berkata: ‘Demikianlah gajah, Baginda, seperti penumbuk.’

Orang-orang yang buta sejak lahir yang telah melihat ujung ekor gajah, para bhikkhu, berkata: ‘Demikianlah gajah, Baginda, seperti sapu.’ Dan mereka, (dengan mengatakan): ‘Ini adalah gajah, itu bukan gajah; ini bukan gajah, itu adalah gajah,’ saling memukul satu sama lain dengan tinju mereka, dan dengan itu, para bhikkhu, Sang Raja gembira.

Demikian pula, para bhikkhu, para pengembara sekte lain adalah buta, tanpa penglihatan, mereka tidak mengetahui apa yang baik, mereka tidak mengetahui apa yang tidak baik, mereka tidak mengetahui apa yang adalah Dhamma, mereka tidak mengetahui apa yang bukan Dhamma.

Mereka, tanpa mengetahui apa yang baik, tanpa mengetahui apa yang tidak baik, tanpa mengetahui apa yang adalah Dhamma, tanpa mengetahui apa yang bukan Dhamma, saling beradu pendapat, bertengkar, berselisih, menyerang satu sama lain dengan kata-kata tajam, (dengan mengatakan): “Ini adalah Dhamma, itu bukan Dhamma; ini bukan Dhamma, itu adalah Dhamma.’

Kemudian Sang Bhagavā, memahami pentingnya hal ini, pada kesempatan itu mengucapkan ucapan agung ini:

“Beberapa petapa dan brāhmaṇa, tampaknya, melekati (pandangan-pandangan) ini,
Setelah melekatinya, mereka berselisih, (seperti) orang-orang yang (hanya) melihat satu sisi.”