Udāna 7.6

Taṇhākkhayasuttaṃ 66

Khotbah tentang Hancurnya Ketagihan

Demikianlah yang kudengar: pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di dekat Sāvatthī, di Hutan Jeta, di vihara Anāthapiṇḍika.

Pada saat itu Yang Mulia Aññātakoṇḍañña (Koṇḍañña, ia-yang-memahami) sedang duduk tidak jauh dari Sang Bhagavā, setelah duduk bersila, dan menegakkan badannya, merefleksikan kebebasannya sendiri melalui kehancuran ketagihan sepenuhnya.

Sang Bhagavā melihat Yang Mulia Aññātakoṇḍañña duduk tidak jauh dari Beliau, setelah duduk bersila, dan menegakkan badannya, merefleksikan kebebasannya sendiri melalui kehancuran ketagihan sepenuhnya.

Kemudian Sang Bhagavā, memahami pentingnya hal ini, pada kesempatan itu mengucapkan ucapan agung ini:

“Padanya yang tanpa akar, tanpa tanah, dan tanpa dedaunan, bagaimanakah tanaman rambat?
Yang kokoh bebas dari ikatan—siapakah yang (cukup) layak untuk mencelanya?
Para deva memujinya, dan ia juga dipuji oleh Brahma.”